Tak Layak Perempuan Disandingkan dengan Harta dan Tahta

 


Oleh: Handika Praba Ningrum

Akhir-akhir ini banyak sekali beredar di media sosial berbentuk meme, snap (Whats App, Instagram, Facebook dll), bahkan bio seseorang dengan tulisan harta-tahta-wanita. Ada hal yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah kata wanita itu diganti dengan nama pasangannya atau bahkan nama dirinya sendiri. Bukan hanya di medsos, kata itu pun tertuang dalam tulisan-tulisan di kaos-kaos sablonan. Apakah itu kebebasan berekspresi? Tentu saja bukan. Kebebasan berekspresi kok mengobjektifikasi perempuan!  Menyandingkan perempuan dengan harta dan tahta adalah bentuk bias pada gender yaitu berupa subordinasi, yang artinya perempuan dipandang sebagai objek dan sebagai manusia sekunder. Hal ini akan melahirkan ketidakadilan gender yang dampaknya akan dirasakan oleh perempuan sebagai manusia yang selalu dipandang lemah. Mulai dari hal inilah bentuk ketidakadilan gender yang lain seperti marginalisasi (peminggiran), stereotype (pelabelan buruk), violence (kekerasan), dan double burden (beban ganda) akan terjadi. 

Apa sajakah dampaknya jika bias gender itu terjadi? Pertama, perempuan akan tidak percaya diri untuk menunjukkan bakatnya, karena dia menganggap dirinya tidak akan mampu berkompetesi dengan laki-laki. Kedua, perempuan akan selalu ingin berpenampilan cantik dengan mengorbankan apapun untuk tampil menarik, karena perempuan yang tidak berdandan tidak sesuai dengan konstruk masyarakat yang menganggap tubuh ideal adalah yang seperti barbie. Ketiga, perempuan akan rentan mengalami tekanan sehingga mental dan psikisnya akan terganggu karena perempuan selalu dituntut untuk menuruti suami ketika sudah menikah, dan ayah ketika menjadi anak. Keempat, perempuan selalu ingin bergantung pada laki-laki karena peng-objektifikasi-an itu yang membuat perempuan selalu ingin dilindungi, akibatnya sedikit sekali perempuan yang berkiprah di ranah publik dan tidak merasa bebas untuk pergi kemanapun sendirian. Dan masih banyak lagi dampak yang lainnya yang mungkin tidak disadari oleh perempuan itu sendiri.

Lalu bagaimana jika perempuannya sendiri yang menyandingkan dirinya dengan harta dan tahta? Menurut saya ini berasal dari ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman dan kesadaran akan kemanusiaan perempuan. Tapi perempuannya juga nyaman-nyaman saja kok digituin! Ya, secara tidak sadar bias gender sudah masuk ke dalam alam bawah sadar, kemudian mendarah daging sehingga perbedaan gender seolah-olah sudah menjadi kodrat atau ketentuan dari Tuhan. Padahal jika kita ingin belajar, membaca, dan membuka wawasan tentu akan tahu bahwa gender adalah konstruk dari manusia, bahwa gender dapat diusahakan dan dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Pemahaman seperti ini adalah penting untuk kita tanamkan di dalam diri agar kita dapat berlaku adil dalam menjalani relasi kehidupan. Dengan begitu perempuan harus mendukung dan menguatkan satu sama lain, apabila keadilan dan kesetaraan ingin terwujud. 

Jika masih saja menyandingkan perempuan dengan harta dan tahta, apa bedanya dengan pemikiran pada jaman jahiliyah? Nabi yang mulia Muhammad SAW tentu sangat melarang keras hal seperti itu, sebab beliau sangat menjunjung tinggi nilai kesetaraan. Perempuan yang pada jaman jahiliyah dijadikan rampasan perang, diperjualbelikan hingga diwariskan, tapi dengan datangnya Nabi Muhammad SAW perempuan menjadi mulia, menjadi makhluk primer kehidupan sama seperti laki-laki. Itu semua terjadi pada beribu-ribu tahun yang lalu ketika pikiran orang-orang masih jahiliyah. Sekarang? Sudah jaman modern bahkan postmodern, pemikiran seperti itu seharusnya sudah jauh tertinggal. Saat ini seharusnya level atau tingkat kesadaran kemanusiaan perempuannya sudah jauh dari level pemahaman jahiliyah. Perempuan adalah manusia sama seperti laki-laki, perempuan adalah hamba sama seperti laki-laki, perempuan dapat berpotensi meraih prestasi sama dengan laki-laki. Jadi berhentilah menjadikan perempuan sebagai objek, dan berhentilah memelihara pemahaman jahiliyah. 

Post a Comment

0 Comments