Sabtu, 01 Juni 2019

Push-Truth Era


Dalam era digitalisasi ini tidak bisa kita pungkiri bahwa manusia saat ini tak bisa lepas dari Gadget dan Sosial media. semua serba cepat, mudah dan instan. Internet seakan-akan sudah menjadi kebutuhan primer. Kita dapat dengan mudah mencari informasi di Search Engine tanpa harus membaca buku. Akan tetapi, tak hanya dampak positifnya saja yang bisa kita dapatkan atau kita rasakan di era digital ini, namun juga terdapat dampak negatifnya yang perlu kita perhatikan. Salah satunya adalah bersuara tanpa adanya tanggung jawab. Perkembangan dunia digital membuat semua orang lebih berani bersuara melalui media sosial, namun sangat disayangkan hal ini tidak diiringi dengan tanggung jawab, sehingga memicu terjadinya Cyber Bullying. Tak hanya itu, penyampaian informasi tanpa tanggung jawabpun menyebabkan banyaknya berita Hoax tanpa ada saringan saat mempublikasikannya.

Ada sebuah produk baru yang lahir dari Post-modernism saat ini yaitu Post-truth Society. Steve Tesich adalah orang pertama yang menggunakan istilah Post-truth. Ia menggunakan istilah tersebut dalam artikelnya yang berjudul The Government of Lies di majalah The Nation yang terbit pada tanggal 6 Januari 1992. Ia mengambil latar belakang Skandal Watergate Amerika 1972-1974 maupun perang Teluk Persia untuk menunjukkan situasi masyarakat pada saat itu yang tampaknya “nyaman” hidup dalam dunia yang penuh kebohongan. Singkatnya Era Post-truth adalah era dimana manusia hidup dalam kebohongan dan menganggap hal tersebut tidak lagi sebagai masalah besar.

Penyebaran Hoax sendiri digunakan untuk menimbulkan rasa Distrust (Kurang Percaya) yang mempengaruhi emosi sosial. Di era Post-truth, persoalan uji kesahihan informasi yang beredar tidak lagi dianggap sebagai hal yang harus dilakukan, dikarenakan masyarakat era Post-truth secara psikologis mudah melekatkan diri kepada kelompok sosial tertentu dimana kebenaran mayoritas (walaupun tidak sesuai fakta) dianggap sebagai kebenaran sejati. Apakah suatu informasi itu benar atau Hoax tak lagi menjadi perhatian manusia.

Diperlukannya sinergitas dari semua pihak untuk mencegah maraknya kebohongan yang hadir di era Post-truth. Masyarakatpun dituntut untuk mulai cerdas, memilah sumber berita, tidak mudah terpancing dengan informasi yang belum jelas kebenarannya. Post-truth adalah era, dimana kebenaran itu disembunyikan maka gunakan rasionalitas dan pengetahuan untuk menemukan kebenaran.

Fajar Fitriadi Sofiyan
Sekretaris Umum Permata Cabang Purwakarta

Purwakarta
Kamis, 30 Mei 2019
05:22

Bacaan :
Kurniawan Trio, GEOTIMES, 29 Oktober 2018, “Membunuh Hoaks: Rekonstruksi Nalar Manusia Era Post-Truth”.
Utama Putra Wahyu, Kompasiana, 08 April 2019, “Kuasa dan Hoaks di Era Masyarakat Post-truth”.
Push-Truth Era
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.