Harkitnas 2020 : "It’s not about Nations anymore, It is about Humankind"


Dokumen Pribadi

Nasionalisme hanyalah "onalisme" tanpa adanya '"Nasi", maka dari itu jangan serta Merta dalih untuk pembangunan pak/bu tega dan rela ngejual tanah air ini hanya ingin disebut bisa setara dengan negara lain.

Saat ini, setiap negara  ada bersaing ketat adapun yang bekerjasama dengan negara lain dalam dunia yang katanya sedang berada dalam Resesi Global dan Pandemi Virus.Namun perlu kita ingat, Setiap negara adalah saingan dan setiap negara memiliki penuh atas apa yang ada di dalam negara mereka. Dalam sebuah batasan garis imajiner yang mereka sebut sebagai garis teritorial/batas negara.

Negara bahkan mewajibkan penduduknya, yaitu orang yang tinggal dalam negaranya untuk membayar pajak karena tinggal diatas tanah negara, entah sejak kapan pemerintah membeli tanah dari Tuhan padahal mereka membeli diri mereka sendiri saja tidak bisa.Lantas Negara pun menjual segala isinya dengan dalih pembangunan Perekonomian negeri tanpa mengetahui itu dibutuhkan atau tidak bagi rakyatnya.

Aku mencintai Indonesia tanpa nasionalisme . Nasionalisme telah melahirkan pikiran-pikiran sempit yang jauh lebih sempit, atas nama membela daerah pun, antar daerah di negara ini berseteru. Atas nama desa, bahkan atas nama klub sepakbola daerah. Bahkan tetangga desa saling bermusuhan . Apa yang menyebabkan ?

Dan sudah kita lihat sendiri di beberapa berita, tentang konflik yang melibatkan Negara dengan rakyatnya. Atau, kasus yang lebih mudahnya, tentang stereotype. Nasionalisme semacam ini justru kontraproduktif dengan dunia modern. Dunia yang menuntut masyarakatnya untuk mampu berpikiran dan berwawasan luas. Global.

Zaman ini bukan lagi tentang membebaskan bangsa sendiri dari belenggu penjajahan. Bukan lagi tentang bendera dan lagu-lagu kebangsaan. Tapi tentang manusia, banyak sekali manusia, yang semakin mudah terhubung satu sama lain. Dan seberapa besar manfaat yang mampu disebarkan lewat hubungan-hubungan yang ada.

Tanpa memperdulikan warna kulit, ras, bahasa, tempat tinggal, negeri asal, atau atribut lain yang mengedepankan kebangsaan seseorang.
Ada pendapat lain?


Oleh :
Mochammad Fajri Syamsi (Ziunisme)
Ketua Umum PERMATA Cab.Bandung


Post a Comment

0 Comments