Sunday, 12 May 2019

Tuhan dan Menara Pisa

Foto By Google.com

Oleh Mochamad Fazhri Syamsi
PERMATA Cabang Bandung

Seorang kawan bertanya apa untungnya memiliki agama. Agama hanyalah peninggalan masyarakat primitif yang secara fanatik dan membabi-buta dilestarikan hingga sekarang. Saya tidak menjawab. Saya mengerti kawan saya tidak benar-benar sedang bertanya; ia hanya ingin saya tahu dan memaklumi bahwa dirinya seorang ateis. Keinginannya terpenuhi.

Bagi kawan saya itu, mungkin juga bagi semua orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan, agama sepenuhnya irasional. Karena agama itu irasional maka agama sangat layak untuk ditinggalkan. Memiliki komitmen terhadap suatu agama berarti membiarkan akal sehat bertekuk lutut di hadapan ‘imajinasi kreatif’ masyarakat primitif.

Tidak sulit memahami cara berpikir kawan-kawan kita yang tidak percaya dengan adanya Tuhan. Dengan menggunakan dalil logika, mereka mengaku berhasil membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Menurut mereka, karena Tuhan tidak dapat dibuktikan keberadaannya maka Tuhan terbukti tidak ada.

Cara berpikir ini membuka celah bagi munculnya sejumlah pertanyaan. Apakah akal se-infallible itu sehingga layak dijadikan alat untuk mengonfirmasi ada dan tidak adanya segala sesuatu, termasuk Tuhan? Apakah akal memang memiliki jangkauan tak terhingga sehingga selalu bisa memastikan bahwa sesuatu itu benar atau salah? Apakah akal memang mengetahui segalanya?

Mereka yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada karena akal tidak dapat membuktikan keberadaannya mirip dengan sikap masyarakat Eropa pada abad ke-17 yang menolak hipotesis Isaac Newton tentang gravitasi bumi ketika hipotesis itu baru diperkenalkan. Mereka menyangkal hipotesis itu karena bagi mereka gravitasi tidak dapat dibuktikan keberadaannya. Karena gravitasi tidak dapat dibuktikan keberadaannya maka apa yang disebut dengan gravitasi itu tidak ada.

Jika benar bahwa akal memiliki pengetahuan tentang semua hal maka boleh jadi kesimpulan tentang tidak adanya Tuhan itu benar. Masalahnya, apakah akal memang demikian? Dalam buku-buku pengantar (ya, pengantar!) psikologi dan antropologi, dinyatakan bahwa kematangan berpikir manusia tidak dimiliki secara instan, namun bertahap sesuai dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan peradaban.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan berpikir manusia semakin berkembang. Karena terus berkembang, bisa disimpulkan bahwa kemampuan itu belum sempurna –dan memang tidak akan pernah sempurna. Seandainya bisa sempurna maka mestinya kemampuan berpikir itu berhenti di satu titik. Pertanyaan kita, apakah akal yang kemampuan berpikirnya tidak sempurna itu bisa memiliki pengetahuan yang sempurna tentang segala hal?

Metode penyimpulan “karena sesuatu itu tidak dapat dibuktikan keberadaannya maka sesuatu itu tidak ada” menyimpan kesalahan fatal dalam memahami keberadaan Tuhan –dan keberadaan semua hal. Dalam hidup, manusia memang sangat bergantung pada akal. Tapi, karena hanya memiliki pengetahuan terbatas tentang semua hal, akal tentu tidak memadai untuk dijadikan palu pengetuk yang bisa memutuskan ada-tidaknya atau benar-salahnya sesuatu di alam.

Sesuatu yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan oleh akal bukan berarti tidak ada. Sebab, pengetahuan akal terhadap segala hal yang ada di alam sangat terbatas. Mengatakan bahwa Tuhan tidak ada karena akal tidak berhasil membuktikan keberadaannya sama dengan mengatakan menara miring tidak pernah ada di dunia semata-mata kita tidak pernah melihat menara Pisa.


EmoticonEmoticon