Harkitnas 2020 : Bangkit Melawan Penindasan dan Ketidakadilan

Dokumen Pribadi
Hari ini, semua masih tentang covid-19 dan masih harus taat protokol kesehatan, seruan pemerintah dan tokoh agama, harus menahan diri dari kumpul-kumpul dan keluar rumah yang katanya kalau tidak penting. Masih tentang surat dari pihak yang berwenang kalau bekerja itu di rumah dan belajar di rumah diperpanjang. Tapi jangan lupa juga, bangsa Indonesia hari ini  memperingati satu momentum yang besar, hari kebangkitan nasional yang mana awal mulanya pada tanggal 20 Mei 1908 adalah hari kelahiran suatu organisasi bernama Budi Utomo. Organisasi yang menjadi perintis pergerakan nasionalisme di Indonesia. Awal mula pendorong berdirinya organisasi ini salah satunya merupakan wujud protes atas penindasan kaum kolonial kepada rakyat di Indonesia selama bertahun-tahun. Penyebab terjadinya pergerakan nasional ini salah satunya munculnya tekanan dan penderitaan yang berkelanjutan, Rakyat Indonesia harus melawan penjajah.

Lalu muncul pertanyaan : Apa kaitannya kelahiran Budi Utomo dan kebangkitan nasional terhadap kondisi di negara kita saat ini ?

Harus kita ketahui juga bahwa kondisi negara kita saat ini butuh Suatu momentum yang mengingatkan betapa pentingnya akan persatuan, Apalagi bersatu bangkit melawan ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum mustad’afin (Kaum yang dilemahkan). Para kaum Mustad’afin itu mempunyai karakteristik yang berbeda- beda. Ada sebagian yang lemah dan tertindas karena sebagian yang lain yang lebih kuat dan merasa berkuasa. Kaum yang termasuk dalam golongan lemah pun menjadi kelompok tertindas oleh kaum yang merasa kuat dan berkuasa saat ini. Padahal di hadapan Tuhan kita sama, tidak ada yang setara dengan-Nya. Ada pemerasan dan penguasaan terhadap hak-hak kaum lemah dengan sewenang-wenang. Sebenarnya, golongan yang termasuk kelompok tertindas adalah golongan lemah terhadap yang lain. Seperti kaum perempuan yang tertindas oleh norma-norma,diskriminasi terhadap kaum perempuan, masyarakat yang tingkat sosialnya rendah terhadap elit, golongan rakyat jelata terhadap pemerintah, dan lain-lain.

Penindasan adalah hal yang tidak dibenarkan karena akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam kehidupan baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun agama. Kaum lemah yang tertindas akan menjadi kaum yang terbelakang dan menderita, sementara kaum kuat yang menindas akan menikmati kesejahteraan hidup. Lalu, yang termasuk dari golongan tertindas lainnya adalah masyarakat dengan status ekonomi rendah. Tidak hanya demikian, adakalanya mereka menjadi budak dari orang-orang kaya, seperti buruh, pembantu, karyawan yang tidak mendapatkan haknya yang sesuai. Mereka miskin itu bisa saja bukan karena mereka malas, enggan untuk bekerja. Bisa saja kesejahteraan hidup mereka diambil secara terselubung oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Contoh nyatanya yaitu ketika koruptor yang menguras habis harta kekayaan negara, sementara kekayaan negara tersebut merupakan hak dan milik rakyat seluruhnya. Sebetulnya, porsi penderitaan yang paling banyak karena penindasan itu dirasakan oleh rakyat kecil. Mereka dibodohi dan ditipu secara halus, seolah mereka dihipnotis karena ketidaksadaran mereka ketika mereka ditindas. Rakyat kecil harus membayar pajak, sementara pajak tersebut dicuri oleh koruptor.

Padahal dalam kajian teologi menegaskan bahwa orang-orang beragama setidaknya harus memahami teks-teks dari kitab suci mereka untuk mengambil tindakan pembebasan, karena kitab-kitab suci tersebut merupakan pedoman hidup, dan di dalamnya tidak ada ajaran-ajaran untuk melalukan penindasan.

Maka dalam momentum ini, Untuk kita semua mari terus suarakan akan pembebasan terhadap penindasan dan ketidakadilan kepada kaum-kaum yang dilemahkan yang ada di sekitar kita, dengarkan keluhan-keluhan mereka dan sampaikan kepada para penguasa, atau saat ini kita bisa membantu  sedikit banyaknya bantuan  untuk menyambung keperluan hidup mereka, karena sejatinya mereka perlu perhatian dari kita semua.

Bahan bacaan lanjutan :
Badruzzaman, A. (2007). Teologi Kaum Tertindas : Kajian Tematik Ayat-ayat Mustadh’afin dengan Pendekataan Keindonesiaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Ditulis Oleh :
Candra Alimin (Chend)
Biro Pers dan Jurnalistik PERMATA Cab.Bandung.


Post a Comment

0 Comments