The Power of Make Up, Jelajah Paradigma Melalui Tata Rias Kecantikan

Foto Oleh Google

Tata rias atau bahasa familiar ‘make up’ sudah menjadi suatu kewajiban yang harus diadakan setiap saat oleh kaum perempuan. Tak jarang laki-laki pun yang menggunakan make up dalam moment tertentu. Tujuannya untuk terlihat lebih menarik dan memperbaiki penampilan yang terlihat usang. Tata rias pada dasarnya merupakan seni menciptakan keindahan fisik. Yang termasuk di dalamnya adalah wajah, rambut, kulit, dan kuku. Seni di bidang ini tidak memiliki tanggal mulai pasti yang jelas atau negara asal. Sejak zaman Mesir kuno atau Cina kuno, karya kosmetik dan mereka yang ditemukan di seluruh dunia.

Di mesir kuno make up merupakan keharusan di setiap harinya untuk menggunakan semacam wig, parfum, eyeliners, lipstik karena bagian dari kerajaan bahkan semi-kerajaan. Hampir sama dengan Cina kuno yang juga menganggap make up sangat penting di kalangan bangsawan karena merupakan tanda kekayaan dan kemakmuran. Seiring berjalannya waktu, dan kita beralih tempat. Di Indonesia menggunakan make up adalah wajib bagi setiap kalangan, digunakan setiap hari karena tak ingin terlihat jelek dengan tampak aslinya.






Dipakai saat pergi ke undangan pernikahan, pergi ke sekolah atau ke kampus, pergi bekerja, acara ulang tahun teman, acara wisuda, foto studio, saat berwisata, bahkan saat bersantai dirumah pun tidak pernah terlupakan. Kegilaan masyarakat terhadap make up membuat perempuan bila tanpanya seakan mati gaya, tak bernyawa, dan tanpa daya. Make up melahirkan budaya, dimana make up ini merupakan segala-galanya, masyarakat yang tergantung memaksakan dan harus memoles dengan alat ajaib perubah fisik tersebut terkadang sulit untuk memilih antara mementingkan keinginan atau kebutuhan. Di kala belum makan siang dan uang di dompet menipis, mereka lebih memilih tetap tidak makan untuk dapat membeli bedak mahal, di kala harus membayar biaya kuliah, mereka lebih memilih menunggak untuk membeli paket kecantikkan. Celakanya, bisa-bisa ketika ada aksi turun kejalan yang mayoritas kaum perempuan,kalimat orasinya akan menjadi “turunkah harga wardah” bukan “turunkan harga BBM”.

Selain perlahan mengganggu mental pribadi yang kecanduan dan berujung menghalalkan segala cara ini, banyak sisi negatif jika terus-menerus menggunakan make-up bermulai dari gangguan kesehatan, dapat beresiko kanker kulit, masalah pernafasan karena alergi, mengganggu sistem reproduksi karena pemakaian berlebih, kerusakan kulit bahkan depresi karena kandungan kimia tinggi dapat mempengaruhi hormon tubuh.

Bijaklah dalam mengikuti perkembangan zaman, sesuaikan keadaan dan kemampuan. Jangan terbawa hawa nafsu sehingga berakhir dengan kata kelabakan.


Oleh : Wiwi Widyaningsih
Ketua Biro Sosial Budaya PB PERMATA

Purwakarta, 5 Juli 2018
10.00 WIB

Posting Komentar

0 Komentar