Kamis, 23 Mei 2019

Arah Dan Tujuan Pendidikan

Foto Oleh Google

Bagi Yosef Bilyarta Mangunwijaya, yang lebih akrab dipanggil Romo Mangun, suatu sistem pendidikan tidak pernah netral. Pendidikan ditentukan oleh bagaimana citra manusia itu dianut. Sistem pendidikan di Indonesia menurut Romo Mangun sudah dikuasai oleh filsafat pragmatisme yang lebih berisi indokrinasi dan brainwashing secara besar-besaran demi kepentingan politik tertentu,dan bukan mengabdi kepada kemanusiaan.[1] Menurut Comesius, pendidikan yang layak bagi anak didik tidaklah dengan mencekoki berbagai kata-kata, kalimat, dan ide-ide dalam kepala mereka yang diulurkan bersama beragam pengaran, tapi pendidik harus mampu membuka pemahaman mereka terhadap dunia luas sehingga aliran kehidupan bisa jadi mengalir seperti halnya daun, bunga, dan buah yang tumbuh dari kuncup sebuah pohon.[2]







Seiring dengan hal tersebut, prinsip pendidikan anak menjadi total atau integral. Artinya, tidak berat sebelah kognitif intelektualistis melulu ataupun ekstrem romantis belaka, tetapi sungguh mengembangkan bakat, seni, bahasa, budi pekerti, moral, citarasa, religiositas, hidup sosial, dst. Itu berarti, anak didik harus menjadi seorang realis, yakni mengakui kehidupan yang multidimensional, dan tidak sergam. Konsekuensinya, pola pendidikan seharusnya mengakui banyak jalan alternatif dan jawaban beragam atas suatu soal, serta menghormati pola pikir lain (bahkan yang lain dari biasanya). Murid sebaiknya diajak untuk menghayati kebhinekaan yang saling melengkapi demi persaudaraan.[3]

Arah dan tujuan dari pendidikan itu sendiri ialah membebaskan peserta didik dari dokrinisasi dan penyeragaman yang dilakukan oleh pendidik, pendidik di tuntut agar peserta didik ini terbuka pemahaman mereka tentang realitas-realitas yang terjadi di sekitarnya. Agar mereka mampu mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki sesuai dengan realitas yanga ada dilingkungan peserta didik, oleh karena itu pendidik atau pendamping peserta didik tidak boleh mengahalangi peserta didiknya untuk besentuhan dengan realitas yang ada. Sebab dari situlah meraka akan mengambil sebuah pembelajaran sebagai pengalaman untuk pemicu peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan disekitarnya.



[1] Agustinus Wisnu Dewantara, Fikosofi Pendidikan Yang Integral dan Humanis Dalam Perspektikf MangunWijaya, JPAK vol 13 Tahun ke-7, April 2015
[2] Nurani Soyomukti, Metode Pendidikan Marxis Sosialis, (AR-RUZZ MEDIA; Yogyakarta, 208) h. 8
[3] Agus Wisnu Dewantara, JPAK vol 13 Tahun ke-7, April 2015 h. 5
Oleh : VI Ableh

Arah Dan Tujuan Pendidikan
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.