Kepalan Tangan Perempuan


Oleh: Budi Hikmah

Suatu hari, Norah mencurahkan isi hatinya padaku.
"Jadi perempuan itu berat, ya. Pulang kerja, capek, tapi sampai di rumah mesti nyuci piring, angkat jemuran, masak juga. Belum lagi kalau pas anak rewel. Huhhh!"
"Sabar, Bu," singkatku.
Behen yang sedang mengambil sandal dari lokernya turut menimpali. "Heueuh Bu, Urang ge sarua!" Katanya.

Seketika itu, kamar ganti terasa lebih gerah daripada area produksi di tempat kerja.

Dan pada sore itu, Aku menjadi tak hanya sekadar membawa pulang debu industri di sekujur tubuh dan pakaian, namun membawa serta persoalan rekan-rekanku dalam pikiran.
Sebulan kemudian.

Aku tak mendengar lagi keluhan dari Norah ataupun Behen. Namun cerita yang Aku dapat tentang mereka berdua berbeda.

Sebulan itu, Norah berjumpa dengan seorang sahabat yang memberikan pencerahan tentang hak-hak perempuan sebagai manusia. Bahwa perempuan itu mesti mendapatkan kesetaraan dengan pria sebagai sesama manusia. Perempuan itu haram untuk tertindas dalam segi apapun. Apalagi jikalau perempuan sampai pada tarap hanya dijadikan sebagai objek keberahian semata. Maka perlakuan diskriminatif terhadap perempuan wajib dilawan.

Sejak itu, Norah serasa mendapatkan gairah baru dalam hidupnya. Namun suaminya mendapatkan kebingungan dari sikap istrinya yang berubah drastis. Sehingga pertengkaran di antara mereka kerapkali terjadi, tak bisa dielakkan.

Tatkala Suaminya meminta Norah untuk tidak usah bekerja sebagai buruh pabrik saja, geramnya Norah malah semakin bertambah. Karena menurut Norah, bukanlah itu solusinya, melainkan pengertian seorang suami dalam menjalankan rumah tangga bersama dalam kesetaraan yang harus dielaborasi.
Namun suami Norah dengan segala keterbatasannya tak mampu mengamini kehendak Norah, terlebih lagi untuk menjangkau ideologinya. Sampai pada akhirnya, rumah tangga mereka tak dapat dipertahankan.

Sedangkan Behen, sebulan itu Ia setia mendukung suaminya yang giat mengikuti kajian ilmu tentang pemenuhan hak-hak perempuan sebagai manusia. Bagaimana perempuan itu mesti dijaga sejak pada perasaannya, bagaimana memuliakannya, bagaimana menafkahinya. Behen merasa bersyukur ada seorang sahabat yang hadir mengingatkan suaminya dengan harapan dapat menjadi seorang pria yang lebih baik wabil khusus terhadap perempuan. Tidak melecehkan, tidak diskriminatif.

Sampai pada prosesnya, romantisme rumah tangga mereka membaik. Tak ada waktu yang dilewati tanpa kasih sayang di dalamnya. Sehingga ketenteraman menjadi keniscayaan.

Dari sana, Aku memahami bahwa untuk dapat segera mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis, mestinya Kita serius memberikan edukasi kepada pria tentang bagaimana berkasih sayang, daripada sekadar memberikan gembar-gembor kepada perempuan tentang sebuah perlawanan.

Namun sayang, Aku melihat, realitanya wadah-wadah pergerakan perempuan yang orientasinya perlawanan begitu menjamur, sedangkan ruang kajian islami yang fokus memberikan ilmu kepada para pria supaya pandai dalam berkasih sayang nampak sepi.
Dan pada hari ini, Aku tertarik menyaksikan perubahan baik Behen. Ditambah dengan kerudung yang membaluti paras wajahnya kini. Rasanya Aku butuh bertanya, "Apakah sebagai seorang gadis Kristiani, Aku berkesempatan untuk dapat berkenalan dengan salah satu pria, kawan sepengajian suaminya?"
Karena Aku pikir, keindahan kepalan tangan perempuan berada pada saat bergandengan, bukan pada saat bergerak melawan.

Post a Comment

0 Comments