Berlebaran Ala Aktivis

Budi Hikmah

Senin malam Selasa, Adam dibuat bingung, bingung sekali. Oleh kenyataan sebagian Umat Islam di negerinya yang hendak merayakan Idul Fitri pada Hari Selasa, sedang Pihak Pemerintah resmi memutuskan bahwa Hari Raya Idul Fitri itu jatuh pada Hari Rabu. Adam berpikir, jika Ia mengikuti pernyataan sebagian Umat Islam itu, enak, besok pagi Ia sudah bisa sarapan bubur, makan mi instan di siang hari, lalu menikmati kopi sampai pudarnya senja nan jingga itu. Namun begitu, bayangan dosa menghantuinya kalau-kalau keputusannya tidak sesuai dengan Pemerintah, sebab mereka itu (dianggap) sebagai Ulil Amri yang patut ditaatinya. Dan jika Ia mengikuti keputusan Pemerintah, memang tak kalah enak, berarti Ia bisa melakukan mudik dengan khidmat dan akan dapat mengumandangkan takbir di kampung halamannya. Namun begitu, bayangan dosa menghantuinya pula kalau-kalau di sisi Allah Idul Fitri itu Selasa, maka haramlah sebagai Umat Islam itu masih berpuasa. Dipertahankannya kebingungan itu, sehingga Ia mendapatkan suatu petunjuk. Bahwa, yang hendak merayakan Idul Fitri pada Hari Selasa itu ternyata Umat Islam Radikal, yang di negerinya ter-cap sebagai golongan tak patut diikuti. Meskipun menurutnya, mempelajari Islam itu semestinya-lah radikal (mengakar), sehingga hidup dan bertumbuh, supaya kemudian dapat berbuah. Bukan menjadi umat yang daun, yang malah berguguran pada akhirnya, atau menjadi umat yang ranting, yang kemudian dapat dengan mudahnya ditebang tangan-tangan jahil, perusak. Pun bahwasanya, Pemerintah yang memutuskan Idul Fitri pada Hari Rabu itu boleh-boleh saja dikritisi. Sebab Ulil Amri itu sendiri barangtentu berada pada sistem kepemimpinan Islam/ Diinul Islam, yang hari ini, sistem tersebut tidak tampak sama sekali keberadaannya di belahan dunia mana pun apalagi di dalam negerinya. Adam semakin bingung. Tetapi Ia mencukupkan kebingungannya, Ia tak sampai mau ambil pusing. Malam itu Ia memilih fokus saja meyakinkan dirinya untuk melakukan perjalanan mudik.

Setelah Tujuh Jam perjalanan, Adam tiba di Balik Jawa, bumi yang membesarkannya. Udara dingin permukiman desa wilayah pegunungan yang hendak menusuk tak ditakutkannya sebab Ia tak ragu lagi akan kehangatan yang didapatnya saat tiba di kampung halaman: berjumpa dengan keluarga, bersua sanak saudara. Menariknya, perjalanan mudik tahun ini tak terhiasi kemacetan berarti. Terbukti, Adam bisa sampai dengan Tiga jam lebih cepat daripada tahun-tahun lalu. Namun menurutnya, kemacetan itu berpindah dari perjalanan ke dompet-dompet para Mudikers. Dan itu bukan hanya pengakuannya. Banyak kawan-kawannya yang mengeluhkan ongkos mudik tahun ini. Bahkan salah satu kawan yang memakai roda empat pribadi sampai ada yang mengatakan, masih mending biaya penambahan bahan bakar dan jajan dalam perjalanan sebab macet di tahun-tahun lalu daripada biaya ongkos tol tahun ini. Belum lagi keluhan-keluhan kawannya yang tinggal di daerah langganan kemacetan: di Lingkar Gandrex dan Jalur Pastura. Katanya, gara-gara yang mudik itu menggunakan jalan tol, uang-uang dari menjadi pedagang asongan dan jasa-jasa lainnya menghilang. Jalan tol terkesan bagai buah simalakama. Namun Adam menyadari, kehidupan di bawah naungan sistem kelas kakap memang progresif. Tanpa menjadi kaya raya, kesusahan demi kesusahan akan menimpa. Tak dipedulikan lagi apakah itu yang diridhoi Allah atau bukan.

Seselesainya beristirahat, Adam mengira takkan dijumpai lagi keluhan-keluhan. Namun ketika Ia berkumpul bersama teman sebayanya, mereka justru mempertanyakan Pilpres di negerinya yang baru beres kemarin. Sebuah persoalan politik yang menjemukan bagi Adam, meskipun sebenarnya Ia sangat peduli akan hal itu. "Politik itu berat, biarin aja," seloroh Adam.

Saleh menimpali, "Kita tetap harus berusaha menemukan solusi dong, supaya gak sampai bikin kerusuhan segala. Nah, solusinya itu mesti bagaimana?".

Adam tak habis pikir, pemuda desa di pelosok negeri, yang teramat jauh dari Ibukota, yang hanya sekadar buruh tani, mau-maunya memikirkan persoalan negara. "Ya kalau gak mau rusuh, kontestannya harus ditambah, jangan Dua. Dan menurutku, Capresnya itu gak usah Pak Jakari dan Pak Proburu lah. Masih banyak kok tokoh-tokoh lain yang kompeten untuk jadi pemimpin. Ada Cak Nun, Cak Nur, Adi Hidayat, Budi Hikmah, Gus Mus, yaaa itulah."

"Maksudnya begini, Dam, kita butuh solusi untuk tindakan apa yang seharusnya kita lakukan di tengah gejolak politik nasional bahkan mungkin internasional seperti ini. Kita di sini tahu, kamu kan aktif di organisasi kampus di sana. Ya, share lah sama kita-kita," papar Idris, temannya.

Betapa tergugahnya Adam. Ia bergumam, "Terkadang orang lain memang suka selucu itu. Aku, mahasiswa fakultas kesehatan diminta memberikan solusi terkait persoalan politik. Apa mereka kira penyakit kronis tokoh-tokoh yang rakus dan haus kekuasaan itu bisa disembuhkan dengan diobati Amoskilin atau Parasetanmol?"
Namun Adam sadar, pertanyaan adalah pertanyaan, yang harus dijawab. Sekalipun datangnya dari seorang yang buta, janganlah kita malah bermuka masam. Apalagi ini, dari sahabat sendiri yang jelas-jelas melek (politik). 

"Menurutku, masalahnya dimulai dari prosesnya, sih, dari akar. Kalau tujuan kita (bernegara) adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, maka segala persoalan itu haruslah dijawab dengan permusyawaratan, sampai mufakat. Dengan demikian, kita pun bisa menunjukan bukti persatuan sebagai Satu bangsa. Jangan sampai keputusan itu diambil dengan voting, sebab itu sama sekali tidak mencerminkan sikap orang yang penuh hikmat; kebijaksanaan. Aku yakin, itu semua dapat terwujud ketika orang-orang mampu berprikemanusiaan. Dan sudah barang tentu, orang yang paling manusia hanyalah Muhammad sholallahu alaihi wa salam, yang berketuhanan dengan sebenarnya, yang patut dijadikan teladan." Kesembilan teman sebayanya itu begitu memerhatikan penjelasan Adam.

"Tapi sih, kalau kita mau mengambil langkah personal, umpamanya tujuan bernegara: kesejahteraan rakyat, keadilan sosial itu adalah Bandung. Supaya bisa sampai ke sana kita perlu kendaraan, terutama tahu jalannya. Kalau tidak punya apa-apa, kita bisa meminta bantuan teman yang punya kendaraan dan tahu jalannya untuk dapat mengantarkan. Kalaupun tidak dengan cara itu, bisa dengan cukup bertanya saja supaya tahu jalannya, lalu mengumpulkan harta supaya mempunyai kendaraan sendiri. Yang terpenting kita (sudah) tahu dan bertekad untuk dapat ke sana. Soal sampai atau tidak, biar Allah yang menjawabnya. Maka dari itu, untuk meraih tujuan bernegara tadi, apakah kita punya power sebagai kendaraannya. Apakah kita seorang publik figur, pengusaha sukses, aparat pemerintahan, putra dari yang terhormat, atau masih sekadar anak yang bandel di dalam rumah tapi baik di luar rumah. Pada akhirnya yang lebih penting dari bernegara adalah ridho Allah. Maka apakah kita sudah tahu ilmunya supaya dapat berbangsa dan bernegara dalam keridhoan Allah. Kalau belum, solusinya sederhana, kita cukup belajar saja dulu dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Jadi, mulai dari sekarang, ayo kita sama-sama belajar; berusaha meneladani Rasulullah." Lanjut Adam.

"Sesederhana itu Dam?" Singkat Saleh.
"Ya, hanya hamba-Nya. Yang perlu mempelajari ajaran-Nya, mengamalkannya, lantas menyiarkannya; berdakwah." Jawab Adam. 
"Aku bingung Dam, bagaimana mungkin orang yang baru (mau) belajar Islam, lantas berdakwah?" Tanya Mumus.
"Iya Dam, dakwah bagaimana yang kamu maksud?" Tambah Idris.
"Wa amma bini'mati robbika fahaddits", Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan[93:11]. Prinsip berdakwah itu sederhana, bukan hanya soal seberapa tinggi ilmu yang kita punya, melainkan seberapa ikhlas kita dalam upaya menyampaikan yang haq dan bathil, menyiarkan segenap nikmat yang senantiasa dianugerahkan-Nya. Misalnya kita mendapatkan nikmat ilmu tentang sejarah Nabi Nuh alaihi salam yang begitu inspiratif: di tengah-tengah kaum yang jahil, syirik, zalim dan kabar segera datangnya azab dari Tuhan, Beliau kemudian membuat bahtera dengan penuh kesabaran. Sampai akhirnya menjadi Furqan, antara orang-orang yang menaatinya, selamat, bersama-sama dengannya di atas bahtera, dan orang-orang yang mengingkarinya, celaka, tenggelam di dalam air bah yang keluar dari bumi serta turun dari langit. Maka nikmat ilmu tersebut, siarkanlah! Setelah kita sendiri mengambil pelajaran dan mengamalkannya, bersegera mencari lalu menaiki bahtera Nuh era milenial." Jelas Adam.

Semua sahabatnya itu menerima informasi dari Adam kecuali Yunus. "Apakah perubahan bisa terjadi tanpa kita melakukan perubahan itu sendiri? Aku melihat gagasan kamu begitu khusus, sedang kami menginginkan perubahan umum, Dam." Ujarnya.

Tetiba Yusuf datang. Saleh sumringah melihat kedatangan Yusuf yang kesorean itu. Berarti Ia menggenapkan kesembilan sahabat Adam menjadi Sepuluh, seraya membisik di dalam hatinya, "Jangankan negeri ini, dunia dengan sistem kelas kakap-nya itu pun, segera kita goncangkan!"
Yunus yang iseng, seketika menutup obrolan bersama-sama sahabatnya itu pas Yusuf hendak bergabung. Dia bermaksud memunculkan canda tawa bersama-sama dengan berkelakar kepada Yusuf. Pertanyaan terakhirnya kepada Adam, seolah tak dipentingkannya lagi. Yunus bilang, "Iya, silakan Adam memberikan closing statment-nya, sebelum kita tutup forumnya."

"Wah, forum apa nih, kok udah mau ditutup aja," Semuanya terbahak-bahak menyaksikan keluguan Yusuf. Canda tawa tercipta, tali silaturahmi terjalin kuat.

Akhirnya Adam memungkas obrolan, "Menurut HOS. Tjokroaminoto, revolusi itu dari kata evolusi, dengan huruf "R" yang berarti "Rakyat". Maka bagi Para Pemuda yang membutuhkan hal-hal revolusioner, evolusikan-lah Rakyat dari gelap menjadi terang; Islamisasi. Yaitu berdakwah."
Seminggu kemudian

Sehari sebelum Adam terpaksa pergi untuk sementara waktu dari kampung halamannya, Ia bersama sahabat-sahabatnya mendeklarasikan sebuah wadah perkumpulan sebagai media ukhuwah islamiyah, media berbagi ilmu dan juga media berbagi harta, bernama: Umat Rasulullah. Perkumpulan yang digagas Adam itu diamini oleh banyak pihak terutama sahabat-sahabatnya. Ada pun program yang telah disepakati bersama yaitu:  Membuka komitmen keanggotaan, mengadakan kajian Tarikh Nabi 2 kali dalam 1 bulan, memberikan santunan kepada yang berhak menerimanya 1 kali dalam 1 bulan.

Nama perkumpulannya itu dipilih, sebab Adam merasa tidak ada nama bendera lain yang pantas kecuali Umat Rasulullah. Terbukti benar, ketika mengajak sahabat-sahabat yang lain bergabung, komitmen yang ditawarkan adalah untuk masuk menjadi Umat Rasulullah bukan untuk menjadi kader bendera warna-warni bersimbol lainnya.

Oleh Budi Hikmah
PERMATA Cabang Purwakarta

Posting Komentar

0 Komentar