Pahlawanku Pahlawanmu Pahlawan Kita

Foto; Penulis,  Budi Hikmah

Oleh: Budi Hikmah

Sekemarau gurun
Segerimis pasir
Buah-buahannya manis
namun pemerintahannya busuk
Tak ada siang tak ada malam di sana
yang ada hanyalah kegelapan
Sampai lahirlah Cahaya yang sinarnya menunjukkan
mana manis, mana yang busuk
Sehingga yang memilih manis, Ia mendapat akibatnya sendiri
Sehingga yang memilih busuk, Ia mendapat akibatnya sendiri
Satu buah busuk, dapat membuat busuk
seribu buah manis yang tercampur padanya
Pindah, pergi, tinggalkan yang busuk!
Niscaya manis tetap padanya
Cahayaku, sinarmu mempertunjukkan
Kau pahlawanku

Tak ada pasar, yang se-agung pasar bercahaya
Bersinar terang, menujukkan:
mana semangka, kelapa, pepaya, pisang, juga anggur
mereka berbeda di dalam tujuan yang Satu
sebagai nutrisi ideologi
Kalau yakin soal adanya surga dan neraka
mengapa masih hidup dalam benturan untung dan rugi
Hidup adalah untuk saling berbelas kasih; untuk mengabdi
lain ngadeluk ne`angan bati
Di tempat kepindahannya
sinar Cahaya semakin terang benderang
Mengungguli kegelapan yang menantang
Memerangi kegelapan yang merintangi
Demikian sinar cahayanya, benar-benar mempertunjukkan
Bukankah Ia pahlawanmu?

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar
Laailaahaillallahu Allahuakbar
Allahuakbar walillahilhamd(u)
Berangkat bersama kedamaian
membawa aman dan kebijaksanaan
Atas nama keselamatan
pengkhianatan, harus dituntaskan
Ia tak membawa palu apalagi arit
mengapa kalian terbirit-birit
Mengeluarkan jeritan
dari pintu-pintu kesalahan
yang dibangun oleh kejahilan
Apakah kesalahan Cahaya
apabila sinarnya membunuh kegelapan yang menerjang
Apakah kesalahan Cahaya
tatkala sinarnya menunjukkan
keserakahan yang musti diluluh-lantakkan
Inna fatahna laka fatham mubiina
Wahai Cahaya, sinarmu telah menerangkan segalanya
Kau pahlawan kita semua

Purwakarta, 12 Rabiul Awal 1441 H

Posting Komentar

0 Komentar