Kamis, 27 Juni 2019

Arkeolog PERMATA Kembali Meneliti Situs Sejarah Patilasan Sangkuriang


PURWAKARTA - Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) Kembali Mendalami Temuan Situs Sejarah Petilasan Sangkuriang di Kampung Ciputat, Desa Kutamanah, Sukasari - Purwakarta untuk yang ke tiga kalinya.

Dalam penelitiannya, tim arkeologi kembali menemukan hasil yang mencengangkan dimana pada saat melakukan proses validasi terdapat dua batu yang usianya sangat tua. Untuk temuan batu pertama, yang memiliki konstruksi berupa menhir (BATU TUNGGAL) ini berusia 1621 SM. Sedangkan, pada temuan batu kedua dengan konstruksi berupa bekas runtuhan menara berusia 2400 SM.


Dalam hal ini, Ketua tim arkeologi (PERMATA) Indra Nugraha menyatakan bahwa hasil dari penelitian kali ini benar-benar memuaskan. "Menurut saya kita harus lebih fokus dan serius dalam menangani situs sejarah ini, apalagi hasil penelitian tadi sangat memuaskan. Belum lagi, hasil dari penelitian pertama juga hasilnya cukup mencengangkan. Kita pun sudah membawa satu buah batu untuk dijadikan sebagai sampel dan dilakukan validasi / pengujian lebih intensif di Dinas Kepurbakalaan Provinsi. Dan setelah di lakukan penelitian hasilnya pun positif dimana usia batu tersebut yakni, 1227 Ths. Artinya situs ini di bangun pada tahun 792 M (abad ke-8). Dalam hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat tiga fase kebudayaan yakni 792 M, 2400 SM, dan 1621 SM. Hal ini pun menjadikan kebanggaan bagi kami dan seluruh masyarakat Purwakarta." Ujarnya di lokasi pada Rabu (26/06/19).

Masyarakat setempat pun sangat senang akan hasil penelitian tersebut. Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (permata) berkomitmen akan terus melakukan penelitian ini, serta ikut menjaga dan melestarikan situs peninggalan leluhur Nusantara. Selain itu, kami juga sudah berbicara dengan tokoh masyarakat setempat untuk mengupayakan agar situs sejarah Petilasan Sangkuriang ini menjadi Taman Cagar Budaya dan mendapatkan perhatian dari Pemkab Purwakarta.

Senin, 24 Juni 2019

Kampung Gelap Di Pelosok Purwakarta


PURWAKARTA - Kampung Cikorod merupakan bagian dari Desa Kertasari, Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta. Sejauh limabelasan kilo dari gemerlap Kota Purwakarta. Kampung yang terisolir ini hanya dihuni lima kepala keluarga.

Jalan keluar masuk kampung dari jalur Timur ke jalan raya masih berupa jalanan bebatuan yang belum sempurna yang dikelilingi oleh perkebunan jati milik PERHUTANI. Sementara jalan yang menghubungkan Bojong  melewati jalur Cikajar, Desa Pondok Bungur Kecamatan Pondok Salam  merupakan jalan becek sempit melewati Sawah. Bahkan,masyarakat di kampung tersebut harus berhati-hati saat menyusuri jalan setapak dan jembatan itu. Jika lengah, bisa tergelincir terjatuh masuk ke sungai yang deras.

Pekerjaan sehari-hari mereka hanyalah Kuli sawah yang diupah seharga 80 ribu saja, Apabila tidak ada pekerjaan mereka selalu mencari ke kampung sebelah sebagai kuli.


Lima rumah yang menghiasi kampung terisolir ini. hanyalah gubug sederhana yang tak seberapa luas. Tanpa ada Listrik yang masuk ke kampung tersebut. gubug-gubug itu berbentuk rumah panggung beralas kayu. Sementara yang lainnya, ada yang memakai bambu. Jika berjalan di atasnya, ada suara berderit yang keras. Sebuah tanda harus pelan-pelan melangkah, atau langsung memilih duduk.

"Listrik belum masuk ke kampung kami, memang ada selalu ada pihak pemerintah yang pernah datang namun belum ada realisasi yang nyata," ucap Aab Sahroni Selaku salah satu yang tinggal di kampung tersebut.

Memang dalam hal ini, selalu ada yang melakukan Bakti Sosial di Kampung Tersebut, Salah satunya Ormas Geng motor pernah melakukan bakti sosial dan memberikan sejumlah Panel Surya untuk penerangan mereka. Namun, dari lima rumah tersebut hanya ada tiga yang masih ada karena dicuri. 

Jika malam datang, tampak gulita mencekam. Sarana kesehatan sangat jauh. Tidak ada tempat mandi, cuci dan kakus. Kebanyakan penghuni rumah, dari sepuluh rumah tak layak huni itu, jika buang hajat besar harus lari-lari ke kali kecil menuju sungai yang berada di kampung tersebut.

Sebelumnya Aab Pernah mengajukan bantuan ke RT/RW, tetapi tidak pernah ada kabar, justru masyarakat yang berada di Kampung Tersebut disuruh untuk berpindah saja apabila ingin mendapatkan Listrik. 


Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jarak 5 Kilo dengan melewati persawahan,hutan,dan lintas kampung untuk menuju sekolah.Apabila hujan dan air sungai sedang pasang, Terkedang anak-anak terpaksa harus diam dirumah bahkan apabila sekolah sedang ulangan, mereka nekat menyebrang melawan arusnya sungai dan hujan deras hanya untuk sampai ke sekolah.

Oleh : Muhammad Fazri Syamsi
PERMATA Cabang Bandung

Kajian 'Asas Primordialisme' PERMATA Cabang Purwakarta


Primordialisme berasal dari bahasa Latin yaitu primus yang berarti pertama dan ordiri yang artinya tenunan atau ikatan. Tetapi dalam arti yang lebih luas primordialisme dapat diartikan  sebuah paham yang memegang teguh budaya yang dipakai sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang sifatnya kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat. Begitupun budaya yang utuh itu memiliki makanan khas, pakaian adat dan hiburan. Indonesia...kaya dengan berbagai macam suku bangsa yang menghiasi keanekaragaman bumi pertiwi ini utuh dengan makanan khas, pakaian adat dan hiburan khas daerah. Harusnya dengan keanekaragaman ini membuat Indonesia semakin maju dengan ciri khas daerahnya masing masing. Masuk ke kancah international untuk memperlihatkan betapa Indonesia semakin makmur dengan kekayaan budaya yang dimiliki. Ini adalah jatidiri kebangsaan yang harusnya kita pegang teguh. Tapi kenyataannya ini tidak menjadikan orang orang Indonesia bangga dengan kekayaan budaya yg kita miliki. Kita lebih senang menjadi manusia yang mengikuti trendy masa ini "Yang kuno disebut primitif dan ditinggal oleh temannya". saya sendiri toleran terhadap apa yang mereka pakai saat itu. Toh ga merusak pandangan saya, jadi "ya rapopo". Eh terkadang ada juga manusia yang menjadikan budaya yg berbeda itu untuk feed instagram dan story. Ya tetep kali ya harus instagramable. 

Semua orang punya caranya masing masing untuk menjaga kelestarian budaya yang dipegang teguh oleh lingkungannya. Sejalan dengan negara negara maju yang saat ini tetap memegang teguh ciri khas negara yang membuat Negara mereka semakin di kenal di kancah dunia. Saya kasih contoh : 

Jepang....
Dengan pakaian kimono, makanan khas ramen, hiragana nya yg sudah mendunia, lalu kusarigama senjata tajam khas jepang yang sepertinya ada juga di permainan perang seperti PUBG kayanya ya...
Lalu negara Chinna 
Dengan Kung fu yang suka di perankan oleh jackie chan, kuil dan aksara han nya yang lagi lagi di kenal oleh masyarakat dunia. 

Itulah nama negara negara yang bangga dengan primordialismenya. 

Lalu Indonesia ? Masih enak enak aja menikmati makanan khas ramen di Indonesia, datang ke China Town untuk foto foto di kuil, ikut olahraga Kung Fu biar dikata mirip Jackie chan. Duuuuh ga gitu bambang!

Seperti halnya yang terjadi beberapa waktu lalu, seorang chef asal Malaysia menyajikan kuliner ayam rendang pada sebuah kontes masak Master Chef Inggris. Rendang loh, dimasak oleh negara orang. Heboh dong warga net. Akibatnya semenjak itu rendang malaysia menjadi sangat populer. Ih kamu kesel ga sih bacanya ? Ada klarifikasi dari kemenpar.

Seperti yang dilansir Grid.ID dari Kompas, Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya mengatakan jika rendang Malaysia menjadi populer karena dimasak oleh chef terkenal. Akhirnya, orang mengira jika rendang adalah makanan dari negara Malaysia.Oleh karena itu, Arief mengatakan jika dirinya akan mempopulerkan rendang di kancah internasional.

Salah satu cara yang akan ditempuh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) adalah dengan menggunakan endorser yang baik.

Indonesia kaya ga punya chef terbaik aja yak, padahal rendang asli minangkabau ini harusnya di lakukan endorser ke orang asli Minangkabau, ya juri ga akan buta rasa lah yak. Ternyata masih ada yang cacat nih pemikiran pemerintahan kita:)))

Kasus rendang tersebut adalah ciri dimana kita harusnya ikutan geram dan protes, eh tapi kita keburu terlalu enak dengan kekayaan alam untuk instagramable sampe gatau kasus apa aja yg pernah terjadi di budaya yg sering kita lihat itu. 

Sekian dari saya. 
Semoga ini menjadi pukulan besar untuk kita semua, bahwa kita harus menjaga kekayaan budaya yang hari ini kita miliki. Jangan sampe kocolongan lagi. Katanya cinta Indonesia tapi gerakannya masih di jempol doang (update status). 

Salam cinta dan salam hangat dari kami permata cab. PurwakartašŸ–¤

Minggu, 23 Juni 2019

Halalbihalal, Sidang MK dan Rutinitas Ngopi

Murdiono - Ketua PB PERMATA

Pada momen Halalbihalal ini, kita Harus saling menghalalkan, apa yang menjadi kehilapan, apalagi kalau diemnya di sekretariat organisasi, berproses di organisasi atau yang lagi mondok pasti selalu adanya suatu perselisihan yang membuat menjadi salah paham.

Jika ditinjau dari sejarah belum ada sumber sahih yang mengupas sejarah tradisi halalbihalal. Sebagian cerita menyebutkan bahwa halalbihalal merupakan kreasi kolaborasi Kiai Wahab Hasbullah dengan Bung Karno pada 1948. Keduanya berembuk untuk mencari solusi ancaman disintegrasi bangsa oleh kelompok DI/TII dan PKI. Kiai Wahab mengusulkan silaturahmi nasional. Bung Karno menganggap ide itu bagus, namun istilahnya harus dimodifikasi agar bisa menjadi ekstravaganza. Kiai Wahab mengusulkan istilah 'halalbihalal'. 

Halalbihalal bukan berakar dari struktur gramatika bahasa Arab. Istilah ini lahir dari spontanitas Kiai Wahab Hasbullah. Maksud dan arti yang ingin dirujuk adalah masing-masing pribadi saling memberikan kehalalan atas kesalahan-kesalahan yang terlanjur sudah diperbuat. 

Mari kita manfaatkan momen ini, untuk bener-bener meminta maaf kepada sesama, misalnya untuk mengucapkan minal aidin wal faizin, atau kalimat lengkapnya jaalanallāhu waiyyākum minal āidin wal fāizin yang berarti "semoga Allah menjadikan aku dan kamu termasuk ke dalam orang-orang yang kembali dan menang."

Menemukan tulisan di tirto.id bahwa Birgit Berg dibuat takjub bukan kepalang melihat kerukunan umat beragama di Indonesia. Pemantik ketakjuban itu ialah selebrasi keberagamaan di Indonesia yang demikian cair dan lentur. Sekat-sekat keimanan tidak tampak lagi. Yang ada adalah relasi kemanusiaan, saling mengisi, dan menghargai.

Nah di momen halalbihalal ini, saya harapkan semoga negara kita tetap aman, nyaman, berkah, demokrasinya dapat menghasilkan kesejahteraan bagi rakyatnya dan elit politik harus memberikan pendidikan politik dan penyadaran kepada rakyatnya, bukan malah memprovokasi saja.

Sudah beberapa bulan ini, semuanya jadi pengamat politik mulai dari tukang gorengan, tukang parkir, tukang php, tukang baper, inilah di negara +628 yang luar biasa ini. Bagus-bagus aja karna melek politik juga penting juga, karna kalau rakyat tidak melek politik, rakyat akan menjadi korban keputusan-keputsan para penguasa yang tidak berpihak pada rakyat. 

Berpolitiklah dengan santun jangan menyebarkan berita bohong saja, kasian yang tidak tau apa-apa, hanya kebagian getahnya.

Ketika melihat televisi, media sosial pasti di penuhi dengan sidang-sidang MK yang berjilid-jilid ini semoga menghasilkan keputusan yang baik, dan Presiden terpilih harus mampu menyelesaikan segala bentuk permasalahan dan mampu memberikan kemerdakaan sesungguhnya, karna menurut Paulo Freire tujuan hidup laki-laki dan perempuan adalah untuk hidup yang merdeka dan memiliki kesadaran. 

Menyelesaikan segala bentuk permasalahan dan mampu memberikan kemerdakaan sesungguhnya. Dalam hal apa aja sih? HAM, Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Politik, Agraria, Pertambangan, Kesehatan dan lain lain.

Nah, dalam putusan MK nanti, Kita selaku makhluk hidup harus dapat menerimanya dengan tenang, nyaman, keindahan dan cinta. heee

Ketika buka tweeter ada cuitan yang menarik dari bapak Mahfud MD,
Sidang-Sidang Sengketa Pilpres 2019 sudah berakhir dengan damai. Semua pihak termasuk hakim-hakimnya bertekad melaksanakan firman Ilahi utk berlaku adil. Mudah-mudahan semua istiqamah, majelis hakim memutus dgn adil berdasar ketuhanan YME, pihak-pihak dan kita menghormati apapun putusan MK nanti.

Dan saya kira keputusan nanti akan adil, walaupun dalam sidang MK tersebut terlalu formal, tidak sambil ngopi gitu.

Maka dari itu, mari kita hormati bersama keputusan MK nanti, kadang kita rakyat indonesia sudah jenuh dengan kondisi saat ini, banyaknya provokasi, apalagi di media sosial banyaknya saling bertukar hoax. Kita mah mending bertukar kopi saja, untuk menumbuhkan inspirasi hidup agar tetap hidup dan terus berpikir, agar tak sekedar hidup, atau jangan mati ketika hidup. Edass Hihihi.

Ngopi adalah salah satu obat yang dapat mengobati berbagai masalah. Maka ngopilah, agar kita tidak termasuk orang-orang yang rugi.

Lewat tulisan ini, saya atas nama Murdiono mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin, hal-hal mengenai ngopi akan di usahakan diseduh dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Menulis di Sekretariat Bersama Permata
Simpang Purwakarta, 23 Juni 2019.
Sekian dan terimakasih.

Sabtu, 22 Juni 2019

Efek Zonasi Untuk Pendidikan


Sistem Zonasi adalah sistem dimana siswa mau bersekolah disekolah tersebut jarak rumahnya harus sesuai dengan batas radius maksimal yang telah di tetapkan oleh pemerintah, yaitu 1-2 KM untuk TK/SD, 5-7 KM untuk SMP, 10-12 KM untuk SMA. Jika siswa jarak rumahnya melebihi batas radius yang telah di tetapkan, maka bisa saja siswa tersebut di tolak, atau bisa di terima lewat jalur prestasi setelah 90% zonasi telah terpenuhi di sekolah tersebut.


Pihak yang di rugikan dan pihak yang di untungkan selalu ada, seperti halnya siswa yang berprestasi terhambat cita-citanya dengan kualitas pendidikan di sekolah sekitar rumahnya, dimana siswa tersebut telah meyakini bahwa di sekolah luar daerah sangat berkualitas dan bisa mengantarkan dirinya kepada cita-citanya.

Selain itu, sekolah yang tadinya kurang diminati, makin bertambah siswa-siswa yang masuk dikarenakan populasi di daerah tersebut yang sangat banyak di tambah dengan kurangnya fasilitas pendidikan yang ada.

Dalam hal ini, pemerintah menerapkan kebijakan bukanlah suatu kesemena-menaan, melainkan dengan tujuan yang jelas seperti apa yang telah di katakan oleh Mendikbud "target Zonasi bukan hanya pemerataan akses pendidikan saja, tetapi juga pemerataan kualitas pendidikan" - kata Mendikbud pada tahun 2018.

Harapan dari kebijakan ini, semoga semangat siswa untuk terus mengemban ilmu tidak melemah, walaupun siswa harus sekolah di dekat rumahnya yang mungkin kualitasnya kurang yang diakibatkan faktor lingkungan atau sebagainya.  Sehingga tidak ada anak/siswa yang terlantar bahkan merasa kurang nyaman berada di sekolah yang tidak ia inginkan.

Pun di balik itu, singkronisasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan bisa sinkron sehingga tidak ada lagi penutupan-penutupan sekolah yang malah menjadi beban kepada masyarakat dan juga siswa.

Rabu, 19 Juni 2019

PB PERMATA : PERMATA Siap LKDP 2019



PURWAKARTA - Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) sudah 90 persen siap untuk melaksanakam Latihan Kader Dasar Permata (LKDP) yang dalam waktu dekat ini akan di laksanakan. Dalam segi teknis kepanitiaan yang di ketuai oleh Mochammad Ilga Sopian Maksum, LKDP sudah siap untuk di gelar dan tinggal menunggu waktu. 

Menurut Ilga, kegiatan LKDP ini adalah amanat organisasi sejak MUSPIM PB dilaksanakan dan sudah di konsep oleh PB dari beberapa bulan yang lalu, hingga dan sudah melalui beberapa tahap bahasan kepanitiaan.

"Jajaran panitia & pengurus PB sudah menyiapkan kegiatan ini secara matang, dan tinggal menunggu waktu yang telah di tetapkan untuk pelaksanaannya". - ucap Ilga, selaku Ketua Panitia LKDP 2019.

Ilga menjelaskan tujuan dari diadakannya kaderisasi tingkat 2 ini untuk mengasah kader lebih lanjut lagi, pasalnya, PERMATA menginginkan kader-kadernya lebih matang dalam berpengetahuan supaya ketika kembali ke masyarakat benar-benar siap dalam segi keilmuannya.

"LKDP ini kan kaderisasi tingkat lanjut setelah OPAB, di LKDP sudah bukan lagi berbicara mengenai pengenalan kedaerahan, kepermataan dan sebagainnya. Disini kader PERMATA akan di godok lagi supaya ketika kembali ke masyarakat sudah benar-benar siap dan mampu menjawab tantangan PERMATA hari ini dan Purwakarta masa depan". - pungkasnya.

Respon dari tiap cabang mengenai kegiatan ini juga sangat baik. Dan secara sikap dari seluruh cabang sudah banyak yang menginginkan untuk ikut dalam LKDP.

Senin, 10 Juni 2019

Pertarungan Ideologi Dalam Pacaran

Gambar : Anggi

Pacaran pada umumnya yang dirasakan pasti saling mencintai, berbagi dan mendukung pasangannya. tapi bisa jadi itu hanya terjadi pada awal percintaan. pertanyaannya : apakah setelah menyatakan cinta semuanya akan baik baik saja ? toh budaya yang selama ini kita jalani mengenal kata pacaran artinya "mengalah". dalam artian bahwa kita harus bersamaan dengan manusia yang memiliki ideologi yang berbeda. sehingga akan terjadi pertarungan ideologi untuk saling kuasa-menguasai. Padahal dalam pacaran butuh "kesadaran"  sebagaimana slogan "merawat kewarasan berpikir" maka slogan, harusnya tak hanya menjadi slogan. tapi harus benar benar di praktikan.

Menjalin relasi dalam pacaran tentu butuh kesadaran, eh maksudnya bukan sadar atau tidak sadar untuk melakukan "kek begitu" ngertikan yaa...kesadaran disini lebih kepada "EGO". *maapin capslock*. jelas dengan ideologi yang berbeda pasti si ego ini yang paling susah untuk dicapai karena masih ada rasa ingin mendominasi. masalah kecilpun akan menjadi besar jika kita tidak memakai kesadaran yg kritis. 

Jangan tanya siapa pelakunya, jangan bilang laki-laki ga pake perasaan karena mereka patriarki. jangan bilang juga perempuan karena stereotype nya kalo perempuan itu ga mau ngalah. jangan ya! jangan! kita ga boleh saling menyalahkan relasi sosial yang di topang kekuasaan hegemonik. 

*sama tipislah kaya teori gramsci* 

Tumbuh kesadaran dalam relasi pacaran adalah bentuk dari membangun relasi yang ideologis. kalau kata karl marx. yang dimana diantara keduanya tidak lagi diselimuti kesadaran kesadaran palsu yang menyebabkan kekerasan baik itu secara verbal maupun fisik. Karena kesadaran menyertakan akal budi dan rasionalitas.

Mengiyakan kekerasan dalam pacaran berarti membangun kesadaran palsu. Jadi, dalam relasi pacaran ada yang disebut pertemuan ideologi. Jika keduanya saling berupaya menguasai, alhasil semacam ada pertarungan ideologi. Jangan kaget kalau ternyata ideologi sampai ke ruang pacaran. artinya ideologi di sini berarti upaya memengaruhi cara pikir dan usaha mengarahkan cara menilai. 

Contoh : 
Perempuan memikirkan bahwa laki laki pikirannya hanya " selangkangan".
Terus laki-laki ngelarang perempuan buat main sama laki-laki terus bilang kalo si laki laki itu ga baik. padahal dia ketakutan kalo Pacarnya bisa pindah kelain hati.

Jadi, pesannya si Mbah Marx adalah, hati-hati dengan kesadaranmu dalam berpacaran, jangan-jangan bentuk kesadaran yang kalian bangun selama ini cuma kesadaran palsu.

Kesadaran kritis dalam berpacaran berarti berupaya menghadirkan prinsip-prinsip egalitarian dan berkeadilan. Misalnya, membangun dialog yang tulus tanpa tendensi untuk kuasa-menguasai, tanpa ingin mendominasi dan tidak salah-menyalahkan.

Maka dari itu proses pacaran yg tidak ideologis untuk apa dipertahankan ? toh kamu telah merasakan kekerasan verbal. yaudahlah ya dari pada bertarung ideologi lebih baik, memperbaiki pertemuan ideologi tsb, agar pacaran kalian yg sebentar/lama itu tidak sia-sia.

Oleh Anggi
PERMATA Cabang Purwakarta

Minggu, 09 Juni 2019

Muhamad Naufal Nurrahman, Ketua Terpilih MUSCAB Cabang Cirebon




PURWAKARTA - PERMATA Cabang Cirebon menggelar kegiatan Musyawarah Cabang ke 2 yang di laksanakan pada 9 Juni 2019 di Pondok Pesantren Almaarif Sempur, Purwakarta. 

Menurut Irfan Aufa, selaku Ketua Umum Periode 2018-2019. Kegiatan ini merupakan suatu kewajiban untuk jalannya roda organisasi yang lebih baik. "Muscab ini sudah seharusnya dilaksanakan. Sebab, suatu organisasi perlu adanya regenerasi demi terwujudnya kaderisasi pemimpin dan kaderisasi kader yang lebih baik". - ucap Irfan Aufa.



Dalam kegiatan yang bertema "Rekonstruksi Semangat Juang PERMATA Cabang Cirebon Demi Terwujudnya Regenerasi Kader Yang Lebih Baik" ini melahirkan sosok Muhamad Naufal Nurrahman. Sebagai Ketua Terpilih Periode 2019-2020.

Dalam sambutannya, Naufal berharap dalam Periodenya sekarang, PERMATA khususnya Cabang Cirebon bisa lebih baik dan melahirkan kader-kader yang berkualitas. 

"Ucapan terima kasih kepada seluruh Kader PERMATA Cabang Cirebon yang telah mempercayai saya sebagai Ketua, semoga di periode sekarang PERMATA bisa lebih eksis dan membawa Purwakarta menjadi lebih baik".- ucapnya.

Dari jajaran Pengurus Besar serta Pengurus Cabang dari berbagai daerah turut hadir dalam kegiatan ini. Dan turut mengucapkan selamat kepada Ketua terpilih..

Jumat, 07 Juni 2019

Berlebaran Ala Aktivis

Budi Hikmah

Senin malam Selasa, Adam dibuat bingung, bingung sekali. Oleh kenyataan sebagian Umat Islam di negerinya yang hendak merayakan Idul Fitri pada Hari Selasa, sedang Pihak Pemerintah resmi memutuskan bahwa Hari Raya Idul Fitri itu jatuh pada Hari Rabu. Adam berpikir, jika Ia mengikuti pernyataan sebagian Umat Islam itu, enak, besok pagi Ia sudah bisa sarapan bubur, makan mi instan di siang hari, lalu menikmati kopi sampai pudarnya senja nan jingga itu. Namun begitu, bayangan dosa menghantuinya kalau-kalau keputusannya tidak sesuai dengan Pemerintah, sebab mereka itu (dianggap) sebagai Ulil Amri yang patut ditaatinya. Dan jika Ia mengikuti keputusan Pemerintah, memang tak kalah enak, berarti Ia bisa melakukan mudik dengan khidmat dan akan dapat mengumandangkan takbir di kampung halamannya. Namun begitu, bayangan dosa menghantuinya pula kalau-kalau di sisi Allah Idul Fitri itu Selasa, maka haramlah sebagai Umat Islam itu masih berpuasa. Dipertahankannya kebingungan itu, sehingga Ia mendapatkan suatu petunjuk. Bahwa, yang hendak merayakan Idul Fitri pada Hari Selasa itu ternyata Umat Islam Radikal, yang di negerinya ter-cap sebagai golongan tak patut diikuti. Meskipun menurutnya, mempelajari Islam itu semestinya-lah radikal (mengakar), sehingga hidup dan bertumbuh, supaya kemudian dapat berbuah. Bukan menjadi umat yang daun, yang malah berguguran pada akhirnya, atau menjadi umat yang ranting, yang kemudian dapat dengan mudahnya ditebang tangan-tangan jahil, perusak. Pun bahwasanya, Pemerintah yang memutuskan Idul Fitri pada Hari Rabu itu boleh-boleh saja dikritisi. Sebab Ulil Amri itu sendiri barangtentu berada pada sistem kepemimpinan Islam/ Diinul Islam, yang hari ini, sistem tersebut tidak tampak sama sekali keberadaannya di belahan dunia mana pun apalagi di dalam negerinya. Adam semakin bingung. Tetapi Ia mencukupkan kebingungannya, Ia tak sampai mau ambil pusing. Malam itu Ia memilih fokus saja meyakinkan dirinya untuk melakukan perjalanan mudik.

Setelah Tujuh Jam perjalanan, Adam tiba di Balik Jawa, bumi yang membesarkannya. Udara dingin permukiman desa wilayah pegunungan yang hendak menusuk tak ditakutkannya sebab Ia tak ragu lagi akan kehangatan yang didapatnya saat tiba di kampung halaman: berjumpa dengan keluarga, bersua sanak saudara. Menariknya, perjalanan mudik tahun ini tak terhiasi kemacetan berarti. Terbukti, Adam bisa sampai dengan Tiga jam lebih cepat daripada tahun-tahun lalu. Namun menurutnya, kemacetan itu berpindah dari perjalanan ke dompet-dompet para Mudikers. Dan itu bukan hanya pengakuannya. Banyak kawan-kawannya yang mengeluhkan ongkos mudik tahun ini. Bahkan salah satu kawan yang memakai roda empat pribadi sampai ada yang mengatakan, masih mending biaya penambahan bahan bakar dan jajan dalam perjalanan sebab macet di tahun-tahun lalu daripada biaya ongkos tol tahun ini. Belum lagi keluhan-keluhan kawannya yang tinggal di daerah langganan kemacetan: di Lingkar Gandrex dan Jalur Pastura. Katanya, gara-gara yang mudik itu menggunakan jalan tol, uang-uang dari menjadi pedagang asongan dan jasa-jasa lainnya menghilang. Jalan tol terkesan bagai buah simalakama. Namun Adam menyadari, kehidupan di bawah naungan sistem kelas kakap memang progresif. Tanpa menjadi kaya raya, kesusahan demi kesusahan akan menimpa. Tak dipedulikan lagi apakah itu yang diridhoi Allah atau bukan.

Seselesainya beristirahat, Adam mengira takkan dijumpai lagi keluhan-keluhan. Namun ketika Ia berkumpul bersama teman sebayanya, mereka justru mempertanyakan Pilpres di negerinya yang baru beres kemarin. Sebuah persoalan politik yang menjemukan bagi Adam, meskipun sebenarnya Ia sangat peduli akan hal itu. "Politik itu berat, biarin aja," seloroh Adam.

Saleh menimpali, "Kita tetap harus berusaha menemukan solusi dong, supaya gak sampai bikin kerusuhan segala. Nah, solusinya itu mesti bagaimana?".

Adam tak habis pikir, pemuda desa di pelosok negeri, yang teramat jauh dari Ibukota, yang hanya sekadar buruh tani, mau-maunya memikirkan persoalan negara. "Ya kalau gak mau rusuh, kontestannya harus ditambah, jangan Dua. Dan menurutku, Capresnya itu gak usah Pak Jakari dan Pak Proburu lah. Masih banyak kok tokoh-tokoh lain yang kompeten untuk jadi pemimpin. Ada Cak Nun, Cak Nur, Adi Hidayat, Budi Hikmah, Gus Mus, yaaa itulah."

"Maksudnya begini, Dam, kita butuh solusi untuk tindakan apa yang seharusnya kita lakukan di tengah gejolak politik nasional bahkan mungkin internasional seperti ini. Kita di sini tahu, kamu kan aktif di organisasi kampus di sana. Ya, share lah sama kita-kita," papar Idris, temannya.

Betapa tergugahnya Adam. Ia bergumam, "Terkadang orang lain memang suka selucu itu. Aku, mahasiswa fakultas kesehatan diminta memberikan solusi terkait persoalan politik. Apa mereka kira penyakit kronis tokoh-tokoh yang rakus dan haus kekuasaan itu bisa disembuhkan dengan diobati Amoskilin atau Parasetanmol?"
Namun Adam sadar, pertanyaan adalah pertanyaan, yang harus dijawab. Sekalipun datangnya dari seorang yang buta, janganlah kita malah bermuka masam. Apalagi ini, dari sahabat sendiri yang jelas-jelas melek (politik). 

"Menurutku, masalahnya dimulai dari prosesnya, sih, dari akar. Kalau tujuan kita (bernegara) adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, maka segala persoalan itu haruslah dijawab dengan permusyawaratan, sampai mufakat. Dengan demikian, kita pun bisa menunjukan bukti persatuan sebagai Satu bangsa. Jangan sampai keputusan itu diambil dengan voting, sebab itu sama sekali tidak mencerminkan sikap orang yang penuh hikmat; kebijaksanaan. Aku yakin, itu semua dapat terwujud ketika orang-orang mampu berprikemanusiaan. Dan sudah barang tentu, orang yang paling manusia hanyalah Muhammad sholallahu alaihi wa salam, yang berketuhanan dengan sebenarnya, yang patut dijadikan teladan." Kesembilan teman sebayanya itu begitu memerhatikan penjelasan Adam.

"Tapi sih, kalau kita mau mengambil langkah personal, umpamanya tujuan bernegara: kesejahteraan rakyat, keadilan sosial itu adalah Bandung. Supaya bisa sampai ke sana kita perlu kendaraan, terutama tahu jalannya. Kalau tidak punya apa-apa, kita bisa meminta bantuan teman yang punya kendaraan dan tahu jalannya untuk dapat mengantarkan. Kalaupun tidak dengan cara itu, bisa dengan cukup bertanya saja supaya tahu jalannya, lalu mengumpulkan harta supaya mempunyai kendaraan sendiri. Yang terpenting kita (sudah) tahu dan bertekad untuk dapat ke sana. Soal sampai atau tidak, biar Allah yang menjawabnya. Maka dari itu, untuk meraih tujuan bernegara tadi, apakah kita punya power sebagai kendaraannya. Apakah kita seorang publik figur, pengusaha sukses, aparat pemerintahan, putra dari yang terhormat, atau masih sekadar anak yang bandel di dalam rumah tapi baik di luar rumah. Pada akhirnya yang lebih penting dari bernegara adalah ridho Allah. Maka apakah kita sudah tahu ilmunya supaya dapat berbangsa dan bernegara dalam keridhoan Allah. Kalau belum, solusinya sederhana, kita cukup belajar saja dulu dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Jadi, mulai dari sekarang, ayo kita sama-sama belajar; berusaha meneladani Rasulullah." Lanjut Adam.

"Sesederhana itu Dam?" Singkat Saleh.
"Ya, hanya hamba-Nya. Yang perlu mempelajari ajaran-Nya, mengamalkannya, lantas menyiarkannya; berdakwah." Jawab Adam. 
"Aku bingung Dam, bagaimana mungkin orang yang baru (mau) belajar Islam, lantas berdakwah?" Tanya Mumus.
"Iya Dam, dakwah bagaimana yang kamu maksud?" Tambah Idris.
"Wa amma bini'mati robbika fahaddits", Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan[93:11]. Prinsip berdakwah itu sederhana, bukan hanya soal seberapa tinggi ilmu yang kita punya, melainkan seberapa ikhlas kita dalam upaya menyampaikan yang haq dan bathil, menyiarkan segenap nikmat yang senantiasa dianugerahkan-Nya. Misalnya kita mendapatkan nikmat ilmu tentang sejarah Nabi Nuh alaihi salam yang begitu inspiratif: di tengah-tengah kaum yang jahil, syirik, zalim dan kabar segera datangnya azab dari Tuhan, Beliau kemudian membuat bahtera dengan penuh kesabaran. Sampai akhirnya menjadi Furqan, antara orang-orang yang menaatinya, selamat, bersama-sama dengannya di atas bahtera, dan orang-orang yang mengingkarinya, celaka, tenggelam di dalam air bah yang keluar dari bumi serta turun dari langit. Maka nikmat ilmu tersebut, siarkanlah! Setelah kita sendiri mengambil pelajaran dan mengamalkannya, bersegera mencari lalu menaiki bahtera Nuh era milenial." Jelas Adam.

Semua sahabatnya itu menerima informasi dari Adam kecuali Yunus. "Apakah perubahan bisa terjadi tanpa kita melakukan perubahan itu sendiri? Aku melihat gagasan kamu begitu khusus, sedang kami menginginkan perubahan umum, Dam." Ujarnya.

Tetiba Yusuf datang. Saleh sumringah melihat kedatangan Yusuf yang kesorean itu. Berarti Ia menggenapkan kesembilan sahabat Adam menjadi Sepuluh, seraya membisik di dalam hatinya, "Jangankan negeri ini, dunia dengan sistem kelas kakap-nya itu pun, segera kita goncangkan!"
Yunus yang iseng, seketika menutup obrolan bersama-sama sahabatnya itu pas Yusuf hendak bergabung. Dia bermaksud memunculkan canda tawa bersama-sama dengan berkelakar kepada Yusuf. Pertanyaan terakhirnya kepada Adam, seolah tak dipentingkannya lagi. Yunus bilang, "Iya, silakan Adam memberikan closing statment-nya, sebelum kita tutup forumnya."

"Wah, forum apa nih, kok udah mau ditutup aja," Semuanya terbahak-bahak menyaksikan keluguan Yusuf. Canda tawa tercipta, tali silaturahmi terjalin kuat.

Akhirnya Adam memungkas obrolan, "Menurut HOS. Tjokroaminoto, revolusi itu dari kata evolusi, dengan huruf "R" yang berarti "Rakyat". Maka bagi Para Pemuda yang membutuhkan hal-hal revolusioner, evolusikan-lah Rakyat dari gelap menjadi terang; Islamisasi. Yaitu berdakwah."
Seminggu kemudian

Sehari sebelum Adam terpaksa pergi untuk sementara waktu dari kampung halamannya, Ia bersama sahabat-sahabatnya mendeklarasikan sebuah wadah perkumpulan sebagai media ukhuwah islamiyah, media berbagi ilmu dan juga media berbagi harta, bernama: Umat Rasulullah. Perkumpulan yang digagas Adam itu diamini oleh banyak pihak terutama sahabat-sahabatnya. Ada pun program yang telah disepakati bersama yaitu:  Membuka komitmen keanggotaan, mengadakan kajian Tarikh Nabi 2 kali dalam 1 bulan, memberikan santunan kepada yang berhak menerimanya 1 kali dalam 1 bulan.

Nama perkumpulannya itu dipilih, sebab Adam merasa tidak ada nama bendera lain yang pantas kecuali Umat Rasulullah. Terbukti benar, ketika mengajak sahabat-sahabat yang lain bergabung, komitmen yang ditawarkan adalah untuk masuk menjadi Umat Rasulullah bukan untuk menjadi kader bendera warna-warni bersimbol lainnya.

Oleh Budi Hikmah
PERMATA Cabang Purwakarta

Sabtu, 01 Juni 2019

Pancasila dan Krisis Multidimensi

Muhamad Farhan

Sebagaian masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak asing lagi apabila mendengar kata Pancasila, nilai nilai yang terkandung di dalamnya menjadikan Pancasila sebagai fondasi Negara yang sangat mendasar, dimana semua nilai tentu harus diterapkan oleh masyarakat sebagai pedoman dalam menjalankan sistem bernegara, khususnya negara kesatuan republik Indonesia  yang menganut sistem demokrasi.

Krisis Multidimensi merupakan sebuah permasalahan kompleks yang menyerang tatanan masyarakat dalam sebuah Negara,  adanya kesenjangan sosial berupa kemiskinan, korupsi, pertentangan, tidak meratanya pendidikan dan pembangunan serta kebobrokan moral. Kondisi ini apabila dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan ketimpangan besar di bidang politik, ekonomi, dan sosial.

Krisis multidimensi di Indonesia pernah terjadi pada masa orde baru, diantaranya krisis politik berupa tindakan represif oleh pihak pemerintah terhadap kaum oposisi yang menganggap adanya rekayasa demokrasi, krisis hukum dimana adanya intervensi atau keberpihakan pada  pemerintah yang mengacu pada pelanggaran HAM, serta krisis ekonomi yang berdampak lemahnya nilai tukar rupiah, serta masih banyak lagi krisis multidimensi yang terjadi pada masa orde baru.

Berbicara krisis multidimensi pada saat ini, apabila kita lihat di Indonesia tentu sangat mudah kita jumpai, seperti maraknya korupsi, banyaknya lahan agraria yang dijadikan bangunan oleh kaum kapitalis,tidak meratanya pendidikan, banyaknya berita palsu di lingkungan masyarakat lalu yang terjadi sehabis pesta demokrasi tahun ini, masyarakat cenderung terpecah karena berbeda pilihan kandidat presiden padahal seharusnya hal demikian menjadi permasalahan yang lumrah, namun karena adanya pihak yang mencoba membuat propaganda dan merusak pikiran masyarakat lewat media membuat keadaan menjadi hiruk pikuk, seakan menandakan hilangnya nilai pancasila dalam kehidupan  masyarakat Indonesia.

Hal demikian tidak mungkin terjadi apabila masyarakat memahami dan mengimplementasikan seluruh nilai pancasila dalam kehidupan bernegara, selain itu hilangnya nilai pancasila dari memori kolektif bangsa, dikarenakan kurangnya penanaman nilai pancasila terhadap generasi saat ini, padahal apabila nilai nilai pancasila dikedepankan dalam pendidikan bernegara, serta  mampu mengamalkan nilai nilai yang terkandung, krisis multidimensi tidak akan terjadi, dan kalaupun terjadi semua permasalahan akan mudah dipecahkan.

Oleh Muhammad Farhan
PERMATA Cabang Purwakarta

Push-Truth Era


Dalam era digitalisasi ini tidak bisa kita pungkiri bahwa manusia saat ini tak bisa lepas dari Gadget dan Sosial media. semua serba cepat, mudah dan instan. Internet seakan-akan sudah menjadi kebutuhan primer. Kita dapat dengan mudah mencari informasi di Search Engine tanpa harus membaca buku. Akan tetapi, tak hanya dampak positifnya saja yang bisa kita dapatkan atau kita rasakan di era digital ini, namun juga terdapat dampak negatifnya yang perlu kita perhatikan. Salah satunya adalah bersuara tanpa adanya tanggung jawab. Perkembangan dunia digital membuat semua orang lebih berani bersuara melalui media sosial, namun sangat disayangkan hal ini tidak diiringi dengan tanggung jawab, sehingga memicu terjadinya Cyber Bullying. Tak hanya itu, penyampaian informasi tanpa tanggung jawabpun menyebabkan banyaknya berita Hoax tanpa ada saringan saat mempublikasikannya.

Ada sebuah produk baru yang lahir dari Post-modernism saat ini yaitu Post-truth Society. Steve Tesich adalah orang pertama yang menggunakan istilah Post-truth. Ia menggunakan istilah tersebut dalam artikelnya yang berjudul The Government of Lies di majalah The Nation yang terbit pada tanggal 6 Januari 1992. Ia mengambil latar belakang Skandal Watergate Amerika 1972-1974 maupun perang Teluk Persia untuk menunjukkan situasi masyarakat pada saat itu yang tampaknya “nyaman” hidup dalam dunia yang penuh kebohongan. Singkatnya Era Post-truth adalah era dimana manusia hidup dalam kebohongan dan menganggap hal tersebut tidak lagi sebagai masalah besar.

Penyebaran Hoax sendiri digunakan untuk menimbulkan rasa Distrust (Kurang Percaya) yang mempengaruhi emosi sosial. Di era Post-truth, persoalan uji kesahihan informasi yang beredar tidak lagi dianggap sebagai hal yang harus dilakukan, dikarenakan masyarakat era Post-truth secara psikologis mudah melekatkan diri kepada kelompok sosial tertentu dimana kebenaran mayoritas (walaupun tidak sesuai fakta) dianggap sebagai kebenaran sejati. Apakah suatu informasi itu benar atau Hoax tak lagi menjadi perhatian manusia.

Diperlukannya sinergitas dari semua pihak untuk mencegah maraknya kebohongan yang hadir di era Post-truth. Masyarakatpun dituntut untuk mulai cerdas, memilah sumber berita, tidak mudah terpancing dengan informasi yang belum jelas kebenarannya. Post-truth adalah era, dimana kebenaran itu disembunyikan maka gunakan rasionalitas dan pengetahuan untuk menemukan kebenaran.

Fajar Fitriadi Sofiyan
Sekretaris Umum Permata Cabang Purwakarta

Purwakarta
Kamis, 30 Mei 2019
05:22

Bacaan :
Kurniawan Trio, GEOTIMES, 29 Oktober 2018, “Membunuh Hoaks: Rekonstruksi Nalar Manusia Era Post-Truth”.
Utama Putra Wahyu, Kompasiana, 08 April 2019, “Kuasa dan Hoaks di Era Masyarakat Post-truth”.