Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Neo Feodalisme, Kok Bisa?! - Karya Tulis

Feodalisme (Ilustrasi/Net)

Feodalisme kok mengakar pada tubuh bangsa Indonesia hari ini. Apalagi para mahasiswa yang disebut-sebut kaum intelektual, malah suka tampak terang-terangan menampilkan corak feodalisme terlepas mereka menyadari atau tidak.

Budaya luhur bangsa Nusantara memang kental dengan tatakrama-nya. Tapi mohon telitilah untuk dapat membatasi antara feodalisme dengan tatakrama itu jelas perbedaannya.

Kita memang haruslah punya sopan santun ketika bersua dengan pejabat pemerintah dari tingkat Desa sampai Negara--yg notabene Beliau-beliau itu relatif lebih tua usianya. Tapi lah Kita tidak patut merasa bangga berlebihan, berasa mendapatkan pencapaian yang teramat tinggi atas hal itu.

Bagaimana bisa Kita beranggapan bahwa para pejabat adalah orang-orang mulia, orang-orang kasta tertinggi di negeri ini, sampai-sampai disebut penguasa, padahal toh Kita hidup di peradaban demokrasi.

Percayalah, 'mindset' seperti itu akan sangat merusak tatanan masyarakat di negara ini. Satu, bisa membuat Kita yang rakyat ini kehilangan kedaulatannya sendiri di negara demokrasi. 

Selanjutnya, Kita malah akan memupuk orientasi politik yang 'fallacy', karena dengan menyangka bahwa para pejabat pemerintahan itu adalah orang mulia, maka Kita akan mendorong diri Kita menjadi pejabat supaya bisa menjadi orang yang mulia. 

Atau bila pejabat pemerintahan itu diposisikan sebagai orang berkasta tinggi, maka Kita akan termotivasi bagaimana pun caranya dapat menjadi pejabat sehingga merasa sukses. 

Dan bila pejabat pemerintahan itu Kita sebut sebagai penguasa, maka Kita akan bersusah payah memetakan siasat biar dapat menduduki kursi jabatan supaya kelak Kita yang akan menguasai negeri ini.

Prilaku pejabat yang terkesan seenaknya, eksklusif, perlente, glamor, seharusnya Kita soroti dengan penuh kebijaksanaan terlebih lagi dengan realitas masyarakat yang masih jauh dalam kondisi mapan sebagai suatu bangsa. 

Pejabat itu sama halnya dengan pengurus di organisasi. Mereka itu orang-orang pilihan yang diberi amanat untuk mengurusi organisasi skala nasional (negara). Bukan jadi sebagai raja yang bisa memerintah semaunya, yang sulitnya minta ampun untuk ditemui, yang perlu hadir ke muka umum sekehendaknya sendiri.

Pejabat itu bukan raja! Pejabat itu sama saja dengan Kita. Bedanya Beliau mendapatkan amanat khusus untuk mengurusi negara ini pada prioritas tertentu. Dan Kita adalah masyarakat yang hanya mampu untuk selalu duduk bersama dengan Beliau-beliau itu dan sanggup saling membantu satu sama lain.

Jika ada pejabat (dari tingkat Desa sampai Negara) yang me-raja, idealnya Kita peringatkan, bukan malah Kita sanjung-sanjung. 

Mahasiswa yang mempunyai potensi besar untuk dapat bertemu dengan pejabat pemerintahan semestinya menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan berarti untuk menyampaikan peringatan apabila ada sesuatu hal yang perlu diperingatkan, bukan malah menjadi sebuah kebanggaan yang besar. Karena pejabat hanyalah orang yang patut dihormati, bukan disembah.


Pejabat bukan raja.

Budi Hikmah

Pengurus PB PERMATA