Senja Indah Dengan Hujan


Hari ini, 11 November kurang lebih, waktu menunjukan pukul 17.06 dimana penulis sedang dalam sebuah perjalanan menuju suatu tempat untuk sekedar berkumpul melaksanakan ngopi bersama kawan-kawan yang biasa penulis melakukannya bersama mereka.

Yang ingin penulis ceritakan disini, hanyalah sebuah ungkapan tentang indahnya dunia. "Senja Indah Dengan Hujan".

Akhir-akhir ini memang bumi kita sudah meninggalkan masa kemaraunya, mungkin ini bagian dari proses untuk perpindahan musim menuju musim penghujan. 

Inilah yang sudah sekian lama kita tunggu, sudah terlalu lama rasanya musim kemarau menemani kehidupan kita, yang ditakutkannya berbagai bencana sudah melanda beberapa tempat ; ada yang dengan kekeringannya, kebakarannya dan lain-lain yang masih berhubungan dengan kemaran. Namun, maksud penulisan ini bukanlah kesana. Penulis memiliki sebuah ungkapan yang penulis sendiri merasa kagum dengan keindahan ini.

Senja, sudah kita ketahui bersama senja itu adalah pergantian waktu dari siang menuju malam, dari terang menuju gelap atau dalam islam itu waktu maghrib.

Orang-orang selalu mengejar waktu ini karena ada keindahan tersendiri ketika melihat matahari yang sedang tenggelam, atau kita sering menamainya dengan Sunset. 

Yang penulis alami tadi bukanlah mengenai matahari. Melainkan keindahan yang penulis lihat dijalanan ketika senja baru saja diguyur hujan, dan mulai reda (masih gerimis kecil). Waktu itu penulis merasakan ketenangan dan rasa sejuk. Seakan dunia ini terasa lebih damai, lebih bersahabat hingga alampun terasa lebih indah.

Mungkin pembacapun pernah merasakan indahnya senja, indahnya hujan. Namun penulis sekarang merasakan keindahan dari keduanya. 

Berbicara keindahan senja penulis teringat kata-kata Sujiwo Tejo ;
"Kenapa aku suka senja? Karena negeri ini kebanyakan pagi, kekurangan senja, kebanyakan gairah, kurang perenungan".

Penulis sepakat memang dengan yang dikatakan Sujiwo Tejo tersebut. 'Kebanyakan gairah, kekurangan perenungan'. Semoga ini menjadi pengingat untuk kita bahwa hidup ini tak melulu soal gairah tapi juga harus ada perenungan sebagai evaluasi diri, ngaca diri, ngaji diri untuk mengukur kebenarannya hidup. Agar hidup ini tidak menyakiti kehidupan yang lainnya.

Posting Komentar

0 Komentar