Covid-19 Menyerang Planet Yupiter - Karya Tulis

Budi Hikmah

Oleh: Budi Hikmah

Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PB PERMATA)


Sekolah tatap muka di Planet Yupiter gagal dilaksanakan tahun 2021 ini. Namun seorang Kuwu di Desa Ciyupi bernama Adam Piter, mempunyai program terobosan. Beliau membuka lahan di halaman rumahnya yang begitu luas itu, untuk dijadikan tempat kegiatan belajar mengajar.

Adam menghimbau masyarakat desanya: "Sekolah Dasar di Desa Kita, tutup! Tapi proses pendidikan di Kampung halaman ini tidak boleh berhenti! Kita tidak bisa membiarkan anak-anak Kita berkerumun di gedung sekolah itu, tapi Kita dapat mengizinkan orang-orang berbondong-bondong ke pasar, berkumpul di majlis-majlis, juga mengadakan hajatan demi hajatan yang ramai kedatangan banyak orang di tempat tinggal mereka sendiri. Itu adalah lelucon yang konyol!

Maka dari itu, mulai besok, seluruh anak-anak Kita yang usianya masih duduk di sekolah dasar, beserta guru-guru sebagai para pengajar, datanglah ke rumah Saya untuk melakukan aktivitas belajar mengajar seperti yang biasa kalian lakukan di sekolah. Saya harap, undangan ini dapat diindahkan oleh segenap masyarakat yang Saya cintai!"

Aktivitas belajar mengajar berjalan lancar di halaman rumah Adam Piter, Kuwu Desa. Ciyupi.

Dari jam 7 pagi sampai dengan jam 11 siang, Anak-anak seusia kelas 1 sampai 3 yang beraktivitas di sana. Sedangkan Anak-anak seusia kelas 4 sampai 6, mulai beraktivitas pukul 13.00 sampai dengan 17.00 WY (Waktu di Yupiter).

Namun baru Tiga hari aktivitas itu berjalan, kediamannya lantas didatangi pihak Pemerintahan Perserikatan Bangsa Yupiter.

"Apa Salah Saya? Sekolah di desa ini sudah Kami tutup! Mereka semua yang datang ke mari, hanyalah dalam rangka memenuhi undangan Saya. Di sini Kami sedang hajatan, bukan sedang sekolah!" Jelas Adam.

Pihak Pemerintah itu tersenyum, segera meminta perasmanan.

Alih-alih amplop berisikan uang, Adam Piter malah dihadiahi amplop berisi surat pemanggilan dari kepolisian serta pemecatan jabatan Kuwu.

Dan hari ini, di Planet Yupiter pun sedang ramai ribut-ribut soal penolakan vaksinasi Covid-19. Kabar yang paling viral adalah penolakan massal dari warga Provinsi Tegalpipit, yang mayoritas penduduknya ialah Suku Kabumian, yang notabene dikenal sebagai suatu suku bangsa yang primitif, konservatif radikal.

Idris Tazarus yang dianggap bertanggungjawab atas aksi terpimpin itu berhasil diciduk oleh aparat keamanan Pemerintahan Perserikatan Bangsa Yupiter. Sebagai Gubernur Provinsi Tegalpipit, Idris Tazarus hendak mengemukakan penjelasan sebab aksi penolakan tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, katanya.

"Sejak awal Kami sudah berjuang bersama-sama menghadapi pandemi ini. Kami melakukan karantina wilayah, mengoptimalisasi bekal untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup bersama. Dan sampai sekarang, Kami tetap melakukan pengondisian fisik prima guna senantiasa memelihara kesehatan. Karena Kami sadar bahwa menjaga kestabilan sistem imunitas tubuh dan menjaga kepanikan di dalam diri sehingga tidak lebay adalah kunci, yang cara membuka pintu keselamatannya itu sendiri ialah bertawakal kepada Sang Hyang Wenang, Tuhan Yang Maha Tunggal lagi Maha Agung.

Apakah Kami suka memakai masker? Ya, Kami menggunakannya ketika diperlukan. Karena hal itu adalah kebutuhan normatif. Namun apakah kesalahan Kami ketika menentukan sikap yaitu penolakan vaksinasi? Padahal Kami selalu mengantongi daun pandan saat hendak kemana-mana. Intinya Kita sadar untuk harus berusaha memastikan keadaan tubuh yang segar dan bersih. Di rumah-rumah, Kami menyimpan daun pandan pula. Kita pastikan kondisi yang segar dan bersih di setiap lingkungan. Kami mengonsumsi air jahe, baik saat mengalami gejala-gejala kesakitan maupun dikonsumsi rutin setiap hari sebagai tindakan preventif atau sebagai suplemen. Kami rutin mengonsumsi madu. Bahkan Kami menggunakan bawang merah untuk dijadikan pengharum ruangan kamar bagi seseorang yang mempunyai gejala sakit yang cukup serius. Bawang merah atau putih itu pun kerap dijadikan lalap, dan itu sangat signifikan buat kesehatan.

Bagi Kami, Covid-19 itu adalah flu yang ekstrem. Kita butuh asupan vitamin C yang ekstrem juga untuk melawannya. Sehingga setiap pagi, warga Kami bersarapan dengan me-lalap cabai rawit, 2 atau 3 buah.

Sebagai bangsa yang berdaulat, Kami punya budaya tersendiri untuk menghadapi pandemik. Terbukti, Masyarakat Tegalpipit tidak mempunyai catatan korban terpapar Covid-19.

Jika Pemerintahan Perserikatan Bangsa Yupiter boleh mengimpor vaksin dari Planet Bumi, mengapa Kami tidak boleh mendayagunakan warisan leluhur Kami itu yang juga merupakan hasil alam yang diambil dari Planet Bumi?"

Namun atas penjelasannya itu, Idris Tazarus malah dituduh hendak melakukan makar karena tidak mengindahkan kebijakan pemerintahan.

Sedangkan Idris bersikeras menyatakan bahwa sikapnya itu bukanlah suatu bentuk pembangkangan apalagi makar. Karena Ia pikir, kebijakan terkait pandemi Covid-19 itu sendiri hanyalah dikte dari Aliansi Penanganan Sicovid-19 (APES), suatu organisasi antariksa yang bertugas menangani pandemi Covid-19.

Bagi Idris Tazarus, APES adalah organisasi yang sarat konspirasi.

"APES membuat propaganda bahwa Covid-19 adalah virus yang baru, lalu mereka mengeluarkan obat untuk mengatasinya, apakah itu bukan konspirasi?!"

"APES melakukan penelitian, bukan propaganda!"

Pihak Pemerintahan sangat membantah argumentasi Idris Tazarus.

"Bagi Kami, jelas, bukan Covid-19 yang menyerang Yupiter, tetapi APES yang menyerang Yupiter. Dan Kami tidak mungkin mau tunduk kepada mereka, karena Kami adalah bangsa yang berdaulat, yang mempunyai kebudayaan (sendiri) dalam menyelesaikan segala sesuatu." Pungkas Idris Tazarus.

Pemerintah Perserikatan Bangsa Yupiter lantas menjatuhi hukuman penjara seumur hidup bagi Idris Tazarus dengan delik perkara upaya makar, sekaligus pemitnahan terhadap APES. Karena jelas, bagi Pemerintahan Perserikatan Bangsa Yupiter, APES adalah penyelamat peradaban umat manusia.

Namun segenap Masyarakat Tegalpipit yang turut melakukan penolakan vaksinasi, berbondong-bondong menyerahkan diri untuk menerima hukuman sama seperti Sesepuh mereka, Idris Tazarus.

Peristiwa peradilan Idris Tazarus yang ditayangkan langsung secara nasional itu pun, disoroti oleh seluruh warga negara. Yang lantas membuat mereka malah serentak untuk melakukan penolakan vaksinasi. Karena mereka pikir, mendayagunakan kembali hasil alam seperti yang diterangkan Idris Tazarus itu lebih logis dan realistis. Dan berupaya menyelidiki kembali tentang aktivitas politik APES juga adalah tindakan yang logis. Meskipun hukuman yang akan diterima mereka dari Pemerintahan Perserikatan Bangsa Yupiter, juga tampak logis.

Seperti Iblis, mereka semuanya malah merasa bergembira untuk menyambut suatu hukuman yang akan dinikmati secara bersama-sama. "Enggak apa-apa dihukum juga, barengan ini," selorohnya.

"APES akan memberikan anggaran dana untuk perluasan penjara," Gugup Presiden Pemerintahan Perserikatan Bangsa Yupiter, meninggalkan ruangan sidang.

Post a Comment

0 Comments