Kamis, 09 Mei 2019

Nominal Adalah Nyawa Manusia

Oleh : Fitra Nurachman

Hidup yang kian harinya dilandasi oleh nominal, telah membuat manusia menjadi egois. Begitu pragmatis, bahkan lebih dari itu, semua berlomba menjadi yang terdepan dalam kompetisi meraih penumpukan kekayaan.

Kerja yang tadinya adalah untuk bertahan hidup, dimana manusia tidak bisa dilepaskan darinya. Berubah menjadi upaya penumpukan nilai lebih yang tak kunjung usai. Cita-cita hidup yang sebelumnya adalah sesuatu yang intim dan agung, berubah menjadi hitungan nominal yang terselip di rekening pribadi.

Manusia yang tadinya bekerjasama untuk menyelesaikan problema-problema hidup, kian hari kian individualistis. Saling meniadakan, menutup mata atau bahkan menindas, kini menjadi prasyarat untuk jadi yang terdepan. Maka, ia yang dianggap berhasil hidupnya adalah mereka yang mampu membeli segalanya.

Kemudian, hidup menjadi monoton, banal dan membosankan. Pengulangan yang dilakukan tiap harinya untuk menumpuk kekayaan diujung hari nanti, sejatinya adalah untuk memastikan hidup. "Gausah mikirin orang lain, benerin aja dirimu," kadang kita selalu mendengar ucapan itu, entah itu dari mereka yang tak kita kenal atau bahkan mereka yang dekat dengan kita. Ucapan itu seolah menasbihkan bahwa manusia itu terlepas dari sosialnya. Seolah apa yang membentuk manusia itu terlepas dari lingkungannya. Padahal apa yang melekat pada kita, pada diri orang lainpun tak pernah bisa dilepaskan dari keadaan ruang waktu, dimana dan kapan manusia itu berada.

Maka upaya untuk mengubah sosial menjadi lebih baik, juga merupakan upaya untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Di dalam kerjasama kita belajar untuk mengerti orang lain, menahan nafsu kepentingan pribadi dan banyak hal lainnya. Dari situlah diri kita dapat bercermin, menakar seberapa baik kah kita. Kita tak tahu yang namanya baik, jika kita tak tahu apa itu buruk. Kita tak akan mengenal "kita" tanpa ada yang di sebut "mereka". Begitupun "individu" tak akan ada jika tak ada yang disebut "sosial".
Nominal Adalah Nyawa Manusia
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.