Potret Dunia Pendidikan Indonesia Era Pandemi Corona



Potret Dunia Pendidikan Nasional saat ini tengah digoncangkan oleh wabah corona atau biasa disebut dengan Covid-19 (Coronavirus Diseae 2019). Dampak dari pandemi ini sangat terasa dalam berbagai lini sektor, termasuk pada sektor Pendidikan. Bentuk antisipatif Pemerintah Indonesia sektor pendidikan, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah dengan mengeluarkan Sura Edaran Mendikbud Nomor 2, 3 dan 4 Tahun 2020 (SE Mendikbud No. 2,3 & 4 Tahun 2020). Ringkasan kebijakan yang menjadi sorotan dari edaran tersebut adalah Memberlakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi dari Rumah bagi seluruh Satuan Pendidikan termasuk Sekolah dan Perguruan Tinggi, Memutuskan membatalkan Ujian Nasional Tahun 2020, merubah format penilaian Kelulusan, merubah format penyelenggeraan Ujian Sekolah.
Berdasarkan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sitem Pendidikan Nasional, Pemerintah wajib menjamin pemerataan Mutu Pendidikan Nasional. Secara Teori, Mutu Pendidikan berbicara kepada Input, Proses dan Output (Sukmadinata: 2002). Jika diuraikan Input pada dunia pendidikan meliputi Kebijakan, Kurikulum, Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Sarana Prasarana dan lain sebagainya. Bagian Proses meliputi Kegiatan Belajar Mengajar baik secara formal maupun informal. Serta terakhir Output, meliputi kepada Lulusan dan Pengaruh Luaran. Pendidkan dapat dikatakan bermutu tidak dapat diukur kepada harga yang mahal, atapun elit namun ketika adanya Feedback positif atau kepuasan dari pengguna layanan pendidikan dalam hal ini Peserta Didik, Orang tua Peserta Didik ,Pengguna Lulusan dan lain sebagainya.
Kembali kepada topik bahasan pada tulisan ini. Efek dari pandemi bagi pendidikan nasional berdampak pada Input, Proses, dan Output. Input berupa kebijakan baru Pemerintah terkait Study From Home untuk satuan pendidikan dan kebijakan baru lainnya. Adanya input tambahan berdampak kepada bagian Proses Pendidikan, yaitu Kegaitan Belajar Mengajar mesti dilakukan dari Rumah, Merubah Konsep Penilaian Lulusan serta lainnya. Adanya perubahan pada Input dan Proses membuat Outputpun berubah salah satunya adalah Peserta Tahun 2020 lulus tanpa melalui Ujian Nasional walaupun Ujian Nasional tidak 100% menentukan kelulusan

Problematika
Terjadinya perubahan terhadap input, proses, dan output pada dunia pendidikan Indonesia Efek Pandemi Corona ini, menimbulkan berbagai macam permasalahan. Namun tengah menjadi Sorotan adalah Pembuat Kebijakan (dalam hal ini Pemerintah) yang akan berpengaruh kepada Input Kebijakan pada dunia pendidikan nasional, lalu pada Proses yaitu Kegiatan Belajar Mengajar , serta Output kualitas Lulusan.
Pertama yang akan diurai terlebih dahulu adalah permasalahan pada titik Proses yaitu Kegiatan Belajar Mengajar melalui dari Rumah. Study From Home dengan anjuran Social and Physical Distancing membuat KBM mesti dilaksanakan secara Daring. Pada proses ini mengharuskan pendidik serta peserta didik mesti memiliki sarana penunjang yang memadai seperti, adanya smartphone, Laptop, Jejaring Internet hingga Kuota yang memadai namun nyatanya tidak semua peserta didik mampu untuk memenuhi hal tersebut karena faktor keluarga yang kurang mampu. Selain itu, pembelajaran via daring menguji kompetensi pendidik dalam memberikan pembelajaran dengan kemasan menarik dengan tidak menghilangkan esensi materi ajar, tapi kenyataannya tidak sedikit pendidik pembelajaran kurang menarik dan juga ditemui pendidik yang malah membebankan tugas tidak sedikit kepada peserta didik sebagai jalan pintas.
Kedua output Kualitas Lulusan, problem yang terjadi pada rangkaian proses sebagaimana dijelaskan diatas, berpengaruh kepada output lulusan akan mengalami peningkatan atau malah mengalami penurunan. Bagian terpenting pada aspek ini adalah respon pengguna layanan pendidikan antara puas atau tidak puas. Karena nantinya penilaian dari pengguna layanan inilah sebagai tolak ukur tercapainya mutu dari lananan pendidikan yang diberikan oleh pengelola satuan pendidikan.  Berkaca kembali kepada permasalahan yang terjadi pada pase proses dapat kita baca banyaknya pengguna layanan pendidikan mengeluhkan permasalahan pada pase proses, sehingga terjadi kekhwatiran pengguna layanan akan kualitas pembelajaran yang diberikan menurun serta akan berpengaruh terhadap kualitas lulusan yang menurun.
Ketiga adalah Pembuat Kebijakan, konteks pembuat kebijakan pada Dunia Pendidikan Nasional adalah Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah seharusnya mempertimbang aspek sebab dan akibat. Apabila ditarik dengan kebijakan pemerintah saat ini untuk “Study From Home” , Pembatalan Ujian Nasional dan lain-lain. Harus diikuti oleh solusi konkret atas akibat yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut. Namun kenyataannya saat ini problematika implementasi langkah antisipatif pemerintah menimbulkan berbagai permasalahan baru muncul ke permukaan.

Refleksi dan Solusi
Dunia Pendidian Nasional dengan adanya pandemic corona ini membuat berefleksi diri, di Era Globalisasi serta era Digitalisasi kini banyak sekali kekurangan ketinggalan pada Pendidikan Indonesia. Betapa belum maksimalnya penyerpan teknologi kepada dunia pendidikan sehingga ketika ”dipaksa untuk menggunakan teknologi pendidikan malah mengalami kesulitan. Permasalahan kurikulum yang masih memberatkan metode konvensional hingga pendidik kurang professional seperti sebuah alarm penegur untuk dunia pendidikan.
Solusi terhadap permasalahan yang terjadi saat ini adalah seluruh komponen pada dunia pendidikan mengevaluasi diri dan memperbaiki diri. Mulai dari Pembuat Kebijakan yang menyiapkan langkah solutif atas akibat dari sebab pengimplementasian kebijakan, dalam hal ini adalah Pemerintah. Apabila pemerintah tidak dapat bekerja sendiri maka tidak usah sungkan menggandeng pihak ketiga guna mengembangkan kebijakan yang relevan tanpa membebankan. Serta Pemerintah haruslah memperhatikan kesejahteraan praktisi pendidikan Indonesia agar dapat menjadi pecut motivasi untuk merealisasikan dan menyukseskan keberhasilan kebijakan. Pun Pemerintah mesti peduli kepada anak bangsa yang kurang beruntung agar mendapatkan haknya dalam menikmati pendidikan bermutu.
Satuan Pendidikan sebagai lembaga penyedia jasa pendidikan mesti lebih selektif dalam memilih input, serta memperhatikan proses dan mempertahakan kualitas dari Output sehingga kualitas jasa yang diberikan dapat terjaga. Pun juga mesti memberikan kesejahteraan bagi tenaga pendidik dan kependidikan namun tidak membebankan kepada peserta didik sebagaiman cita-cita pendiri bangsa.
Pendidik saat ini harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, mulai dari mesti melek dengan teknologi, KBM yang menarik, namun tidak juga membebankan kepada peserta didik tanpa menghilangkan esensi dari pendidikan. Memang pendidik bukanlah seorang manusia super yang dapat melakukan segalanya, namun, seorang pendidik mesti menjalankan amanat Pendidikan Nasional yaitu bersikap Profesional.
Pada dasarnya seebuah kebijakan dapat dikatakan sukses apabila pembuat kebijakan, pengimplentasi kebijakan, dan Masyarakat dapat bekerjasama. Sebuah solusi baik muncul dari evaluasi yang baik. Seluruh Stakeholder pendidikan mesti menurunkan ego pribadi. Demi mewujudkan pemerataan pendidikan yang bermutu dan dapat dirasakan. Era pandemi saat ini dapat diatasi jika semua bergotong- royong mengahdapinya. Dengan melaluinya secara bersama semoga “Potret Pendidikan Indonesia era Pandemi Corona” dapat segara membaik dan tidak merana.

Oleh Muhamad Ramdani Rahman
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Sekretaris Jendral Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PB PERMATA)

Post a Comment

0 Comments