Anniversary Pemilu



Di Kelas X IPS 3.
Ibnu terpilih menjadi Ketua Murid. Seluruh siswa di kelas itu satu suara untuk menyepakatinya. Karena dilihat dari prestasinya dalam berorganisasi semasa Sekolah Menengah Pertama dulu. Dengan begitu tertib, musyawarah di sana tak butuh waktu lama untuk mendapatkan kemufakatan. Terlebih lagi, karena segenap siswa di kelas tersebut sadar betul akan hakikat kepemimpinan.
"Kalau ditunjuk begitu, berarti aklamasi. Artinya kelas ini tidak melakukan pemilihan secara demokrasi." Papar Bu Ani, seorang pengajar yang hendak meluangkan waktu mengajarnya kepada siswa kelas X IPS 3 supaya melaksanakan pemilihan ketua murid di kelasnya. Namun kenyataannya, hal itu sudah selesai dilaksanakan.
"Tapi Bu, keputusannya kan berdasarkan kepada kedaulatan kita bersama, sekelas ini," tanggap Risto.
"Tetap saja, kalau hanya ada satu calon atau satu kandidat, berarti aklamasi, tidak demokrasi." Kata Bu Ani.
"Maksudnya, kita emang enggak mengadakan pencalonan itu, Bu."
Akhirnya Bu Ani memungkas tanggapan Risto dan menyeru kepada semuanya untuk memulai kegiatan belajar mengajar hari itu.

Di Kelas X IPS 2.
"Silakan kepada kelas ini, untuk melaksanakan pemilihan ketua murid terlebih dahulu. Ibu luangkan jam mengajar Ibu untuk hal itu. Hanya saja, Ibu titip, laksanakanlah hal itu secara demokrasi, ya. Jangan kayak kelas sebelah, tidak demokratis. Mereka tidak mengadakan pencalonan ketua dan juga pemungutan suara."
Beberapa siswa di kelas itu mengernyit, sedikit kebingungan. Karena sebenarnya, kelas X IPS 2 pun sudah mempunyai satu nama untuk kemudian disepakati bersama sebagai ketua murid. Namun memang belumlah sempat, mereka memusyawaratkan itu.
Sebagian besar siswa memang tak gemar berpikir. Himbauan Bu Ani seakan-akan menjadi fatwa yang wajib diamini. Sehingga mereka serasa akan berdosa jika tak memenuhi apa yang gurunya katakan. Beberapa orang yang mengernyit akhirnya terhegemoni oleh kebanyakan siswa yang tak gemar berpikir itu.
Suara orang banyak menggema di telinga Bu Ani. Mengiyakan himbauannya. Sehingga Beliau bersenang hati, segera menyambut kontestasi politik di dalam kelas. Meski pada kenyataannya, Ia harus menjeda terlebih dahulu. Karena ada bunyi lonceng yang mempersilakan mereka semuanya untuk keluar kelas, melakukan istirahat.
___
Ketika istirahat, siswa kelas X IPS 2 yang bernama Ari, menemui teman sekelasnya, Jaya. Ia bertanya. "Jaya, apakah Kamu mau mencalonkan diri jadi ketua murid?
"Bukankah kita sudah mempunyai satu nama untuk menjawab hal itu?" Jawab Jaya.
Lantas Ari mengatakan, "Aku pikir kamu layak. Dan Aku siap menjadi pendukungmu."
"Memang apa keuntungannya menjadi ketua murid?" Jaya penasaran.
"Kamu bisa terkenal, di kelas, se-angkatan, bahkan se-sekolah. Kamu akan akrab dengan guru-guru. Kamu akan menjadi orang terdepan dari kelas ini."
Paparan singkat Ari betapa menggiurkan bagi Jaya. Ia terbayang akan hal itu.
"Aku pikir Kamu layak, Jaya. Aku akan mendukungmu. Tapi kalau nanti kamu menang, terpilih, traktir Aku ya... " Sambung Ari.
"Wah, siap, gampang!" Timpal Jaya.
___
Di tempat lain, Ari meminta dukungan untuk Jaya kepada Amir. Karena tubuh besar dan kekar Amir, tak diragukan lagi kalau Ia adalah orang yang pasti disegani teman-teman sekelasnya. Dan apa yang diperintahkannya, kemungkinan besar pasti dituruti.
Meski Ari juga tahu bahwa Amir sebenarnya sudah mempunyai satu nama yang sama dengannya, siapa yang hendak dipilih menjadi ketua murid, namun itu tak lantas memudarkan rencana Ari untuk menemui Amir di sana.
"Amir, Jaya akan mencalonkan diri menjadi ketua murid. Kalau Kamu memilihnya, nanti Jaya akan mentraktir Kamu. Tadi juga, Aku sudah melakukan perjanjian itu sama Dia. Bagaimana, Kamu mau?"
Di tengah teman-teman yang lain, Amir menyatakan kesiapannya untuk mendukung Jaya.
Ari senang betul. Ia mengira, teman-teman lain yang menyaksikan keberpihakan Amir, pasti menurutinya.
____
Kontestasi politik di dalam kelas X IPS 2 terjadi. Sampai kepada pemungutan suara. Dari Dua calon yang ada, hasilnya, Jaya kalah dari satu nama yang sudah menjadi pilihan siswa kelas itu sejak awal.
Kegaduhan luar biasa terjadi. Prosesi pemilihan ketua yang semestinya penuh khidmat dan sakral, sama sekali tidak terwujud. Siswa-siswi begitu pecicilan sambil cengengesan. Teriakan-teriakan tidak senonoh terlontarkan. Namun mereka seolah-olah tidak dalam kebisingan. Dan menganggap kegaduhan itu sebagai euforia. Biasa.
Satu nama itu dielu-elukan sebagai pemenang. Jaya sungguh-sungguh merasa terhina dalam kekalahannya.
Ari berada dalam kenaifan. Apakah harus berbahagia sebagai siswa kelas tersebut yang mendapatkan seorang ketua? Sedang di sisi lain, kegetiran melanda Jaya. Ataukah harus bersedih-hati sebagai pendukung Jaya? Sedang di sisi lain, teman-temannya sendiri dalam sukacita.
____
Sepulang sekolah. Amir menjumpai Jaya. Menagih apa yang dijanjikan oleh Ari. Namun Jaya yang tidak tahu-menahu, enggan memenuhinya. Karena Ia merasa tak pernah menjanjikan hal itu. Terlebih lagi, karena toh Ia tidak mendapatkan sebuah kemenangan.
Ari yang juga ada di sana, memaklumi kondisi Jaya yang menderita kekalahan. Sehingga Ia tak mengungkit soal traktiran itu. Berbeda dengan Amir yang sama sekali tak peduli akan hal itu. Sehingga pada akhirnya, bogem mentah dari Amir didaratkan ke pipi Jaya yang tak kunjung mau memberikan sesuatu materi.
Ari dan Jaya tak berdaya. Mereka berdua hanya mampu memohon ampun dan menahan dendam kepada Amir.
Lantas Amir pun memarahi teman-temannya yang mengikutinya di sana. Karena ternyata mereka tidak memilih Jaya untuk menjadi ketua murid. Sehingga Jaya kalah dan Ia tak mendapatkan traktiran itu.
Salah satu dari temannya Amir angkat bicara. "Aku menyeganimu. Terkadang Aku pun mau menuruti titahmu. Tapi tidak untuk hal prinsipiel seperti ini, Amir. Sorry! Aku pikir, Kamu ingat dengan doktrin yang pernah Kamu bagikan sendiri kepada Kita,"
Amir mengelak dari kemarahannya setelah mendengar perkataan itu. Ia kemudian berlalu. Meninggalkan semua teman-temannya di sana. Teman-teman Amir pun berpencar, pulang ke rumahnya masing-masing dengan perasaan gusar, tidak karuan.
Ari memapah Jaya, mengantarkannya pulang.
Mereka semua adalah temen satu kelas. Yang tiba-tiba menjadi berkubu-kubu. Yang kian hari, kemungkinan besar aroma perpecahan di antara mereka semakin kental. Kecuali kalau mereka mau menanggalkan egoisme mereka masing-masing dan kembali kepada hal yang Satu, kebersamaan yang jernih.

Di Kelas X IPS 1.
Ada siswa yang bertanya kepadaku. "Pak Nur, apakah lebih baik memilih ketua murid yang muslim tapi malas, atau yang non muslim tapi rajin?"
Aku sangat bingung untuk memberikan jawabannya. Karena Aku pikir, orang yang malas itu, berarti Ia bukanlah orang yang muslim. Dan aneh juga rasanya kalau ada orang yang rajin, tapi disebut sebagai orang non muslim.
Namun pertanyaan tetaplah harus dijawab, akhirnya Aku memberikan jawaban kepada seorang siswa  itu, persis seperti apa yang baru saja Aku pikirkan.
Lantas siswa itu menjelaskan lagi, "Maksudnya, yang malas itu, agama di kartu pelajarnya: Islam, Pak, dan yang rajin itu bukan Islam. Jadi kita lebih baik memilih yang mana?"
Seketika Aku mengatakan bahwa Aku lebih baik mengundurkan diri saja sebagai wali kelas, daripada harus menyelesaikan permasalahan ini. Supaya siswa-siswi dapat membahas perihal pemilihan ketua murid dengan guru yang lain.
Siswa itu malah berseloroh, "Wah, Pak, permasalahan itu untuk dihadapi, Pak, bukan dihindari."
Luar biasa! Betapa membanggakannya mempunyai anak didik yang semacam itu.
Namun oleh sebab itu, terpaksa Aku menjawab, "Lebih baik yang rajin, dan agama di kartu pelajarnya: Islam. Kamu Islam kan? Maka Kamu harus rajin, dan menjadi Ketua Murid!"
Ada sebagian siswa yang menganggap itu sebagai sebuah jawaban cemerlang, ada juga yang menganggap itu sebagai sebuah dikte, otoritarian.
Seketika,seorang siswa itu mengeluh, "Wah, Pak, kalau itu Saya belum sanggup, enggak sanggup, malah,"
Teman sebangkunya lantas berseloroh, "Harus sanggup dong, hadapi, jangan dihindari!"
Seisi kelas terbahak-bahak.
Aku menyerahkan sepenuhnya soal struktur organisasi di dalam kelas kepada segenap siswa-siswi.

Di rumah Bu Ani.
Di ruang keluarga, Bu Ani mengiyakan nasihat Ibunya untuk Sang adik, yaitu kepadaku.
"Iya, Nur, benar kata Ibu, Kamu harus punya usaha lain, selain menjadi guru honorer. Laki-laki itu kariernya harus bagus, supaya mapan. Kamu jangan cuman berpangku pada gaji honorer yang segitu. Kamu harus berani keluar dari zona nyaman. Supaya mapan." Papar Bu Ani, Kakakku.
Aku hanya bisa tersenyum, mengiyakan.

Keesokan Hari di Kelas X IPA 1.
"Untuk pertemuan pertama Kita kali ini, Ibu luangkan jam mengajar Ibu, supaya diisi oleh kalian melakukan pemilihan ketua murid, ya. Apalagi bulan ini adalah bulan ulang tahun Pemilu negara Kita. Jadi momennya pas untuk Kita dapat mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi. Silakan!" Himbau Bu Ani.
Seorang siswa menjawab. "Iya, Bu, kebetulan, Kami sudah memufakati bersama bahwasanya Agung siap menjadi ketua murid."
"Tidak begitu! Kan Ibu bilang harus ber-demokrasi. Jadi harus ada pencalonan, kontestasi, dan pemungutan suara. Voting!" Tanggap Bu Ani.
Kedaulatan siswa di kelas itu serasa dibuat bingung oleh Bu Ani. Tapi apa daya, guru sebagai orang yang dituakan di sekolah, akan menjadi dosa besar nampaknya, jika pendapatnya tak diamini. Begitu prasangka para murid di kelas itu.
Aku lantas memanggil Bu Ani keluar kelas setelah para murid mengiyakan pendapatnya itu.
"Ada apa Nur?" Tanya Bu Ani.
"Bagaimanakah Kakak mengajarkan demokrasi kepada Anak-anak? Mereka sudah mempunyai kedaulatan bersama sebagai siswa di kelasnya dalam memilih ketua murid. Dan itu dengan cara mereka bermusyawarah, tanpa tekanan dari siapapun, tanpa diskriminasi, tanpa kepentingan apapun. Mengapa Kakak mendistorsi hal itu? Apakah Kakak belum tahu kasus yang dialami Kelas X IPS 2 setelah kemarin itu? Mereka jadi ribut-ribut, jadi terpecah belah," paparku.
"Maksud Kamu apa sih, Nur? Kakak hanya sedang menjalankan apa yang Kakak ketahui. Demokrasi itu, ya seperti itu. Kalau Kamu tidak setuju, bilangnya jangan ke Kakak, dong!"
"Bukan tidak setuju, Kak! Coba Kakak pelajari demokrasi secara utuh, jangan hanya terkungkung pada satu pandangan politisi, apalagi pada realitas hari ini. Kakak harus bisa keluar dari zona nyaman pemikiran Kakak. Khususnya tentang demokrasi ini. Bukankah demokrasi itu artinya kedaulatan rakyat? Konteksnya di sekolah, berarti kedaulatan siswa dong? Mengapa ketika Anak-anak sudah berada pada kedaulatannya sendiri di dalam kelas untuk menentukan seorang ketua, Kakak sebut mereka tidak demokratis?"
Kakakku terdiam.
Aku bersyukur kalau-kalau Kakakku mau merenungkannya. Karena zona nyaman yang membahayakan itu bukan semata-mata hanya pada persoalan materialistik, zona nyaman pemikiran doktrinik juga tak kalah membahayakan. Sehingga patutlah Kita berusaha keluar daripada itu.
Aku mengehela nafas. Berusaha menenangkan diri, juga Kakakku. Sesopan mungkin, Aku meminta maaf kepadanya.
"Maaf Kak, Ani, kalau Nur lancang. Nur hanya ingin Kita berhati-hati dalam tanggung-jawab Kita mengajar kepada Anak-anak. Semoga Kita dapat saling menasihati satu sama lain, dalam upaya tulus Kita mencerdaskan generasi bangsa."
Bu Ani menatapku dengan mata berbinar. Ia tersenyum, kemudian memelukku.

Pada hari ulang-tahun Pemilu.
Ketua KPU yang entah siapa namanya, Aku lupa lagi, mengumumkan berita nasional bahwa pada tahun 2024 nanti, negara tidak akan lagi mengadakan Pemilu seperti biasanya. Untuk itu, Beliau memberikan kepercayaan kepada Cak Nun supaya membangun ideal moral bangsa Indonesia. Terutama membumikan hakikat kepemimpinan. Bahwa sejatinya, manusia itu adalah kholifah Allah di muka bumi, yang berarti manusia itu berjalan di belakang Tuhan, yang maksudnya, semata-mata hanya Allah-lah hakikatnya pemimpin umat manusia. Maka manusia itu sendiri, harus sadar betul bagaimana detail-detail kehidupannya menjadi representasi Tuhan di muka bumi ini. Saling mengasihi, menyayangi. Mengamankan dan menyelamatkan satu sama lainnya. Karena tanpa kedewasaan, keluasan berpikir serta lapang dada, kedaulatan bersama itu muskil terwujud.
Betapa girangnya Aku mendapatkan berita itu.
"Hore! Tidak ada voting lagi, tidak ada voting lagi! 2024 tanpa voting! Indonesia Satu! Satu Indonesia! Tanpa kubu-kubuan!"
Aku berlari-lari seraya meneriakkan itu, kegirangan. Berlari-lari mengitari negeri ini. Sebelum akhirnya terhenti oleh Ibu yang membangunkan Aku dari tidur lelapku.
"Ah, mimpi!?" Aku merasa sial.
"Ayo subuh dulu, Nur! Bangun, supaya mimpi-mimpimu segera terwujud!" Tandas Ibu.


Oleh Budi Hikmah

Post a Comment

0 Comments