Hardiknas 2020 ; Pendidikan Sebagai Pembebasan



Manusia merupakan makhluk yang dinamis, dan bercita-cita ingin meraih kehidupan yang sejahtera dan bahagia dalam arti yang luas, baik lahiriah maupun batiniah, duniawi dan ukhruwi. Semakin tinggi cita-cita manusia semakin menuntut kepada peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana mencapai cita-cita tersebut. Pendikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan manusia tidak dapat berkembang sejalan dengan cita-cita untuk maju. Pendidikan bukan saja sebagai usaha pemberi informasi dan pembentukan keterampilan saja, namun di perluas sebagai kebutuhan yang sejalan untuk mewujudkan cita-cita manusia.

Pendidikan merupakan sector yang berpengaruh terhadap kemajuan negara dan peradaban manusia. pendidikan adalah tempat mengembangkan potensi yang ada pada diri manusia, menumbuhkan keseimbangan antara akal, hati, dan perilaku manusia. Didalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab I, pasal 1, (1), menyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Paulo Freire menuturkan bahwa belajar adalah suatu proses investigasi kenyataan yang dialogis, yang tidak mempertentangkan manusia dengan alam, subjek dengan objek atau guru dengan murid. Freire tidak memisahkan antara subjektivitas dan objektivitas, manusia baginya adalah sebab sekaligus akibat dari realitas. Pendidikan adalah jalan menuju pembebasan yang permanen, dan terdiri dari dua tahap, pertama, adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka dan melalui praksis merubah keadaan itu. Kedua, dibangun di atas tahap yang pertama dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan. Ia pun mempercayai kosep yunani dan kritiani mengenai menusia, menurutnya sama seperti aristotles bahwa pengetahuan dan kebebasan (kemerdekaan) merupakan kebaikan utama bagi jiwa.

Sedikit berbelok kepada teologi pembebasan Muhammad A’bduh, yang saya kira pemikirannya nanti berpengaruh kepada beberapa tokoh yang bergerak dalam bidang pendidikan dalam negeri terkhusunya pendidikan Islam. Kemunduran yang terjadi pada umat Islam ialah akibat kekakuan (jumud) dan tidak mau berikir secara bebas. Jumud diartikan suatu keadaan yang beku, keadaan statis, tidak adanya perubahan. Karena dipengaruhi oleh paham jumud umat Islam tidak menghendaki adanya perubahan dan tidak mau menerima suatu perubahan.

Muhammad Abduh berpendapat bahwa untuk mereformasi masyarakat Islam haruslah dengan dimulai dengan mereformasi Al Azhar terlebih dahulu. Karena Al Azhar dianggap sebagai kiblat dalam dunia pendidikan Islam. Dan ulama-ulama Al Azhar mempunyai peran yang sangat penting dalam reformasi. Untuk itu ia menginginkan para ulama harus keluar dari belenggu kejumudan. Abduh berpendapat bahwa kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku klasik berbahasa Arab yang berisi dogma ilmu kalam untuk membela Islam. Akan tetapi,kewajiban belajar juga terletak pada mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebaba-sebab kemajuan yang telah mereka capai. Usaha awal reformasi Abduh adalah memperjuangan mata kuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan belajar filsafat, semangat intelektualisme Islam yang padam diharapkan dapat dinyalakan kembali. Namun usaha pembaharuan Muhammad Abduh di Al-Azhar pada akhirnya terbentur batu karang yang begitu kokoh yang bernama “kolotisme”.

Usaha Abduh untuk mengusung pembaharuan sistem pendidikan yang menghilangkan dikotomi pendidikan, justru membuat Abduh terpental dan dipecat, sehingga kembalilah Al-Azhar pada keadaan semula dengan segala macam kurikulum yang espired. Namun sebagai sebuah pemikiran, modernisasi pendidikan Islam-nya menembus belantara Al-Azhar bahkan melanglang buana ke seluruh dunia Islam.

Pemikiran tersebut berpengaruh terhdap tokoh pendidikan seperti K.H Ahmad Dahlan, gagasan dan pemikirannya menaruhkan perhatian kepada kebebasan, bagi Ahmad Dahlan pendidikan adalah sebagai alat untuk bedakwah amar ma’ruf nahi mungkar, serta memilki tujuan yang tidak hanya bersifat duniawi namun mencakup dimensi ukhrawi. Keseimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, inteltual dengan keyakinan, antara akal dan hati akan menciptakan pendidikan yang utuh. Oleh karenanya tidaklah ada lagi dikotomi antara tujuan pendidikan umum dengan pendidikan pesantren, dan melalui pendidikan seperti inilah Ahmad Dahlan mempunyai cita-cita membentuk generasi muslim yang berkepribadian kuat dan utuh. Mereka adalah manusia yang memiliki kualifikasi religiusitas, intelektual dan bertanggung jawab sosial. Pendidikan hendaknya membentuk manusia yang dekat dengan masyrakat dan menjadi pemimpin yang memajukan bangsannya.

Tidak hanya itu model pembelajaran dan materi pendidikan tidak luput dari pandangan Ahmad Dahlan, ia mempunyai metoode dan memiliki kurikulum tersendiri yang di akulturasikan anatara pondok pesantren dengan sekolah umum. Metode pembelajaran mengunakan klasikal dengan materi-materi struktural di sesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing, dalam memberikan wawasan beliau menggunakan metode tanya jawab dan kebebasan dalam mengajukan pertanyana. Metode dua arah atau pedagogi dalam teori Paulo Freire itulah yang membedakan dengan sistem pembelajaran dalam pendidikan Islam tradisional, serta pendekatan itegratif dan multidisiplin dalam menjelaskan ajaran agama berusaha dijelaskan dengan ilmu-ilmu modern sehingga memberikan persfektif luas bagi murid-muridnya.

Dari pemikiran-pemikiran inilah secara kelembagaan Ahmad Dahalan telah meletakan landasan lahirnya lembaga pendidikan Islam modern. Sistem sekolah Islam dan madrasah yang sekarang ini merupakan model lembaga pendidikan Islam yang paling dominan yang merupakan pengembangan yang lebih lanjut dari sistem sekolah dan madrasah yang dikembangkan oleh Ahmad Dahlan. Ia telah berhasil mengubah otoritas menejemen pendidikan pesantren tradisional yang berbasiskan kharisma individu ke dalam sistem modern yang berbasiskan organisasi. Gagasan serta ide-ide yang cerdas dan gemilang tersebut, merupakan wujud dari pemahaman agama Islam yang mendalam, serta perjuangan dan komitmen yang sangat tinggi dalam memecahkan permasalah umat dan bangsa.

Gagasan  pendidikan  yang  disuguhkan  oleh  Ahmad  Dahlan  merupakan  bentuk terobosan baru di bidang pendidikan pada masa itu. Dahlan merintis pendidikan dengan corak integralistik, yaitu menyandingkan pendidikan agama dan pendidikan umum. Dengan demikian diharapkan akan lahir individu-individu dengan kepribadian utuh, menguasai ilmu agama dan ilmu umum atau dengan kata lain melahirkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Untuk itu, secara kelembagaan Ahmad Dahlan telah meletakkan pendidikan modern dengan menggabungkan antara sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan model Barat.

Pendidikan dalam perspektif Islam adalah upaya mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, sehat jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, dan manis tutur katanya, baik lisan maupun tulisan. Pendidikan di lingkungan Muhammadiyah tak bisa dipisahkan dari penggasanya, KH. Ahmad Dahlan yang menekankan pengamalan nilai-nilai agama dalam tataran praksis dan memperhatikan dunia modern.

Oleh karenanya pendidikan merupakan salah satu kunci yang sangat esensial dalam kehidupan manusia, bagi kehidupan manusia pendidikan merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhui sepanjang hayat, sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural milieu, dimana pendidikan menjadi penggerak dalam kehidupan manusia dan menjadi cerminan dalam sebuah peradaban dalam suatu negara. Dari pendidikan inilah menghasilkan pribadi-pribadi masyrakat yang lebih manusiawi, berdaya guna dan mempunyai pengaruh dalam masyarakat, juga bertanggung jawab kepada kehidupanya sendiri dan orang lain. Pada dasarnya pendidikan adalah, proses memanusiakan manusia (humanis) dan mengembangkan potensi yang terdapat pada diri manusia, yang memberikan suatu pengalaman sebagai pembelajaran yang di kembangkan melalui interaksi sosial kepada manusia lainnya.

Sebagai makhluk yang diberikan akal untuk berfikir, pendidikan tertentu akan menjadi jalan bagi manusia dalam upaya maksismalisasi potensi yang diberikan tersebut. Pendidikan akan menjadi landasan manusia dalam bersikap dan bertindak dalam proses hidup bermasyarakat dan berbudaya. Sehingga mampu hidup dalam keseimbangan. Pendidikan bukan hanya dalam konteks sekolah-sekolah formal seperti yang kita kenal selama ini namun, pendidikan lebih dari itu. Pendidikan bukan hanya proses transper of knowledge, tetapi pendidikan merupakan sebuah kemampuan manusia untuk mengenal potensi dirinya sendiri dan mampu mengembangkan potesi tersebut, sehingga pada akhirnya manusia dengan kemampuan dan kesadaranya, menjadi manusia yang bebas dan tidak terikat.



Bacaan lanjutan;

Suwito dan Fauzan, Sejarah Pemikir Para Tokoh Pendidikan, Agkasa: Bandung, 2003

Tim Museum Kebangkitan Nasional, K.H. Ahmad Dahlan ( 1868 - 1923 ), Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta, 2015.

Denis Collins, Paulo Friere kehidupan,karya & pemikiran, KOMUNITAS APIRU/Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2011.

M. Fadholi, Muhammad Aziz, dan Hery Purwanto, DIMENSI RASIONAL DALAM PEMIKIRAN.

MUHAMMAD ABDUH 1849 – 1905 (STUDI BIDANG PENDIDIKAN,POLITIK DAN SOSIAL-KEAGAMAAN),AL HIKMAH Jurnal Studi Keislaman, Volume 9, Nomor 2, September 2019.


Harun Nasution, ISLAM DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK, UI PERSS: Jakarta,2015.





Ditulis Oleh :

Arief Ridwan


PERMATA Cab.Bandung


Post a Comment

0 Comments