Miskonsepsi KTI: Kenaikan Pangkat Guru


Oleh : Mohamad Ramdani Rahman
PERMATA DKI JAKARTA

Sudah sejak lama guru menjadi salah satu bagian dari profesi tenaga kependidikan, berlandaskan UU Guru dan Dosen Nomor 20 Tahun 2003 pasal 39 dimana guru memiliki kewajiban yang mesti dipenuhi yaitu merencanakan, dan melaksanakan proses pembelejaran serta melakukan pembimbingan. Tugas guru sebagai profesi khususnya guru yang berstatus ASN bertambah sejak edaran baru muncul,  yaitu pada tahun 2009 Menteri Pemberdayaan Aparatur Negaradan Reformasi Birokrasi mengeluarkan peraturan menteri (Permen PAN & RB) No. 16 tentang Jabatan Fungsional Guru. Berdasarkan peraturan nomor 16 tahun 2009 tersebut menyatakan bahwa seorang guru yang ingin naik jabatan pada jenjang golongan III-b ke atas mesti membuat karya tulis ilmiah.

Peningkatan Kompetensi

Seyogyanya Permen PAN & RB ini dikeluarkan dalam rangka upaya memperbaiki kinerja dan profesionalitas guru di Indonesia , serta Karya tulis ilmiah sendiri dipilih sebagai salah satu kriteria kenaikan pangkat seorang Guru berstatus ASN. Berdasarkan data Kemdikbud 2018, Guru yang telah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) mencapai 1,4 juta tersebar di sekolah negeri dan swasta. Namun, rata- rata guru yang berstatus ASN ini mengalami hambatan dan stuck  pada salah satu jenjang golongan. Hal ini disinyalir banyak guru mengalami kesulitan dalam memperoleh angka kredit sebagai syarat kenaikan pangkat khususnya kredit yang diperoleh dalam kegiatan membuat Karya Tulis Ilmiyah. 

Dewasa ini, membuat Karya Tulis Ilmiah memang masih menjadi masalah yang umum dihadapi guru, banyak faktor yang melatar belakangi hal tersebut seperti waktu dan kemampuan serta pemahaman. Pertama keterbatasan waktu, sudah diketahui bahwasanya seorang guru memiliki  beban mengajar perminggu yang mesti dipenuhi. Jika merujuk Undang- Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 35 ayat (2) mengatur beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu, sisa beban kerja guru ASN masih sangat jauh. Akan tetapi perlu diketahui kegiatan guru tidak hanya mengajar di dalam kelas, melainkan juga merencankan pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. Disisi lain, untuk membuat Karya Tulis Ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK), butuh waktu yang cukup dalam penyusunannya, karena proses PTK dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan pelaporan hasil.

Problematika

Kendala yang juga sering ditemui dilapangan tidak sedikit guru mengeluh karena kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan guru dalam menulis karya ilmiah, serta terbatasnya sarana bacaan ilmiah terutama yang berupa majalah ilmiah atau jurnal guna menunjang para guru dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiyah.  Faktor- faktor tersebutlah yang menyebabkan mayoritas guru ASN mengalami stuck pada salah satu golongan pangkat. Hal ini dikarenakan pembuatan KTI mesti berlandaskan sumber ilmiah serta ditulis dalam bentuk naskah publikasi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah maupun karya ilmiah populer. Selain kedua faktor tersebut, kurangnya tindak lanjut dari hasil karya tulis ilmiah yang telah dibuat setelah pengangkatan pangkat guru, serta masih rendahnya motivasi guru untuk menulis karya tulis ilmiah berpengaruh besar terhadap permasalahan mayoritas guru ASN mengalami stuck pada salah satu pangkat golongan. 

Nampaknya karena faktor- faktor tersebutah menyebabkan banyak guru yang mengambil jalan pintas dengan cara menggunakan jasa orang lain untuk menulis dan membuat KTI serta bahkan nekat melakukan hal yang tidak terpuji lainnya termasuk plagiasi. Terlepas dari berbagai problematika yang terjadi pada penerapan peraturan karya tulis ilmiah sebagai prasyarat kenaikan pangkat guru berstatus ASN, sudah tentu pemerintah pastinya telah melakukan pertimbangan serta melakukan peneletian terlebih dahulu sebelum peraturan tersebut diterapkan. Tinggal bagaimana solusi dari pemerintah dan Stakeholder menyiasati agar peraturan tersebut dapat optimal dan dari objek peraturan tersebut menerima dan menjalankannya. 

Solusi

Adapun cara guna menjadi solusi untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam implementasi kebijakan KTI sebagai prasyarat kenaikan pangkat guru ASN. Pertama,yaitu dengan cara mengoptimalkan sosialisasi kebijakan dengan menggandeng Persatuan Guru Repubik Indonesia (PGRI) agar tidak terjadi Miskonsepsi. Kedua, melakukan  sosialisasi pedoman dan pendampingan  penulisan karya tulis ilmiah yang benar, serta meningkatkan pelatihan menulis karya ilmiah dikalangan guru. Ketiga, memberikan referensi jurnal-jurnal ilmiah online sehingga guru mempunyai khazanah keilmuan dan referensi lebih dalam membuat KTI, serta memberikan Acievment untuk hasil karya tulis ilmiah terbaik. Terakhir, memberikan motivasi kepada guru akan pentingnya membuat sebuah karya tulis ilmiah.