Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Seiring, Sejalan dan Seirama - Karya Tulis

 


Saya adalah orang yang menyukai kata-kata. Mudah sekali untuk dibuat takjub olehnya. Bahkan merupakan hal yang paling besar memengaruhi Saya dalam menjalani hidup ini. Kata-kata itu bukan hanya dapat dibuat indah, lebih jauh dari itu, juga mempunyai kekuatan. Sehingga rasanya mampu memberikan gairah dengan cara yang lain, begitu khas, sangat spesial bagiku.

"Cukup mengajak, jangan mengejek. Harus merangkul bukan memukul. Tinggi hati mendatangkan kecewa, rendah hati membuat bahagia."

Kata-kata yang dirangkai sesederhana itu, yang maksud Saya mempunyai kekuatan, yang mudah memengaruhi, yang begitu Saya sukai. Dan itu hanyalah gambaran kecil, karena sangat banyak jenis rangkaian kata lainnya yang dapat dirasakan keindahannya. Saya pikir hampir semua orang sebenarnya menyukai kata-kata, dan mudah dibuat takjub oleh rangkaiannya yang nampak indah semacam itu.

Mengapa Saya menyukai kata-kata? Mungkin karena sejak kecil Saya akrab atau diakrabkan dengan suatu lingkungan yang menyuguhkan seni berkata-kata. Saya akrab dengan lagu-lagu, puisi-puisi, kutipan-kutipan tokoh masyarakat yang dimuat di media massa, sampai pepatah dari orangtua yang mengutip para leluhurnya, seperti: "Kudu bisa nyumput di nu caang. Kudu bisa indit bari cicing. Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok. Ulah leumpang di nu hayang, ulah cicing di nu embung, tapi leumpang di nu kudu, cicing di nu ulah." Bahkan dewasa ini, meme banyak bertebaran di mana-mana. Itu sangat menarik.

Selain mampu memberikan kekuatan dan gairah secara singkat dari kata-kata yang Saya baca dan mudah Saya pahami sehingga Saya tarpacu; terpengaruh untuk merevolusi diri ke arah yang lebih baik, tak jarang juga Saya mengalami kesulitan dalam memahaminya, sampai menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mengakar. Namun itu justru membuat Saya semakin tertarik lagi oleh kata-kata. Saya semakin menyukainya. Saya sangat suka diajak berpikir. Dan itu sangat lumrah juga, sih, karena siapa coba manusia yang tak suka berpikir?

2016 Saya memulai perjalanan dengan masuk ke Perguruan Tinggi swasta. Niatnya supaya mampu bersilaturahmi dengan banyak orang sehingga sangat besar kemungkinan bagi Saya untuk mendapatkan ilmu lebih banyak lagi. Apakah sebelum 2016 Saya tidak melakukan sebuah perjalanan? Ya ada, sih. Maksudnya, sejak 2016 Saya membuka diri untuk berjalan ke luar rumah, belajar di alam lepas, bertemu makhluk-makhluk dengan skala yang lebih luas. Tidak 'kurung batokeun' lagi. Ehehehe...

Di tahun itu, benar, Saya bertemu dengan banyak orang yang memberikan inspirasi. Banyak untaian kata dan juga bahasa dari mereka semua yang memiliki kekuatan berarti. Sampai pada saat itu, Saya tergabung ke sebuah lembaga pers mahasiswa, yang kemudian membantu Saya dalam berkarya. Karena pada saat itu Saya berhasil mengekspresikan pengalaman sepanjang 2016 menjadi sebuah buku, berjudul: "Bukan Cerpen!?".

2017 Saya berjumpa dengan Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA), sebuah organisasi mahasiswa kedaerahan yang ada di Purwakarta. Di tahun sama, Saya berjumpa pula dengan para jurnalis mahasiswa se-Purwakarta, yang kemudian Kami bersepakat untuk membentuk sebuah komunitas jurnalistik bernama: Komunitas Pena dan Lensa, yang pada saat itu, ide nama tersebut lahir dari Saya. Bersama mereka Saya dapat berjumpa dengan orang-orang yang disebut sebagai sastrawan, cendekiawan, juga politikus yang ada di Purwakarta. Kata demi kata, bahasa-bahasa, semakin banyak yang Saya serap.

Dari sana pula, Saya dikenalkan dengan tokoh-tokoh yang giat dalam merangkai kata sekaligus menebarkan energi yang ada di dalamnya, seperti: Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, Gus Mus, sampai Emha Ainun Nadjib. Itu hanya beberapa di antaranya, dari banyaknya tokoh yang dikenalkan kawan-kawan kepada Saya. Ada juga sosok seperti Ki Asep Sunandar Sunarya almarhum dan Bah Uci (LQ Hendrawan), Beliau juga sangat menginspirasi Saya dalam hal mengolah kata-kata, dalam menyelidiki bahasa-bahasa. Daya berpikir mereka semua sangat mendalam. Ilmunya begitu luas. Kebijaksanaannya luhur.

2019 Saya mengenal Asik Baca Community. Sebuah komunitas literasi di Purwakarta yang fokusnya mereka pada pengajian sejarah. Sangat menarik. Dari sana, Saya jadi menyadari bahwa belajar sejarah bukanlah sekadar mempelajari kisah masa lalu. Karena belajar sejarah artinya mempelajari pohon kehidupan. Dan kisah masa lalu hanyalah bagian daripada sejarah. Seumpama benih yang merupakan bagian dari kehidupan pohon. Jargon: "Sejarah pasti terulang", itu jadi begitu mudah untuk Saya pahami. Karena kehidupan pohon cengek akanlah terus tumbuh; terulang, kecuali jika eksistensinya memang tidak dikehendaki lagi adanya. "Karena Kamu gak suka pedas!" misalkan. Namun meskipun sudah bertahun-tahun; berabad-abad ditiadakan, tetapi kalau kemudian Saya membutuhkan makanan yang pedas, buah cengek itu tinggal Saya upayakan lagi untuk ada, ya dengan cara menanamkan dulu benihnya-dirawat-sampai tumbuh; berbuah-panen.

Masih di tahun 2019, Saya juga mempunyai kesempatan berarti yaitu berjumpa dengan Emha Ainun Nadjib di majelis masyarakat maiyah: Kenduri Cinta, Jakarta. Saya pikir itu sebuah kesempatan besar yang luar biasa, padahal ternyata Kenduri Cinta sudah berjalan sejak 20 tahun lalu, menjadi rumah bagi manusia yang hamba Tuhan, menjadi ruang yang menerima semua orang bahkan mungkin terhadap orang yang tidak mau menerimanya sekalipun. Dan Emha Ainun Nadjib sendiri adalah sosok yang sederhana, yang dapat dijumpai siapa saja termasuk Saya. Sehingga pertemuan dengan Beliau rasanya tidak perlu terlalu didramatisir, karena untuk dapat berjumpa dengan Beliau, Saya memang tidak melalui drama untuk menjadikan diri Saya sebagai orang lain, atau dituntut oleh Beliau harus menjadi 'anu' dulu, cukup menjadi manusia saja.

Di sana, Saya menyaksikan betapa luasnya lautan ilmu itu. Maka sayang sekali kalau Saya tidak tergugah untuk berusaha mengambilnya meski segayung, atau hanya sekadar mencelupkan jari telunjuk untuk dapat menikmati kesejukannya. Dan sayang sekali juga rasanya jikalau Saya lantas merasa sombong dari ilmu yang telah Saya dapati, toh itu cuman sepersekian persen saja dari luasnya ilmu yang Ada. Apalagi betapa lucunya kalau Saya sampai membuat sumur di lautan ilmu itu, kemudian memaksakan orang lain untuk mengambil air ilmu dari apa yang sudah Saya perbuat itu. ihihihiii

"Kita harus belajar mengenali Ibu. Sehingga Kita bisa belajar ke Ibu. Karena semua hal mempunyai Ibunya, mempunyai sumbernya, punya asal-usulnya. Al-fatihah juga kan ummul kitab, artinya ibunya kitab al-quran." Kurang lebih, itu yang pernah Saya dengar langsung dari Emha Ainun Nadjib saat maiyahan di Kenduri Cinta. Mungkin Beliau juga acapkali menyampaikan perihal itu di ruang dan waktu yang lain. Rangkaian kata itu sangat membekas buat Saya. Ditambah Beliau senantiasa mengamanati bahwa: Kita mesti mempunyai kedaulatan berpikir. Yang terpenting, setiap pembacaanmu dapat mengantarkanmu menjadi lebih baik, lebih bijaksana, menyadarkanmu bahwa Allah begitu dekat dengan Kita. Ihsan.

Pada tahun 1988, Sosok yang akrab disapa Cak Nun ini pernah membuat puisi berjudul: Muhammadkan Hamba Yaa Rabbi. Sebuah rangkaian kata yang begitu dahsyat Saya baca. Namun Beliau menceritakan, tidak sedikit tokoh-tokoh yang bergelar 'ulama' pada saat itu, justru memberikan tanggapan yang berbeda dengan Saya. Bahkan mungkin ada yang menganggap karys itu sesat-menyesatkan. Dari sana, Saya mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua maksud baik akan dapat diterima baik juga oleh orang lain. Ternyata ada saja orang-orang yang kurang tertarik dengan kata-kata sehingga enggan sama sekali untuk menyelaminya.

Di tengah kegaduhan pro-kontra kata khilafah di tubuh bangsa Indonesia akhir-akhir ini, Cak Nun membeberkan pandangannya terkait hal tersebut. Bahwa khilafah adalah kata jamak dari kata kholifah. Seperti kata 'Kami' yang menjadi keniscayaan dari setiap 'Aku' yang bersatu dalam kesamaan kehendak; visi-misi. Dan kata kholifah itu sendiri merupakan pangkat dan jabatan manusia yang disematkan langsung oleh Tuhan. Kata kholifah berangkat dari kata kholfun, artinya yang berjalan di belakang. Jadi kholifah menurut Beliau adalah orang yang berjalan di belakang Tuhan. Seseorang yang dipimpin atau terpimpin oleh-Nya. Pribadi yang diberi amanat untuk memakmurkan bumi, mengelola kehidupan di bawah sistem kepemimpinan Tuhan.

Betapa luar biasanya kata-kata yang diuraikan Cak Nun itu. Sangat mencerahkan Saya. Membawa Saya keluar dari arena perdebatan kepentingan golongan secara nasional yang tampaknya mereka tidak mau membaca sesuatu hal secara objektif. Serta membukakan gerbang logika Saya bagaimana untuk mampu mengelaborasi sebuah kata. Mengajarkan Saya untuk tidak perlu mempunyai ketakutan berlebihan dalam mengemukakan pendapat yang mungkin anti-mainstream. Prinsipnya, temukan ibu persoalannya.

Dari sana, Saya pikir kata kholifah dan ihsan itu mempunyai amanat yang sama. Bagaimana Kita mesti dapat mengenali Tuhan, menyadari bahwa Dia senantiasa membersamai Kita, mengenali segenap kehendak-Nya, sehingga kehendak Kita selaras dengan kehendak-Nya dalam mengarungi kehidupan ini, seiring sejalan seirama dengan-Nya.

Sebagaimana Nabi dan Rasul, yang dalam perjalanan hidupnya hanya melakukan apa yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Nabi yang Saya pahami, adalah sebuah kata untuk menunjukkan bahwa seseorang mendapatkan cahaya ilmu kehidupan, anugerah dari Tuhan yakni wahyu. Sedang rasul adalah sebuah kata untuk menunjukkan bahwa seseorang itu diamanahi Tuhan. Yang intinya, Nabi dan Rasul Allah adalah seseorang yang hidupnya di bawah sistem kepemimpinan Tuhan, yang hidupnya seiring sejalan seirama dengan-Nya. Karena Nabi dan Rasul adalah juga seorang kholifah di muka bumi ini, serta tentunya merupakan sebaik-baiknya orang yang ihsan.

Sebagai umat, Saya merasa, amanat yang didapat itu demikian pula adanya. Kata umat itu aslinya dari bahasa arab: ummah. Menurut Saya, itu berasal dari kata umi yang berarti ibu atau induk. Sehingga ummah itu maksudnya orang yang menginduk ke-- pada hal ini menginduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga amanatnya jelas bahwa Saya atau Kita sebagai umat ini mestilah berjalan sebagimana kehendak perjalanan-Nya. Kita mesti seiring sejalan seirama dengan-Nya. Menjadi kholifah. Dengan penuh kesadaran bahwa Dia senantiasa membersamai Kita. Ihsan.

Adapun sebagai jamaah. Saya pikir amanat yang diembannya sama sahaja. Karena Saya memaknai kata jamaah itu begini: Ja artinya menjadi, maa artinya bersama, ha itu menunjukkan subjek yaitu Allah. Sehingga jamaah menurut Saya adalah orang yang menjadikan dirinya bersama Allah, dalam arti seseorang yang mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak-Nya, atau berupaya sungguh-sungguh agar kehendaknya sama dengan kehendak-Nya; bertaqwa, seiring sejalan seirama dengan-Nya. Menjadi kholifah. Menyadari bahwa Dia senantiasa membersamai setiap diri. Ihsan.

Dan jannah, yang merupakan sebuah kata untuk dijadikan sebagai hadiah bagi orang-orang yang bertaqwa, Saya pun mempunyai pemaknaan yang lain tentangnya. Jannah itu dari huruf Jim yang dimaknai 'menjadi', huruf Nun yang dimaknai 'melakukan', huruf Ha yang dimaknai sebagai 'subjek' yaitu Allah. Maka jannah bermakna seseorang yang menjadikan dirinya melakukan apa-apa yang dikehendaki Allah. Kehidupannya mengalir pada sungai keridhoan Allah. Begitu tenang dan nyaman dalam keistiqomahan, tanpa merasa terbebani, apalagi melawan arus. Hidup seiring sejalan seirama dengan-Nya. Sebagai kholifah. Menyadari bahwa Tuhan senantiasa membersamainya. Ihsan.

Fitrah manusia adalah menjadi kholifah Allah di muka bumi ini. Dari kata fatir yang artinya pencipta, fitrah berarti penciptaan-Nya. Jadi fitrah manusia maksudnya konsep penciptaan Tuhan pada manusia. Yaitu, manusia diciptakan-Nya untuk menjadi kholifah-Nya di muka bumi. Untuk menjadi pribadi yang mampu mengelola bumi ini di bawah sistem kepemimpinan Tuhan.

Idiom idul fitri merupakan seruan Tuhan untuk manusia. Hanya untuk manusia. Karena sesungguhnya Dia Maha mengetahui bahwa manusia sangat potensial untuk melampaui batas fitrah. Innal insana layathgho. Supaya segenap manusia itu mampu kembali menyadari konsep penciptaan Tuhan padanya. Momentum bagi seseorang untuk menyucikan dirinya dari segala potensi yang mampu mendorongnya menjauhi Tuhan.

Idul fitri diartikan juga: kembali suci. Ya, Saya setuju. Namun bagi Saya, orang suci itu adalah nabi dan rasul; seseorang yang tidak melakukan sesuatu hal kecuali apa yang diperintahkan-Nya, yang muthmainah karena berpijak di atas jalan yang diridhoi-Nya. Oleh sebab itu, tak pelak jika idul fitri diistilahkan sebagai hari kemenangan, karena itu merupakan momen puncak seorang manusia bagaimana dapat kembali fitri atau kembali menjadi suci, dengan kata lain kembali menjadi seperti nabi, dalam bahasa Saya: dapat menabikan dirinya. Persis seperti judul puisi Cak Nun: Muhammadkan Hamba Yaa Rabbi-- itu, yang menurutku itu bagaikan sebuah doa untuk dapat idul fitri, dalam rangka upaya meraih kemenangan sejati sebagai manusia.

Jika kesuksesan adalah kemenangan. Maka kesuksesan manusia adalah idul fitri. Jika kepuasan itu adalah kemenangan. Maka kepuasan manusia adalah idul fitri. Jika puncak pencapaian manusia adalah kemenangan. Maka puncak pencapaian itu adalah idul fitri. Karena hari kemenangan adalah idul fitri, hari dimana manusia kembali pada kesuciannya. Momentum seseorang mampu memuhammadkan dirinya.

Kalau kata Cak Nun: tidak ada yang diminta kembali, kecuali yang pergi.

Dari perkataan itu Saya mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya kesibukan manusia itu hanya Dua: Satu, berupaya untuk kembali fitri., Dua, berupaya untuk menetap pada kefitriannya.

Namun yang paling jelas bahwa dari kesemuanya itu, hanya Ada Satu amanat yang Saya dapat, yaitu jadilah manusia yang menjalani kehidupan seiring sejalan seirama dengan-Nya.

Menekuni seni berkata-kata sangatlah menyenangkan. Bahkan bisa dijadikan sebagai tarekat pendewasaan diri. Kita mengetahui bahwa orang dewasa bukanlah yang usianya lebih tua, tetapi yang pola pikirnya lebih bijaksana, mampu membedakan mana baik-mana buruk. Maka dari itu, jika ada kebaikan pada tulisan ini, semogalah bermanfaat. Jika sebaliknya, maklumilah. Namun pada kenyataannya, Saya pikir, setiap orang pastilah menjalani kehidupannya seiring sejalan seirama dengan apa yang ia pertuhankan.

Oleh: Budi Hikmah

Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta

(PB PERMATA)