Breaking News

Aktivis Jadi-Jadian

Foto Oleh Google
Dunia mahasiswa sering dijuluki dunia yang berbeda dari dunia sekolah ataupun dunia lain, dunia mahasiswa selalu penuh dengan dinamika dan problematika sosial, karena mahasiswa dilahirkan dan dituntut sebagai agent of change and agent of control sosial yang menjadi identitas  dari mahasiswa. 

Selalu sama dibenak para pemirsa sekalian bahwa mahasiswa adalah orang yang mengenyam pendidikan tinggi di bangku perkuliahan alias Perguruan Tinggi. Dibalik kata mahasiswa itu, mereka mempunyai tuntutan yang luar biasa jika menyentil salah satu kalimat yang biasa digaungkan oleh kaum akademisi yang menyebutnya dengan Tridharma perguruan tinggi. 

Sebuah Tugas dan tanggung-jawab besar yang menuntut mahasiswa untuk terus bergerak, lebih progress, dan peka terhadap persoalan sosial. Aktivis sendiri berarti mahasiswa yang dapat berperan sangat aktif dan ingin melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya untuk merealisasikan Tridharma Perguruan Tinggi, organisasi, nusa dan bangsa. 

Dengan tuntutan semacam ini membuat para aktivis harus mengubah pola pikir menjadi lebih cerdas dalam hidup, yang awalnya teratur menjadi lebih fleksibel terhadap situasi dan keadaan yang ada. Tetapi tdak semua mahasiswa harus dan mau menanggung beban sosial seperti ini, banyak juga apatis terhadap realitas. Hanya saja ada beberapa kelompok mahasiswa yang terbentuk dalam suatu wadah gerakan yang mau mengambil tugas seperti ini yang wadah tersebut dapat kita sebut dengan organisasi.

Dengan cara bergabung dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang bersifat intra ataupun eksra kampus memberikan perubahan yang signifikan terhadap cara berpikir, pengetahuan dan ilmu-ilmu sosialisasi, wawasan, kepemimpinan yang notabene tidak didapatkan dalam ajaran dari kurikulum normatif Perguruan Tinggi. Dalam organisasilah para mahasiswa memanfaatkan statusnya.

Sedikit membahas dan membahas sedikit bahwa secara historis yang ada, dinamika sejarah Indonesia dari masa ke masa selalu dimotori oleh kaum pemuda terutama mahasiswa. Sering dijuluki sebagai penyambung lidah rakyat ini para aktivis sering kali menjadi tenar karena keberaniannya melawan ketidakadilan dan birokrasi, kegagahan saat turun kejalan, suara lantang yang menyerukan rintihan rakyat kecil dan sebagainya. Betapa keren bukan ? Siapa pula yang tidak ingin dijuluki sebagai aktivis keren seperti itu. 

Sayangnya, bayangan dan realitas lapangan kerap kali berbeda. Solidaritas gerakan mahasiswa kini semakin luntur oleh ke-akuan masing-masing.  Maka tidak perlu bingung ketika hari ini banyak sekali ditemukan mulut-mulut yang berbicara sendiri dan mengaku bahwa “saya aktivis”, “saya aktif dimana-mana”, “saya aktivis kampus”, “saya aktivis nasional”, dan pengakuan lain sebagainya yang tidak seimbang dengan kenyataan. 

Hari ini sudah banyak sekali mahasiswa yang mendengakkan dagunya, entah apa yang ada dibenak mereka sehingga kesombongan dan kebohonganlah yang dibanggakan setiap hari. Banyak sekali yang terlihat bijak di sosial media karena mereka mengaku sebagai aktivis tapi mereka mengetik postingan sambil liburan mewah di hotel ternama dan membiarkan kakek-kakek tua sebatang kara kehujanan kelaparan hingga meninggal di pinggir hotel yang mereka inapi. 

Selalu menunjukkan bahwa banyak sekali yang dipahami karena otak yang cerdas, ilmu yang tinggi serta tapi tidak bersuara ketika dihadapkan dengan kenyataan hidup yang pahit, tapi kerap kali mundur dan menghilang saat terjadi perdebatan hebat tentang keadilan di masyarakat.

Entahlah, pendapatku masih sama ketika berbicara puncak gerakan mahasiswa yang keren, tetap baru ada di  akhir dasawarsa 1990-an.

Bandung, 2 Juli 2018.
22.22 WIB

Oleh Wiwi Widyaningsih

Ketua Biro Sosial dan Budaya
PB PERMATA