Pasca Demonstrasi - Karya Tulis

 


Oleh: Budi Hikmah


Demonstrasi adalah upaya unjuk kebenaran.

Setelah mengunjukkan kebenaran eksistensi Tuhan secara logika atau nalar keilmuan kepada Pemerintahan Namrudz, Nabi Ibrahim alaihi salam diciduk sampai dibakar hidup-hidup sebagai hukuman dari Sang Penguasa. Namun oleh sebab itu titah Tuhan, lantas Dia menganugerahkan mujizat terhadap Nabi Ibrahim sehingga Beliau tak lebur dibakar bahkan kemudian berbondong-bondong orang mengakui kenabian Ibrahim. Pasca demonstrasinya, Beliau hijrah ke tanah yang lain dalam rangka memperluas jalinan silaturahmi dan membangun peradaban baru yang tauhid.

Begitu pun unjuk kebenaran Nabi Musa alaihi salam. Membuat Fir'aun Sang Penguasa naik pitam sampai-sampai memutuskan untuk memburunya hendak membunuh Nabi Musa. Namun oleh sebab akhlak Nabi Musa itu adalah titah-Nya, Tuhan menganugerahkan mujizat terhadap Nabi Musa. Pasca demonstrasinya itu, Beliau membangun peradaban baru di tanah penghijrahannya.

Sama halnya Nabi Nuh alaihi salam, suatu saat Beliau mengunjukkan kebenaran tentang kenabiannya, sedang kaumnya lantas menampiknya. Dari demonstrasinya yang tak digubris oleh kaumnya itu, permohonan Nabi Nuh diperkenankan Tuhan. Beliau diseru untuk hijrah, kemudian dititah untuk membangun bahtera di atas bukit tempat penghijrahannya. Kaumnya semakin menghina-dina Nabi Nuh. Betapa jelas kegilaan; kekonyolan Nuh itu bagi mereka. Namun karena itu titah-Nya, Tuhan menganugerahkan mujizat terhadap Nabi Nuh. Siapa sangka air bah datang dari menenggelamkan semua kehidupan sosial pada saat itu, yang hanya menyisakan umat yang berada di dalam bahtera Nabi Nuh.

Pada puncak akhlak kesempurnaan manusia, Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasalam, tidak dikisahkan menjadi seseorang yang berdemonstrasi kepada penguasa yang notabene sebagai penentangnya, bahkan dapat dikatakan sebagai lawannya. Namun Beliau lantas berhijrah sejak dalam pikiran, membangun peradaban tauhid sejak dari dirinya, keluarganya, kerabat-kerabatnya. "Lakum diinukum wa liyadiin". Bagi mereka peradaban mereka dan Aku akan membangun peradabanku. Prinsip fundamental yang tak pernah terkuak oleh para pendahulunya. Seperti nasi yan dapat mengenyangkan kelaparan seseorang, penyempurna dari eksistensi benih padi, beras, dan gabah sebagai pendahulunya yang tak mampu mengenyangkan, namun tidak ada perbedaan prinsip esensial di antaranya.

Dan pada akhirnya, Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasalam berhijrah secara paripurna ke Yatsrib, membangun peradaban madinah.

Demonstrasi adalah taktis yang berisiko tinggi. Kejadian setelahnya pasti pemberangusan dari Sang Penguasa yang dzalim. Itu jelas terkisahkan pada perjalanan perjuangan Nabi-nabi. Sedang taktis yang paripurna itu sendiri adalah taktis hijrah, yg mana itupun jelas terkisahkan pada perjalanan perjuangan Nabi-nabi.

Maka hari ini, bangsa ini, yang disibukkan oleh aksi-aksi demonstrasi, sudahkah menyelidiki lebih intim, apakah pergerakan tersebut adalah benar-benar titah Tuhan, yang dengan segala risiko pasca aksi demonstrasinya itu, akan menjadi tanggungan Tuhan langsung dengan menganugerahkan keluarbiasaan mujizatnya yang tak terkira. Ataukah atas hawa nafsu belaka yang hanya akan menghancur-leburkan massa aksi sendiri oleh Sangat penguasa yang dzalim itu.

Bukankah cita-cita umat manusia adalah menjadi manusia yang seutuhnya, yang lengkap; sempurna, terlebih lagi umat islam yang jelas-jelas mustinya (berusaha) meneladani Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasalam. Mengapa Kita sibuk untuk berdemonstrasi pada suatu kekuasaan yang Kita anggap dzalim atau bahkan yang benar-benar dzalim sekalipun? Apakah tidak lebih baik dan substantif bagi Kita bersungguh-sungguh mempelajari dan menghayati taktis hijrah itu, berupaya bersama-sama dalam kebersamaan membangun peradaban yang madani, yang berdaulat, adil dan makmur.

Jika Kita menganggap para penguasa dzalim itu seperti Fir'aun, apakah Kita sudah bersiap sesakti Nabi Musa untuk menghadapinya?

Jika mereka Kita anggap sepongah Namrudz, apakah Kita sudah siap sebijaksana Nabi Ibrahim?

Jika kenyataannya mereka itu sebebal Abu Jahal dan orang sejenisnya, lebih tepatlah bagi Kita untuk berusaha seterpuji mungkin sebagaimana Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasalam.

Besi memang hanya dapat dibengkokkan oleh besi. Namun yang mampu menang membengkokkan yang kalah, sama saja masing-masing dipenuhi kesakitan. Bahkan dari benturannya pasti memercikkan api, yang akan menyulut ketakaburan.

Alangkah indahnya tatkala Kita menyaksikan bagaimana air berhasil memendam api, demikian pula romantisme air yang memeluk tanah. Sehingga tumbuhlah kehidupan yang rindang dan berbuah kedamaian bersama-sama setelahnya.

Adakah yang lebih romantis daripada pelukan air kepada tanah?

Bukankah manusia itu dari tanah, dan kehidupan ini bersumber dari air? Lalu atas dasar apa Kita malah memilih suka untuk membentur-benturkan besi sehingga mengundang api itu ada?

Pasca demonstrasi, pada yang berkelahi itu iblis menari-nari. Sebab betapa merasa senangnya, Ia yang mengadakan api dari gesekan amarah manusia, namun orang-orang itu malah menyangka bahwa Neraka adalah ciptaan Tuhan.

Maha Suci Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Atasnama-Nya, hijrah sajalah.

Post a Comment

0 Comments