Breaking News

Kala Aku Bersua Raja Salman





Foto Penulis Budi Hikmah

Teringat ujaran Trump mengenai rencana pemindahan Kantor Kedutaan Besar USA di Tel Apip-Israel-ke Al Quds Palestina, dengan klaim bahwa Al Quds adalah Ibukota Israel, pada 14 Mei mendatang, sebagian masyarakat Indonesia mengadakan aksi unjuk rasa pada hari Jumat ini (11/5) sebagai bentuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah sekaligus kepada saudara-sebangsa yang belum tergugah hatinya terhadap ketidakadilan yang ada di tanah timur tengah itu, dan untuk menegaskan bahwa Al Quds itu adalah Ibukota Palestina, serta menegaskan tentang pentingnya kedaulatan negara tersebut. Aksi yang digagas oleh umat Islam dari berbagai kalangan negeri ini harus ditanggapi dengan bijak. Sebab itu bukanlah atas nama kepentingan golongan semata, tapi tentang prikemanusiaan. Faktanya memang sejatinya dari agama atau golongan lain pun demikian kepeduliannya terhadap Palestina. Satu contoh, pesepakbola dunia, Cristiano Ronaldo sangatlah begitu peduli terhadap konflik di sana. Yang notabene Ia adalah seorang kristiani.

Kemudian dapat dilihat dari segi nasionalisme. Berbicara nasionalisme itu ya berbicara konstitusi negara. Jelas, aksi-aksi Internasional, semisal “Bela Palestina” adalah wujud nasionalisme yang Ideal. Sebab itu merupakan upaya bangsa yang menjunjung tinggi salah satu cita-cita negaranya ikut melaksanakan ketertiban dunia. Ayolah, kita jalankan semuanya sebagaimana mestinya. Ini saatnya kita bergerak-bersama dengan naungan merah-putih, bukan merah-kuning-hijau-biru, ataupun warna lainnya.








Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Ketika kita ini takzim kepada para pahlawan, lebih spesifiknya kepada Sang Proklamator, dan ketika implementasi dari takzim itu adalah melanjutkan cita-cita–perjuangannya, maka jangan lalai-lah dengan komitmen Bung Karno terkait kemerdekaan Palestina, dan untuk berkontribusi kepada dunia.

Adapun semisal terdengar ujaran begini, “Sudahlah, jangan repot-repot mengurusi kedaulatan bangsa lain, NKRI pun belum sepenuhnya berdaulat.”, dengan tendensi menyoalkan polemik perekonomian negeri ini yang masih rendah atau defisit terus, bukanlah berarti peranan penting untuk mencapai cita-cita negara ini terabaikan. Kita bisa tetap berkontribusi khususnya untuk kedaulatan Palestina. Kita bisa bekerjasama dengan negara lain untuk menguatkan dukungan.

Satu peristiwa menarik, tentulah tentang hubungan Indonesia dengan Saudi Arabia, yang jelas sangat luar biasa perekonomiannya. Hanya saja menjadi sebuah pertanyaan, apakah pertemuan Bapak Presiden Jokowi dengan Raja Salman tempo lalu hanya membahas tentang investasi saham sahaja?

Suatu saat nanti, kala Aku yang bersua dengan Raja Salman, jelas Aku akan membahas tuntas tentang upaya pembebasan Palestina dari kebiadaban Zionis. Sebab apalah artinya jika di satu sisi kita meningkatkan perekonomian, tapi di sisi lain kita membiarkan kezaliman antar sesama manusia. Demi apapun, hidup itu bukan cuman soal bagaimana mendapatkan untung, tapi tentang bagaimana dapat memanusiakan-manusia.

Oleh : Budi Hikmah

No comments