Sabtu, 22 Juni 2019

Efek Zonasi Untuk Pendidikan


Sistem Zonasi adalah sistem dimana siswa mau bersekolah disekolah tersebut jarak rumahnya harus sesuai dengan batas radius maksimal yang telah di tetapkan oleh pemerintah, yaitu 1-2 KM untuk TK/SD, 5-7 KM untuk SMP, 10-12 KM untuk SMA. Jika siswa jarak rumahnya melebihi batas radius yang telah di tetapkan, maka bisa saja siswa tersebut di tolak, atau bisa di terima lewat jalur prestasi setelah 90% zonasi telah terpenuhi di sekolah tersebut.


Pihak yang di rugikan dan pihak yang di untungkan selalu ada, seperti halnya siswa yang berprestasi terhambat cita-citanya dengan kualitas pendidikan di sekolah sekitar rumahnya, dimana siswa tersebut telah meyakini bahwa di sekolah luar daerah sangat berkualitas dan bisa mengantarkan dirinya kepada cita-citanya.

Selain itu, sekolah yang tadinya kurang diminati, makin bertambah siswa-siswa yang masuk dikarenakan populasi di daerah tersebut yang sangat banyak di tambah dengan kurangnya fasilitas pendidikan yang ada.

Dalam hal ini, pemerintah menerapkan kebijakan bukanlah suatu kesemena-menaan, melainkan dengan tujuan yang jelas seperti apa yang telah di katakan oleh Mendikbud "target Zonasi bukan hanya pemerataan akses pendidikan saja, tetapi juga pemerataan kualitas pendidikan" - kata Mendikbud pada tahun 2018.

Harapan dari kebijakan ini, semoga semangat siswa untuk terus mengemban ilmu tidak melemah, walaupun siswa harus sekolah di dekat rumahnya yang mungkin kualitasnya kurang yang diakibatkan faktor lingkungan atau sebagainya.  Sehingga tidak ada anak/siswa yang terlantar bahkan merasa kurang nyaman berada di sekolah yang tidak ia inginkan.

Pun di balik itu, singkronisasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan bisa sinkron sehingga tidak ada lagi penutupan-penutupan sekolah yang malah menjadi beban kepada masyarakat dan juga siswa.
Efek Zonasi Untuk Pendidikan
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.