Betapa Pentingnya Melawan - Catatan Perempuan


Pergerakan perempuan di Indonesia sudah ada sejak masa kolonialisme. Mulai dari Cut Nyak Dien yang ikut berperang melawan penjajah, ada Kartini yang memperjuangkan pendidikan kaum perempuan, juga ada Rahmah El Yunusiah dengan Sekolah Diniyyah Puterinya, dan masih banyak lagi pahlawan perempuan lainnya. Perjuangan mereka itu bukan tidak beralasan, tidak ujug-ujug melawan, tapi melihat keadaan pada masa itu sangatlah memprihatinkan, terutama kaum perempuannya. 

Perempuan tidak diijinkan mendapatkan pendidikan yang sebagaimana laki-laki dapatkan. Perempuan dipaksa menikah dengan laki-laki yang tidak diinginkannya karena sebagai jaminan hutang orang tuanya. Perempuan tidak boleh aktif di ranah publik sebagaimana laki-laki bebas memilih mau jadi apa pun yang dia inginkan. Banyak hal buruk yang dialami perempuan, hingga perempuan pada saat itu sangat tidak berdaya. Dari sanalah perlawanan itu ada, ada atas dasar kesadaran akan kemanusiaan perempuan. Jika tidak ada perlawanan maka aku sebagai perempuan tidak akan bisa sekolah dan menulis seperti sekarang ini. 

Jika tidak ada perlawanan, mungkin bupati di daerahku tidak aka ada yang perempuan. Jika tidak ada perlawanan, angka pernikahan anak akan semakin naik, lalu apa akibatnya? Akan banyak juga kasus kematian ibu dan bayi. Jika tidak ada perlawanan, perempuan hanya akan dijadikan objek semata. 

Hingga detik ini, pergerakan perempuan itu masih tetap diteriakkan dan akan selalu digaungkan, karena tidak semua perempuan bernasib sama. Perempuan di Indonesia masih mendapat stigma negatif apabila ia bekerja, masih mendapat pelecehan apabila keluar malam, masih ada kasus perkosaan walaupun perempuan memakai kerudung panjang dan bercadar. Masih ada pemaksaan pelacuran pada perempuan dan anak, masih ada kekerasan dalam rumah tangga, dan kasus-kasus lain yang masih dianggap wajar bagi sebagian manusia. 

Melihat pergerakan perempuan dari dulu hingga saat ini, sebaiknya dilihat dari apa yang mereka perjuangkan dan apa yang mereka lawan. Kita pahami secara bijaksana dan cinta, perempuan yang melawan bukan berari melawan pada lawan jenisnya, yaitu laki-laki, tapi melawan pada segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya. 

Jika ingin melihat mengapa perempuan berteriak terus melawan, kita sebaiknya melihat data. Setiap tahun korban dari penindasan dan kekerasan itu lebih banyak dialami perempuan. 

Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan, dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan perempuan meningkat sebanyak 792%. Artinya setiap tahunnya meningkat 8 kali lipat. Kasus-kasus ini terjadi dengan pelaku yang beragam, berbagai macam profesi, bahkan ustaz yang setiap hari memberi kajian betapa pentingnya kasih sayang itu pun tidak menjanjikan untuk tidak berlaku baik pada perempuan. Untuk itu betapa pentingnya kita melawan, dan menggembor-gemborkan kesetaraan gender di Indonesia.  

Oleh: Handika Praba Ningrum
Biro Pemberdayaan Perempuan PB PERMATA

Post a Comment

0 Comments