Budaya Ngopi

Foto Oleh Google

Budaya ngopi, ada yang merasa asing dengan kata ngopi ? dan apa itu ngopi ? Ngopi sendiri merupakan istilah yang biasa digunakan oleh sebagian warga Indonesia saat sedang santai sambil menyeduh secangkir kopi. Bagi penikmat kopi, kopi sendiri sudah menjadi bagian dari hidup. Tanpa “ngopi” sehari, pasti merasa ada yang kurang.

Semakin lama, budaya ngopi identik dengan kumpul bersama teman-teman / golongan / kelompoknya masing-masing sambil berbincang tentang berbagai hal dengan suguhan sedikit cemilan dan air minum yang menemani bukan berupa kopi, ada yang berupa aqua, ada yang berupa susu, ada yang berupa fanta, teh pucuk, ataupun minuman lain yang bukan berupa kopi tapi tetap disebut sedang “ngopi”.

Budaya ‘ngopi‘ di Indonesia sudah berusia lebih dari seabad, menjadi tradisi yang melebur dengan budaya lokal. Sebagai budaya yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat, dilihat dari tujuan mereka ngopi itu berbeda beda, ada yang ngopi diisi dengan berbincang tentang masa depan (ngopi=ngobrol pikhareupeun), ada yang diisi dengan berbincang dan berdiskusi tentang berbagai ide dan pemikiran-pemikiran yang keren sambil memikirkan nasib bangsa ya walaupun tak kunjung selesai (ngopi=ngobrol perihal ide), ada yang tujuan ngopi untuk mengerjakan tugas-tugas bersama kelompoknya, ada pula yang ngopi hanya untuk sekedar melepas kejenuhan dan mengisi waktu kosong berbincang mengenai hal yang kurang penting, ada yang ngopi hanya untuk mencari wifi karena ingin main game yang sedang tenar, ngopi dengan tujuan ingin nonton youtube, buka instagram sampai live instagramnya,  bahkan ada yang ngopi hanya untuk mengisi waktu kesepian karena jomblo di tinggal sang kekasih, dan banyak lagi tujuan mereka-mereka yang sering “ngopi” itu.








Kegiatan ngopi  di seluruh kalangan dan biasa ditemui di kalangan mahasiswa ini tentunya mempunyai dampak positif, seperti mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan, kegiatan ngopi juga dapat diisi dengan kegiatan untuk berdiskusi buku, kajian ilmiah bersama teman-teman yang mempuni, membicarakan perkembangan organisasi,  berbagi banyak hal mengenai wirausaha juga cara meraih kesuksessan, dan ngopi juga dapat dijadikan media untuk bertukar ide dan memperoleh info-info paling hangat, dan dapat menyegarkan pikiran sambil bersantai jika telah lelah bekerja.

Akan tetapi, “ngopi” juga tentunya mempunyai dampak lain. Banyak kalangan masyarakat yang “ngopi” hanya karena terinspirasi dari film Filosofi Kopi yang sukses menarik banyak penonton di bioskop, kebanyakan mereka yang “ngopi” sekedar ingin terlihat keren, mengikuti perkembangan zaman, dan memperlihatkan gaya hidup yang baru dan sama seperti yang lain. Esensi dari “ngopi” ini perlahan memudar seiring dengan menurunnya intensitas diskusi di warung kopi. Bila dikerucutkan di kalangan mahasiswa, contoh yang ditemui seperti mengakibatkan semakin terlena dengan kehedonan, menyebabkan lupa terhadap fungsi dan kewajibannya, bahkan sampai mendadak amnesia tentang fungsi dan tujuan mahasiswa. Akibat dari keseringan “ngopi” juga  menimbulkan keseringan bergadang yang berujung pada insomnia. Dari keseringan bergadang tersebut juga membuat mahasiswa selalu bangun siang dan tidak menjalankan kewajiban shalat untuk yang muslim, belum lagi dengan jadwal kuliah pagi yang ujungnya telat dan akhirnya “ngopi” di kantin kampus karena kesiangan. Disamping itu mengkonsumsi kopi berlebihan dapat menyebabkan penyakit lambung. Entah sampai kapan budaya ngopi seperti ini akan terus berjalan. Bagiku tetap saja, “ngopi” itu menyeduh kopi hitam atau kopi coklat lalu meminumnya agar benar-benar sedang “ngopi”

Oleh : Wiwi Widyaningsih
Ketua Biro Sosial Budaya PB PERMATA

Ditulis : Bandung, 23 Juli 2018
18.10 WIB

Posting Komentar

0 Komentar