Enam Masa Kehidupan Manusia




1. Adam
Manusia itu mulanya tidak ada. Kemudian diadakan. Mungkin Kamu bisa sejenak merenung, kapan pertama kali Kamu merasa ada? Apakah itu tidak dapat menerangimu bahwa sejatinya Kamu pernah tidak ada, atau mengalami masa ketiadaan. Lantas Kamu itu tiba-tiba ada saja. Sejatinya, Kamu tidak mengetahui awal mula keberadaan Kamu. Bahkan untuk menerka-nerka pun tidak akan sanggup. Kamu gelap. Itulah bukti bahwa Kamu pernah mengalami masa ketiadaan dirimu. Namun beruntung, Kamu dianugerahi-Nya. Kamu diadakan.

2. Idris
Setelah eksis, manusia itu dapat membaca, mengolah informasi. Atau wujud keberadaannya manusia itu sendiri, yaitu ketika Ia dapat membaca, dapat berpikir, dapat merasakan realita sosial. Dari masa ketiadaan, manusia itu masuk ke masa bahwa Ia itu ada. Dan buktinya, Ia dapat menyerap informasi, mampu menyaksikan realita sosial. Ya, Kamu itu kan mulanya tidak ada. Lantas Kamu ada. Dapat menatap orang tuamu, memandang kehidupan keluargamu, menyaksikan kehidupan di lingkunganmu dengan segenap problematikanya. Kamu mengolah informasi tentang nasi, suatu objek yang dapat Kamu konsumsi. Kamu mengolah informasi tentang batu, tanah, kotoran-kotoran, yang mana itu adalah suatu objek yang akhirnya Kamu putuskan bahwa itu objek yang bukan untuk Kamu konsumsi. Puncaknya, Kamu mengolah informasi tentang kebahagiaan, tentang penderitaan.

3. Nuh
Pada masa kehidupan manusia yang ke Tiga, setelah manusia itu dapat membaca; mengolah informasi, maka manusia itu melakukan sesuatu. Dapat mengambil keputusan-keputusan, dapat memperhitungkan kebutuhan hidupnya, sampai pada Satu titik di mana Ia dapat menentukan prinsip-prinsip hidup. Setelah Kamu mampu mengolah informasi, Kamu mengetahui bagaimana Kamu harus makan, Kamu mengerti bagaimana untuk tidak sampai celaka, bahkan, puncaknya, Kamu dapat memahami prinsip-prinsip hidup, bagaimana untuk dapat hidup bahagia, terlepas dari penderitaan-penderitaan.

4. Hud
Namun pada masa kehidupan yang ke Empat, manusia berkesempatan untuk menaikkan taraf hidupnya. Ia mulai mencari, mulai berusaha keras untuk dapat menemukan pedoman hidupnya. Mulai mempelajari hakikat hidup itu sendiri. Mulai memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar. Salah satunya: Apakah benar bahwa Aku ini ada yang menciptakan? (Apakah benar Tuhan itu ada, mempunyai kekuasaan serta mempunyai segenap kehendak?). Maka pada masa tersebut, manusia mulai mempertimbangkan perjalanan hidupnya apakah bertentangan dengan kekuasaan Tuhan atau tidak, apakah selaras dengan dengan kehendak Tuhan atau tidak.. Seperti Kamu, ketika hendak memegang suatu prinsip, mempunyai gagasan, sampai pada momen di mana Kamu dapat melahirkan program-program dalam rangka tercapainya tatanan hidup yang ideal, yang membahagiakanmu dan melepaskanmu dari penderitaan-penderitaan, Kamu akan meninjau kembali, apakah semuanya itu selaras dengan kuasa dan kehendak Tuhan? Apakah semuanya itu sesuai dengan pedoman hidup manusia yang sejati?

5. Shaleh
Maka tatkala manusia itu beruntung sehingga masuk pada masa kehidupan yang ke Lima, setelah berhasil melalui masa kehidupan yang ke Empat dengan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaannya, manusia itu sendiri akan berupaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Ia akan memulai perjalanan hidupnya dengan berpegang teguh pada prinsipnya, akan memelihara gagasannya, akan mewujudkan program-programnya, sampai kepada tujuan. Dalam bingkai bahwa kesemuanya itu telah terverifikasi, tidak bertentangan dengan kekuasaan Tuhan, selaras dengan kehendak-Nya, sesuai dengan pedoman hidup manusia yang sejati.
Namun sayang, iblis tak pernah padam, setan semakin besar untuk dapat menghadapi manusia-manusia yang terus meningkatkan kualitas hidupnya. Sampai akhirnya, semakin meningkat kualitas hidup manusia itu, semakin mudah pula Ia merasa tinggi. Dan di sanalah iblis dan setan bersenang hati. Semisal Kamu yang berhasil mengejawantahkan cita-cita hidup idealmu, lantas timbul perasaan bahwasanya Kamu telah melakukan perbaikan-perbaikan, tak pelak, rasa sombong, takabur, merasa lebih baik dari orang lain; dari kelompok lain, membangga-banggakan diri sendiri, menghina-dina yang di luar diri, sehingga menuntut mereka untuk bergabung pada dirimu, bahkan sampai memaksa orang lain untuk menjadi dirimu, yang seolah-olah telah nyata-nyata melakukan perbaikan-perbaikan. Maka yang tadinya niatanmu itu dapat hidup secara harmonis dengan Tuhan, sesuai dengan pedoman hidup manusia yang sejati, malah meleset, sebab Kamu malah memposisikan dirimu sebagai Tuhan itu sendiri. Bukan lagi menghambakan diri kepada Tuhan, Kamu malah menuhankan dirimu sendiri. Karena toh perilakumu seakan-akan mengharuskan orang lain itu yang menghamba kepadamu.
Pada masa kehidupan manusia yang ke Lima inilah, pada masa keshalehan-lah, ujian serta tipuan itu betapa kencangnya mendera manusia. Karena pada tiupan angin kencang itu setidaknya dapat memunculkan Dua kemungkinan. Tanah yang dapat menghempaskan debu kotoran, atau api yang dapat memperbesar kobarannya.

6. Ibrahim
Semoga sahaja, setiap manusia dapat mencapai masa kehidupan manusia yang ke Enam. Sebab kalau merujuk pada dalil bahwasanya Tuhan menciptakan kehidupan ini dalam Enam masa, maka masa yang ke Enam adalah puncaknya. Ia-lah masa di mana manusia dapat menjadi suri teladan, berakhlak mulia, penuh kasih sayang--wabil khusus kepada sesama manusia.
Manusia yang terus belajar. Terus berusaha menjadi cahaya, tanpa menggebu-gebu ingin melenyapkan kegelapan. Menjadi manusia yang nuur, bukan naar. Yang bersinar, bukan berkobar-kobar. Menjadi manusia yang ihsan: melakukan penghambaan kepada Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan menyaksikannya, meskipun Kita tidak melihatnya


Oleh: Budi Hikmah
Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta
(PB PERMATA)

Post a Comment

0 Comments