Kamis, 30 Mei 2019

Aktivis Jadi-Jadian

Foto Oleh Google
Dunia mahasiswa sering dijuluki dunia yang berbeda dari dunia sekolah ataupun dunia lain, dunia mahasiswa selalu penuh dengan dinamika dan problematika sosial, karena mahasiswa dilahirkan dan dituntut sebagai agent of change and agent of control sosial yang menjadi identitas  dari mahasiswa. 

Selalu sama dibenak para pemirsa sekalian bahwa mahasiswa adalah orang yang mengenyam pendidikan tinggi di bangku perkuliahan alias Perguruan Tinggi. Dibalik kata mahasiswa itu, mereka mempunyai tuntutan yang luar biasa jika menyentil salah satu kalimat yang biasa digaungkan oleh kaum akademisi yang menyebutnya dengan Tridharma perguruan tinggi. 

Sebuah Tugas dan tanggung-jawab besar yang menuntut mahasiswa untuk terus bergerak, lebih progress, dan peka terhadap persoalan sosial. Aktivis sendiri berarti mahasiswa yang dapat berperan sangat aktif dan ingin melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya untuk merealisasikan Tridharma Perguruan Tinggi, organisasi, nusa dan bangsa. 

Dengan tuntutan semacam ini membuat para aktivis harus mengubah pola pikir menjadi lebih cerdas dalam hidup, yang awalnya teratur menjadi lebih fleksibel terhadap situasi dan keadaan yang ada. Tetapi tdak semua mahasiswa harus dan mau menanggung beban sosial seperti ini, banyak juga apatis terhadap realitas. Hanya saja ada beberapa kelompok mahasiswa yang terbentuk dalam suatu wadah gerakan yang mau mengambil tugas seperti ini yang wadah tersebut dapat kita sebut dengan organisasi.

Dengan cara bergabung dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang bersifat intra ataupun eksra kampus memberikan perubahan yang signifikan terhadap cara berpikir, pengetahuan dan ilmu-ilmu sosialisasi, wawasan, kepemimpinan yang notabene tidak didapatkan dalam ajaran dari kurikulum normatif Perguruan Tinggi. Dalam organisasilah para mahasiswa memanfaatkan statusnya.

Sedikit membahas dan membahas sedikit bahwa secara historis yang ada, dinamika sejarah Indonesia dari masa ke masa selalu dimotori oleh kaum pemuda terutama mahasiswa. Sering dijuluki sebagai penyambung lidah rakyat ini para aktivis sering kali menjadi tenar karena keberaniannya melawan ketidakadilan dan birokrasi, kegagahan saat turun kejalan, suara lantang yang menyerukan rintihan rakyat kecil dan sebagainya. Betapa keren bukan ? Siapa pula yang tidak ingin dijuluki sebagai aktivis keren seperti itu. 

Sayangnya, bayangan dan realitas lapangan kerap kali berbeda. Solidaritas gerakan mahasiswa kini semakin luntur oleh ke-akuan masing-masing.  Maka tidak perlu bingung ketika hari ini banyak sekali ditemukan mulut-mulut yang berbicara sendiri dan mengaku bahwa “saya aktivis”, “saya aktif dimana-mana”, “saya aktivis kampus”, “saya aktivis nasional”, dan pengakuan lain sebagainya yang tidak seimbang dengan kenyataan. 

Hari ini sudah banyak sekali mahasiswa yang mendengakkan dagunya, entah apa yang ada dibenak mereka sehingga kesombongan dan kebohonganlah yang dibanggakan setiap hari. Banyak sekali yang terlihat bijak di sosial media karena mereka mengaku sebagai aktivis tapi mereka mengetik postingan sambil liburan mewah di hotel ternama dan membiarkan kakek-kakek tua sebatang kara kehujanan kelaparan hingga meninggal di pinggir hotel yang mereka inapi. 

Selalu menunjukkan bahwa banyak sekali yang dipahami karena otak yang cerdas, ilmu yang tinggi serta tapi tidak bersuara ketika dihadapkan dengan kenyataan hidup yang pahit, tapi kerap kali mundur dan menghilang saat terjadi perdebatan hebat tentang keadilan di masyarakat.

Entahlah, pendapatku masih sama ketika berbicara puncak gerakan mahasiswa yang keren, tetap baru ada di  akhir dasawarsa 1990-an.

Bandung, 2 Juli 2018.
22.22 WIB

Oleh Wiwi Widyaningsih

Ketua Biro Sosial dan Budaya
PB PERMATA

Selasa, 28 Mei 2019

Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) Dalami Temuan Situs Sejarah Petilasan Sangkuriang di Desa Kutamanah, Sukasari - Purwakarta

Tim Arkeolog Melakukan Penelitian
PURWAKARTA - Tim arkeologi dari Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) terus mendalami keberadaan situs sejarah petilasan Sangkuriang yang berada di Kampung Ciputat, Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. 

Proses pendalaman ini dilakukan melalui pengecekan usia serta analitic megastruktur sejak Minggu (26/05/19) lalu. 

Dalam peneliannya, tim arkeologi menemukan hasil yang cukup mencengangkan dimana usia batu berjenis atessit (atelan) pada situs tersebut cukup tua yakni 1227 Ths. Batu ini memiliki ketinggian sekitar 2-2,6 meter dengan panjang beragam karena keberadaannya parsial (tidak menyatu).


Menurut Ketua-Tim Arkeologi PERMATA, Indra Nugraha. Situs sejarah petilasan Sangkuriang berupa tumpukan batu dengan punden berundak ini secara megastruktur merupakan suatu tempat peribadatan di masa lalu yang dibangun pada abad ke-8 (792 M). 

Dalam hal ini, Indra pun menyatakan bahwa penelitian ini harus terus dilakukan. "Menurut saya penelitian mengenai temuan situs sejarah ini harus terus dilakukan hal ini sangatlah penting karena, dengan di adakannya penelitian ini kita dapat mengetahui identitas peradaban leluhur bangsa kita. Dan hal ini tentunya dapat menjadi kebanggan bagi masyarakat Kampung Ciputat, Purwakarta mereka akan menyadari bahwa leluhurnya dimasa lalu telah meninggalkan titik peradaban dengan nilai yang Adiluhung' Ujarnya di lokasi pada Minggu (26/05/19). 

Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (permata) berkomitmen akan terus melakukan penelitian ini, serta ikut menjaga dan melestarikan situs peninggalan leluhur Nusantara. 

Senin, 27 Mei 2019

Bukber, Diskusi dan Kordinasi


PURWAKARTA - Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) telah melaksanakan Buka Bersama yang bertempat di Bojong - Purwakarta, dan dihadiri oleh Kader serta Pengurus PERMATA dari berbagai Cabang.

Tak hanya itu, kegiatan ini di isi oleh beberapa pembahasan, diantaranya pembahasan LKDP, Kordinasi antara Pengurus Cabang dan Pengurus Besar dan Pembahasan Administrasi PERMATA yang salah satunya mengenai legalitas.

Intruksi Ketua Umum PB PERMATA, Murdiono. Meminta kepada seluruh Cabang untuk segera membereskan Administrasi di setiap Cabangnya.

"Alhamdulillah, SK Kemenhumkan sudah ada, dan kami minta kepada temen-temen di tiap Cabang untuk segera membenahi Administrasi salah satunya menyangkut Kesbangpol di tiap daerah (Cabang) nya, dan harus membuat sejarah untuk hari esok dengan melakukan kerja-kerja organisasi" - ucap Dion kepada Pengurus Cabang yang hadir.

Beberapa tanggapan pun muncul dari Pengurus Cabang.

Ketua Umum PERMATA Cabang Purwakarta, Miqdad Amr menyampaikan mengenai Agenda (PROKER) yang akan dilaksanakan di Periode sekarang.

"Kami akan segera memberikan laporan hasil Musker kemarin kepada PB, di karenakan Musker baru saja beres, tinggal penetapan tanggal saja dan kami siap melakukan sebuah perubahan" - ucap Miqdad

Ketua Umum Cabang Bandung, Nofal menanggapi masalah LKDP yang akan dilaksanakan oleh PB.

"Kami harapkan, waktu pelaksanaan LKDP itu tidak bentrok dengan Kegiatan Milad yang sedang di garap oleh Cabang Bandung. Karena Kegiatan Milad ini ada 3 sub Kegiatan selama 3 bulan dan kami akan terus melakukan upaya agar permata terus ada" - ucap Nofal yang kerap di sapa Tum Opay.

Selain itu, PB serta PC yang hadir mengucapkan terima kasih kepada Alumni yang hadir serta dukungan dalam kegiatan ini.

Jumat, 24 Mei 2019

Seni Indah Kehidupan

Wiwi Widyaningsih


Seni merupakan hasil akivitas batin seseorang yang dinyatakan dalam bentuk karya atau juga semua hal yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan dan dapat mempengaruhi perasaan manusia. Eksplorasi seni dengan sepenuh jiwa sangatlah berpengaruh menentukan sebuah karakter seseorang.

Sudarmaji (seniman) pernah mengatakan bahwa seni adalah manifestasi batin dan pengalaman estetis manusia. Sedangkan Immanuel Kant berkata, definisi seni adalah sebuah impian karena rumus-rumus tidak dapat mengihtiarkan kenyataan.

Setiap manusia memiliki karakter tersendiri dalam mengungkapkan sebuah persoalan dalam hidup. Artinya hidup dapat diartikan dalam bentuk karya seni juga. Namun, persoalan seni dalam hidup bisa juga diartikan dengan bagaimana tiap manusia itu beradaptasi bersama lingkungannya.

Mari kita singgung perihal kehidupan, apa itu kehidupan ? “Jangan hidup seperti mati” lantunan kalimat penyadar bagi kita. Apa maknanya ? setiap kepala memiliki pandangan dan pemahaman yang berbeda, tapi disini saya bahas sedikit isi kepala saya. Semoga ada yang hampir sama ya, walaupun jalan hidup kita tak sama. Hehe…

Kehidupan, satu kata sejuta arti. Iya, karena setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda disetiap nafasnya. Yang jadi pertanyaan disini sebenarnya mudah, seberapa besar kita menggores seni dalam hidup ? apa yang kita lakukan di kehidupan sudah menjadi seni indah yang siap disejarahkan atau ditinggalkan ? seberapa jauh kita memaknai kehidupan hingga bermanfaat untuk orang lain ?

Korelasikan antara seni, keindahan serta kehidupan. Saya akui makna hidup sejatinya memang memiliki sifat yang unik, pribadi, temporer, spesifik dan nyata. Tapi perlu ditanamkan juga bagi setiap individu bahwa dalam hidup dapat memberi pedoman serta arah tujuan terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Supaya apa ? supaya generasi pembaharu tidak terlena dengan individualistisnya, supaya para milenial tetap berpegang teguh pada ajaran adab menghargai, memahami, peduli dan berujung bermanfaat untuk masyarakat dalam bentuk apapun. Bebas. 

Sumber untuk menggores seni indah penuh makna dalam hidup sebenarnya berasal dari nilai. Nilai apa yang dimaksud ? 

Yang pertama, Creative Values atau nilai-nilai kreatif. Dari nilai kreatif mari sadar diri dengan what we give to life ? iya, mari melihat apa yang diberikan dalam kehidupan ini.
Yang kedua, Experiental Values atau nilai-nilai penghayatan. Imbangi kesadaran dengan what we take form the world ?  apa yang dapat kita ambil dari dunia ini ?.

Dan yang terakhir, Attitudinal Values atau nilai-nilai bersikap. Seberapa jauh kita dalam the attitude we take toward unavoidable suffering (sikap yang diambil untuk tetap bertahan terhadap penderitaan yang tak dapat dihindari). Dari ketiga nilai tersebut, mari kita berkontemplasi.
Jangan sia-sia untuk hidup, jangan hidup yang sia-sia. Mungkin begitu kalimat penutup tulisanku kali ini.

Semoga kita tetap memiliki semangat yang membara dan bergelora lebih dari semangatnya nonton Timnas di stadion Gelora Bung Karno atau nonton Persib di stadion Gelora Bandung Lautan Api. Hehe.. Salam Budaya, Salam Indonesia !~

Oleh : Wiwi Widyaningsih
Ketua Biro Sosial dan Budaya PB PERMATA

Musyawarah Kerja dan Upgrading PERMATA Cabang Purwakarta


PURWAKARTA - Pengurus Cabang Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PC PERMATA) Cabang Purwakarta Menggelar Musyawarah Kerja Pengurus Cabang Periode 2019-2020 yang dilaksana pada hari Selasa, 21 Mei 2019 yang bertempat di Jl. Kolonel Rahmat, Tegal Munjul (Rumah Kader)

Menurut Ketua PERMATA Cabang Purwakarta, Miqdad Amr. Kegiatan ini bertujuan, supaya adanya arah gerak PERMATA Cabang Purwakarta dalam kepengurusan Periode 2019-2020.

"Kami melaksanakan Musyawarah Kerja ini, pertama agar sesuai dengan AD/ART, dan adanya pondasi, arah gerak PERMATA Cabang Purwakarta yang terencana dan berdasarkan Musyawarah Mupakat." - ucap Miqdad kepada awak media.








Kegiatan ini juga di hadiri oleh seluruh Pengurus Cabang serta kader PERMATA Cabang Purwakarta.

"Tak hanya Pengurus yang hadir di kegiatan ini, ada juga Kader yang ikut dalam kegiatan tersebut" -pungkasnya.

Setelah selesainya Kegiatan di lanjutkan dengan Upgrading Pengurus Periode 2019-20120 serta Buka Puasa Bersama.

Kamis, 23 Mei 2019

Budaya Ngopi

Foto Oleh Google

Budaya ngopi, ada yang merasa asing dengan kata ngopi ? dan apa itu ngopi ? Ngopi sendiri merupakan istilah yang biasa digunakan oleh sebagian warga Indonesia saat sedang santai sambil menyeduh secangkir kopi. Bagi penikmat kopi, kopi sendiri sudah menjadi bagian dari hidup. Tanpa “ngopi” sehari, pasti merasa ada yang kurang.

Semakin lama, budaya ngopi identik dengan kumpul bersama teman-teman / golongan / kelompoknya masing-masing sambil berbincang tentang berbagai hal dengan suguhan sedikit cemilan dan air minum yang menemani bukan berupa kopi, ada yang berupa aqua, ada yang berupa susu, ada yang berupa fanta, teh pucuk, ataupun minuman lain yang bukan berupa kopi tapi tetap disebut sedang “ngopi”.

Budaya ‘ngopi‘ di Indonesia sudah berusia lebih dari seabad, menjadi tradisi yang melebur dengan budaya lokal. Sebagai budaya yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat, dilihat dari tujuan mereka ngopi itu berbeda beda, ada yang ngopi diisi dengan berbincang tentang masa depan (ngopi=ngobrol pikhareupeun), ada yang diisi dengan berbincang dan berdiskusi tentang berbagai ide dan pemikiran-pemikiran yang keren sambil memikirkan nasib bangsa ya walaupun tak kunjung selesai (ngopi=ngobrol perihal ide), ada yang tujuan ngopi untuk mengerjakan tugas-tugas bersama kelompoknya, ada pula yang ngopi hanya untuk sekedar melepas kejenuhan dan mengisi waktu kosong berbincang mengenai hal yang kurang penting, ada yang ngopi hanya untuk mencari wifi karena ingin main game yang sedang tenar, ngopi dengan tujuan ingin nonton youtube, buka instagram sampai live instagramnya,  bahkan ada yang ngopi hanya untuk mengisi waktu kesepian karena jomblo di tinggal sang kekasih, dan banyak lagi tujuan mereka-mereka yang sering “ngopi” itu.








Kegiatan ngopi  di seluruh kalangan dan biasa ditemui di kalangan mahasiswa ini tentunya mempunyai dampak positif, seperti mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan, kegiatan ngopi juga dapat diisi dengan kegiatan untuk berdiskusi buku, kajian ilmiah bersama teman-teman yang mempuni, membicarakan perkembangan organisasi,  berbagi banyak hal mengenai wirausaha juga cara meraih kesuksessan, dan ngopi juga dapat dijadikan media untuk bertukar ide dan memperoleh info-info paling hangat, dan dapat menyegarkan pikiran sambil bersantai jika telah lelah bekerja.

Akan tetapi, “ngopi” juga tentunya mempunyai dampak lain. Banyak kalangan masyarakat yang “ngopi” hanya karena terinspirasi dari film Filosofi Kopi yang sukses menarik banyak penonton di bioskop, kebanyakan mereka yang “ngopi” sekedar ingin terlihat keren, mengikuti perkembangan zaman, dan memperlihatkan gaya hidup yang baru dan sama seperti yang lain. Esensi dari “ngopi” ini perlahan memudar seiring dengan menurunnya intensitas diskusi di warung kopi. Bila dikerucutkan di kalangan mahasiswa, contoh yang ditemui seperti mengakibatkan semakin terlena dengan kehedonan, menyebabkan lupa terhadap fungsi dan kewajibannya, bahkan sampai mendadak amnesia tentang fungsi dan tujuan mahasiswa. Akibat dari keseringan “ngopi” juga  menimbulkan keseringan bergadang yang berujung pada insomnia. Dari keseringan bergadang tersebut juga membuat mahasiswa selalu bangun siang dan tidak menjalankan kewajiban shalat untuk yang muslim, belum lagi dengan jadwal kuliah pagi yang ujungnya telat dan akhirnya “ngopi” di kantin kampus karena kesiangan. Disamping itu mengkonsumsi kopi berlebihan dapat menyebabkan penyakit lambung. Entah sampai kapan budaya ngopi seperti ini akan terus berjalan. Bagiku tetap saja, “ngopi” itu menyeduh kopi hitam atau kopi coklat lalu meminumnya agar benar-benar sedang “ngopi”

Oleh : Wiwi Widyaningsih
Ketua Biro Sosial Budaya PB PERMATA

Ditulis : Bandung, 23 Juli 2018
18.10 WIB

The Power of Make Up, Jelajah Paradigma Melalui Tata Rias Kecantikan

Foto Oleh Google

Tata rias atau bahasa familiar ‘make up’ sudah menjadi suatu kewajiban yang harus diadakan setiap saat oleh kaum perempuan. Tak jarang laki-laki pun yang menggunakan make up dalam moment tertentu. Tujuannya untuk terlihat lebih menarik dan memperbaiki penampilan yang terlihat usang. Tata rias pada dasarnya merupakan seni menciptakan keindahan fisik. Yang termasuk di dalamnya adalah wajah, rambut, kulit, dan kuku. Seni di bidang ini tidak memiliki tanggal mulai pasti yang jelas atau negara asal. Sejak zaman Mesir kuno atau Cina kuno, karya kosmetik dan mereka yang ditemukan di seluruh dunia.

Di mesir kuno make up merupakan keharusan di setiap harinya untuk menggunakan semacam wig, parfum, eyeliners, lipstik karena bagian dari kerajaan bahkan semi-kerajaan. Hampir sama dengan Cina kuno yang juga menganggap make up sangat penting di kalangan bangsawan karena merupakan tanda kekayaan dan kemakmuran. Seiring berjalannya waktu, dan kita beralih tempat. Di Indonesia menggunakan make up adalah wajib bagi setiap kalangan, digunakan setiap hari karena tak ingin terlihat jelek dengan tampak aslinya.






Dipakai saat pergi ke undangan pernikahan, pergi ke sekolah atau ke kampus, pergi bekerja, acara ulang tahun teman, acara wisuda, foto studio, saat berwisata, bahkan saat bersantai dirumah pun tidak pernah terlupakan. Kegilaan masyarakat terhadap make up membuat perempuan bila tanpanya seakan mati gaya, tak bernyawa, dan tanpa daya. Make up melahirkan budaya, dimana make up ini merupakan segala-galanya, masyarakat yang tergantung memaksakan dan harus memoles dengan alat ajaib perubah fisik tersebut terkadang sulit untuk memilih antara mementingkan keinginan atau kebutuhan. Di kala belum makan siang dan uang di dompet menipis, mereka lebih memilih tetap tidak makan untuk dapat membeli bedak mahal, di kala harus membayar biaya kuliah, mereka lebih memilih menunggak untuk membeli paket kecantikkan. Celakanya, bisa-bisa ketika ada aksi turun kejalan yang mayoritas kaum perempuan,kalimat orasinya akan menjadi “turunkah harga wardah” bukan “turunkan harga BBM”.

Selain perlahan mengganggu mental pribadi yang kecanduan dan berujung menghalalkan segala cara ini, banyak sisi negatif jika terus-menerus menggunakan make-up bermulai dari gangguan kesehatan, dapat beresiko kanker kulit, masalah pernafasan karena alergi, mengganggu sistem reproduksi karena pemakaian berlebih, kerusakan kulit bahkan depresi karena kandungan kimia tinggi dapat mempengaruhi hormon tubuh.

Bijaklah dalam mengikuti perkembangan zaman, sesuaikan keadaan dan kemampuan. Jangan terbawa hawa nafsu sehingga berakhir dengan kata kelabakan.


Oleh : Wiwi Widyaningsih
Ketua Biro Sosial Budaya PB PERMATA

Purwakarta, 5 Juli 2018
10.00 WIB

Arah Dan Tujuan Pendidikan

Foto Oleh Google

Bagi Yosef Bilyarta Mangunwijaya, yang lebih akrab dipanggil Romo Mangun, suatu sistem pendidikan tidak pernah netral. Pendidikan ditentukan oleh bagaimana citra manusia itu dianut. Sistem pendidikan di Indonesia menurut Romo Mangun sudah dikuasai oleh filsafat pragmatisme yang lebih berisi indokrinasi dan brainwashing secara besar-besaran demi kepentingan politik tertentu,dan bukan mengabdi kepada kemanusiaan.[1] Menurut Comesius, pendidikan yang layak bagi anak didik tidaklah dengan mencekoki berbagai kata-kata, kalimat, dan ide-ide dalam kepala mereka yang diulurkan bersama beragam pengaran, tapi pendidik harus mampu membuka pemahaman mereka terhadap dunia luas sehingga aliran kehidupan bisa jadi mengalir seperti halnya daun, bunga, dan buah yang tumbuh dari kuncup sebuah pohon.[2]







Seiring dengan hal tersebut, prinsip pendidikan anak menjadi total atau integral. Artinya, tidak berat sebelah kognitif intelektualistis melulu ataupun ekstrem romantis belaka, tetapi sungguh mengembangkan bakat, seni, bahasa, budi pekerti, moral, citarasa, religiositas, hidup sosial, dst. Itu berarti, anak didik harus menjadi seorang realis, yakni mengakui kehidupan yang multidimensional, dan tidak sergam. Konsekuensinya, pola pendidikan seharusnya mengakui banyak jalan alternatif dan jawaban beragam atas suatu soal, serta menghormati pola pikir lain (bahkan yang lain dari biasanya). Murid sebaiknya diajak untuk menghayati kebhinekaan yang saling melengkapi demi persaudaraan.[3]

Arah dan tujuan dari pendidikan itu sendiri ialah membebaskan peserta didik dari dokrinisasi dan penyeragaman yang dilakukan oleh pendidik, pendidik di tuntut agar peserta didik ini terbuka pemahaman mereka tentang realitas-realitas yang terjadi di sekitarnya. Agar mereka mampu mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki sesuai dengan realitas yanga ada dilingkungan peserta didik, oleh karena itu pendidik atau pendamping peserta didik tidak boleh mengahalangi peserta didiknya untuk besentuhan dengan realitas yang ada. Sebab dari situlah meraka akan mengambil sebuah pembelajaran sebagai pengalaman untuk pemicu peserta didik dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya sesuai dengan apa yang dibutuhkan disekitarnya.



[1] Agustinus Wisnu Dewantara, Fikosofi Pendidikan Yang Integral dan Humanis Dalam Perspektikf MangunWijaya, JPAK vol 13 Tahun ke-7, April 2015
[2] Nurani Soyomukti, Metode Pendidikan Marxis Sosialis, (AR-RUZZ MEDIA; Yogyakarta, 208) h. 8
[3] Agus Wisnu Dewantara, JPAK vol 13 Tahun ke-7, April 2015 h. 5
Oleh : VI Ableh

Hakikat Pendidikan

Foto Oleh Google
Pendidikan merupakan salah satu kunci yang sangat esensial dalam kehidupan manusia, bagi kehidupan manusia pendidikan merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhui sepanjang hayat, sekolah atau lingkungan pendidikan dianggap sebagai bagian dari total cultural milieu, dimana pendidikan menjadi penggerak dalam kehidupan manusia dan menjadi cerminan dalam sebuah peradaban dalam suatu negara. Dari pendidikan inilah menghasilkan pribadi-pribadi masyrakat yang lebih manusiawi, berdaya guna dan mempunyai pengaruh dalam masyarakat, juga bertanggung jawab kepada kehidupanya sendiri dan orang lain. Pada  dasarnya pendidikan adalah, proses memanusiakan manusia (humanis) dan mengembangkan potensi yang terdapat pada diri manusia, yang memberikan  suatu pengalaman sebagai pembelajaran yang di kembangkan melalui interaksi sosial kepada manusia lainnya.

Manusia merupakan makhluk yang dinamis, dan bercita-cita ingin meraih kehidupan yang sejahtera dan bahagia dalam arti yang luas, baik lahiriah maupun batiniah, duniawi dan ukhruwi. Semakin tinggi cita-cita manusia semakin menuntut kepada peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana mencapai cita-cita tersebut. Pendikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan manusia tidak dapat berkembang sejalan dengan cita-cita untuk maju. Pendidikan bukan saja sebagai usaha pemberi informasi dan pembentukan keterampilan saja, namun di perluas sebagai kebutuhan yang sejalan untuk mewujudkan cita-cita manusia.









Oleh karena itu, sebagai makhluk yang diberikan akal untuk berfikir, pendidikan tertentu akan menjadi jalan bagi manusia dalam upaya maksismalisasi potensi yang diberikan tersebut. Pendidikan akan menjadi landasan manusia dalam bersikap dan bertindak dalam proses hidup bermasyarakat dan berbudaya. Sehingga mampu hidup dalam keseimbangan. Pendidikan bukan hanya dalam konteks sekolah-sekolah formal seperti yang kita kenal selama ini. Namun, pendidikan lebih dari sekedar paham seperti itu. Pendidikan bukan hanya proses transper of knowledge, tetapi pendidikan merupakan sebuah kemampuan manusia untuk mengenal potensi dirinya sendiri dan mampu mengembangkan potesi tersebut, sehingga pada akhirnya manusia dengan kemampuan dan kesadaranya, menjadi manusia yang bebas dan tidak terikat.

Oleh : VI Ableh

Apa Itu Pendidikan?

Foto Oleh Google

Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya  budi pekerti (kekuatan batin, atau karakter) pikiran (intelek), dan tubh anak; dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.

Ada dua istilah yang sering di pergunakan dalam dunia pendidikan, yaitu pedagogi dan pedagoik, Pedagogi berarti “pendidikan” sedangkan pendagoik artinya “ilmu pendidikan”. Pedagoik  atau ilmu pendidikan inilah yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik, istilah ini berasal bahasa yunani yaitu “pedagogia” yaitu pergaulan dengan anak-anak. Dalam perngertian yang sederhana makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan diri baik jasmani maupun rohani sesuai nilai-nilai yang ada di masyarakat dan kebudayaan. Usaha yang dilakukan untuk menamamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskan kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Dengan kata lain pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandang hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pertanyaan tujuan pendidikannya.




Pendidikan adalah suatu lembaga yang mewadahi manusia untuk memngembakangkan potensi, untuk terwujudnya manusia-manusia yang bermoral, religious, dan humanistik. Pendidikan merupakan lembaga pendidik yang didalam terdapat para pendidik (guru) dan unsur-unsur yang memenuhi ketentuan sebagai lembaga pendidikan contohnya ialah sekolah. Bagi penulis pendidikan itu di berikan pada ruang-ruang terkecil hingga terbesar, sebab disitulah manusia dapat mengambil sebuah pembelajaran.

Ruang yang pertama adalah keluarga, keluarga menjadi ruang pertama bagi para murid. Karena di dalam keluwargalah kontruksi sosial itu mulai di bangun, dimana sosialisasi orang tua terhadap anak-anak berpengaruh terhadap pola pikir, tingkah laku, dan kreatifitas anak-anaknya di luar rumah, maka dari itu keluarga menjadi ruang pertama bagi anak-anak untuk mendapatkan sebuah pengetahuan.

Ruang kedua adalah sekolah, tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan ruang kedua bagi anak-anak untuk mendapatkan sebuah pengetahuan. Sekolah merupakan pihak kedua setelah orang tua terhadap sosialisasi serta pembangunan kontruksi sosial, karena di sekolah merupakan pengaruh terbesar terhadap kontruksi sosial. Sebab disinilah anak-anak mengetahui pengetahuan yang baru serta adanya penyeragaman dalam suatu pemahaman. Karenanya perlulah terbangunnya pola komunikasi dari orang tua dan sekolah begitupun sebaliknya, karena adanya suatu komunikasi ini memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk mengembangkan potensi yang sesuai dengan yang mereka miliki.

Ruang ketiga adalah organisasi, karena organisasi ini perlu sebagai wadah para siswa-siswi dalam mengimplementasikan pengetahuan yang mereka miliki, di sekolahpun mereka dapat mengimplentasikan namun ada batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan di sekolah. Dalam organisasi ini pelajar akan belajar akan peran dan funsinya di masyrakat, belajar memanegement masyarakat, dan belajar untuk tampil sebagai pemimpin. Selebihnya akan di dewasakan pemikiran-pemikran para pelajar ketika mereka berbenturan dengan masalah yang terjasi pada realita yang terjadi masyarakat.

Jika ketiga ruang ini terkordinir baik itu orang tua kepada sekolah, sekolah pada oraganisasi dan organisasi kepada orang tua, setidaknya ketiga elemen ini adalah yang paling berpengaruh dalam mengkonstruk masyarakat. Mulailah terbuka ruang-ruang baru bagi para peserta didik untuk berproses dan belajar, ‘freire menuntut bahwa belajar adalah suatu investigasi kenyataan yang dialogis, pendidikan harys menjadi suatu proses yang melibatkan tiga momentum dialektis; investigasi pemikiran tematik’

Oleh karena itu betapa pentingnya makna pendidikan dalam hidup manusia, pendidikan merupakan kebutuhan yang mutlak untuk manusia sebagai usaha mewujudkan  cita-cita. Mari kita rubah makna pendidikan hari ini, dimana pendidikan hanya sebatas formalitas belaka untuk mendapkan selembar kertas (legalitas) semata, lebih dari itu mulai hari pemdidikan merupakan warisan yang tak ternilai berapa banyak yang ilmu yang kita dapatkan hari ini. Sebab itulah dengan pendidikan kita dapat memajukan bangsa dan negeri tercinta ini dengan ilmu yang di wariskan melalui pendidikan.

Oleh: Vl Ableh

Khatmil Qur'an - PERMATA Cabang Bandung



Assalamu'alaikum

Salam mahasiswa!

Manusia merupakan satu-satunya makhluk yg diberikan akal oleh Tuhan agar kita mampu berpikir serta membedakan sesuatu hal yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu kita harus mampu menggunakan anugerah yang telah Tuhan berikan untuk terus berpikir. Salah satu tokoh Filsafat Descartes pernah mengatakan "Aku berpikir, maka aku ada", dan ini menjadi tantangan untuk kita selaku mahasiswa yang 'katanya' adalah kaum pemikir.

Pada dasarnya Mahasiswa tidak hanya memiliki kewajiban mencari ilmu di bangku perkuliahan, masih ada beberapa tugas mahasiswa yang dikerucutkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Akan tetapi kita sering luput terhadap sesuatu hal seharusnya bisa lebih diperhatikan seperti hubungan kita dengan Tuhan, karena terlalu disibukan dengan urusan perkuliahan, organisasi dan urusan lainnya.

Oleh karena itu, Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) Cabang Bandung mengadakan salah satu kegiatan yaitu Khatmil Qur'an yang dilaksanakan pada :

Hari, tanggal : kamis, 23 MEI 2019
Tempat : Sekretariat PERMATA Cabang Bandung

Dengan tujuan sebagai pengingat para kader PERMATA khususnya dan umumnya untuk kita semua agar tidak melupakan status kita sebagai makhluk yang beragama dan tidak menghilangkan peran Tuhan di setiap kegiatan kita.

Semoga kita senantiasa diberi jalan dan kemudahan dalam melakukan aktivitas di organisasi serta dalam terus memperhatikan masyarakat Purwakarta

"yakin dengan PERMATA bergerak untuk Purwakarta"

Bukber Keluarga Besar PERMATA Dan Temu Alumni



PURWAKARTA - Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PB PERMATA) akan menggelar Buka Bersama (BUKBER) serta Temu Alumni, kegiatan ini akan di laksanakan pada Minggu 26, Mei 2019 yang bertempat di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong - Purwakarta.

Menurut Dion selaku Ketua PB PERMATA kegiatan ini bukan hanya untuk Pengurus Besar saja, tapi juga dari berbagai Cabang dan Alumni.

"Kegiatan ini di adakan bukan hanya untuk pengurus saja, tapi juga untuk seluruh Keluarga Besar PERMATA yang terdiri daei seluruh Cabang, serta seluruh jajaran Alumni" - ucap Dion.






Selain itu, Dion juga menyampaikan, tujuan dari kegiatan ini, sesuai dengan slogan yaitu 'Merekat Ukhuwah, Mengembangkan Potensi'.

"Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, seluruh kader bisa lebih solid dan sesuai dengan slogan kita yaitu 'Merekat Ukhuwah, Mengembangkan Potensin' dan silatirahmi bersama dengan jajaran Alumni dari berbagai Cabang dan Angkatan" - pungkasnya.

Di kegiatan ini juga diagendakan akan membicarakan arah gerak PERMATA untuk Purwakarta. Permata harus selalu dirasakan oleh seleluruh elemen Masyarakat Purwakarta.

Rabu, 22 Mei 2019

Kala Aku Bersua Raja Salman





Foto Penulis Budi Hikmah

Teringat ujaran Trump mengenai rencana pemindahan Kantor Kedutaan Besar USA di Tel Apip-Israel-ke Al Quds Palestina, dengan klaim bahwa Al Quds adalah Ibukota Israel, pada 14 Mei mendatang, sebagian masyarakat Indonesia mengadakan aksi unjuk rasa pada hari Jumat ini (11/5) sebagai bentuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah sekaligus kepada saudara-sebangsa yang belum tergugah hatinya terhadap ketidakadilan yang ada di tanah timur tengah itu, dan untuk menegaskan bahwa Al Quds itu adalah Ibukota Palestina, serta menegaskan tentang pentingnya kedaulatan negara tersebut. Aksi yang digagas oleh umat Islam dari berbagai kalangan negeri ini harus ditanggapi dengan bijak. Sebab itu bukanlah atas nama kepentingan golongan semata, tapi tentang prikemanusiaan. Faktanya memang sejatinya dari agama atau golongan lain pun demikian kepeduliannya terhadap Palestina. Satu contoh, pesepakbola dunia, Cristiano Ronaldo sangatlah begitu peduli terhadap konflik di sana. Yang notabene Ia adalah seorang kristiani.

Kemudian dapat dilihat dari segi nasionalisme. Berbicara nasionalisme itu ya berbicara konstitusi negara. Jelas, aksi-aksi Internasional, semisal “Bela Palestina” adalah wujud nasionalisme yang Ideal. Sebab itu merupakan upaya bangsa yang menjunjung tinggi salah satu cita-cita negaranya ikut melaksanakan ketertiban dunia. Ayolah, kita jalankan semuanya sebagaimana mestinya. Ini saatnya kita bergerak-bersama dengan naungan merah-putih, bukan merah-kuning-hijau-biru, ataupun warna lainnya.








Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Ketika kita ini takzim kepada para pahlawan, lebih spesifiknya kepada Sang Proklamator, dan ketika implementasi dari takzim itu adalah melanjutkan cita-cita–perjuangannya, maka jangan lalai-lah dengan komitmen Bung Karno terkait kemerdekaan Palestina, dan untuk berkontribusi kepada dunia.

Adapun semisal terdengar ujaran begini, “Sudahlah, jangan repot-repot mengurusi kedaulatan bangsa lain, NKRI pun belum sepenuhnya berdaulat.”, dengan tendensi menyoalkan polemik perekonomian negeri ini yang masih rendah atau defisit terus, bukanlah berarti peranan penting untuk mencapai cita-cita negara ini terabaikan. Kita bisa tetap berkontribusi khususnya untuk kedaulatan Palestina. Kita bisa bekerjasama dengan negara lain untuk menguatkan dukungan.

Satu peristiwa menarik, tentulah tentang hubungan Indonesia dengan Saudi Arabia, yang jelas sangat luar biasa perekonomiannya. Hanya saja menjadi sebuah pertanyaan, apakah pertemuan Bapak Presiden Jokowi dengan Raja Salman tempo lalu hanya membahas tentang investasi saham sahaja?

Suatu saat nanti, kala Aku yang bersua dengan Raja Salman, jelas Aku akan membahas tuntas tentang upaya pembebasan Palestina dari kebiadaban Zionis. Sebab apalah artinya jika di satu sisi kita meningkatkan perekonomian, tapi di sisi lain kita membiarkan kezaliman antar sesama manusia. Demi apapun, hidup itu bukan cuman soal bagaimana mendapatkan untung, tapi tentang bagaimana dapat memanusiakan-manusia.

Oleh : Budi Hikmah

Demokrasi Politik adalah Mediokrasi


Demokrasi politik yang bertumpu kepada jumlah suara tidak memedulikan kualitas. Demokrasi politik lebih memerlukan pemimpin dengan kecerdasan rata-rata. Dengan kata lain, demokrasi politik adalah mediokrasi (mediocre artinya rata-rata) lebih daripada meritrokasi.

Demokrasi politik yang sebenarnya dapat berkembang jadi ideologi egaliterianisme, tetapi oleh mediokrasi disusutkan jadi semata-mata fanatisme massa yang irasional, kepercayaan pada mitos, dan dukungan berkobar-kobar untuk tokoh kharismatik.







Kita khawatir bahwa dengan demokrasi politik semacam itu umat akan jatuh ke tangan mediokrat, lebih jauh lagi, umat menjadi massa yang irasional.

Dalam mediokrasi orang tidak perlu belajar banyak untuk menjadi pemimpin. Orang hanya harus belajar retorika untuk membujuk, agitasi untuk memanas-manasi hati, dan sedikit pengetahuan sehingga orang lain akan terkesan dengan kecerdasannya.

Demokrasi politik memang tidak memerlukan masyarakat yang dapat menghargai orang yang punya otoritas di bidangnya. Yang diperlukan ialah suara. Sama saja harganya suara seorang buta huruf dengan suara profesor.

Oleh : Fitra Nurachman
Editor : Solahudin

Goresan Mimpi (Part 1)

Ilustrasi

Mimpi adalah pengalaman yang terjadi di alam bawah sadar, yang melibatkan beberapa dari panca indra,termasuk juga pikiran. Kejadian yang terjadi dalam mimpi ada yang di bilang mustahil ada juga hal yang wajar yang biasa di lakukan dalam sehari-hari. Mimpi juga kadang mempengaruhi gerakan tubuh si pemimpi meskipun tanpa di sadari dan hanya sadar ketika ada efeknya. Mimpi jatuh contohnya.

Goresan Mimpi ini di tulis ketika belum bermimpi dan ketika belum tidur. Meskipun waktu sudah menunjukan jam 05.00 pagi. Dimana penulis ingin bercerita mimpi yang dialami dimasa yang sangat kelam melebihi rentang waktu lebih dari 1 tahun yang lalu.

Kantuk memang sedang melanda, di tambah leher dan pundak terasa pegal karna masalah bantal. Namun biasa nya penulis akan merasa lega apabila beban permasalahan sudah tercurahkan, entah itu dengan curhatan, tulisan, atau hanya sekedar teriakan keras (pelampiasa).








Biar tambah penasaran. Penulis akan memberikan prolog yang tidak terlalu ringkas bahkan mungkin tulisan ini akan melampaui beberapa episode, semoga saja tidak bosan untuk di bacanya ya!.

Jika di lihat dari judul, "Goresan Mimpi" ada dua kata disitu. Pertama : Goresa, dan yang Kedua : Mimpi, nanti penulis akan menerangkan kenapa tidak "Indahnya Mimpi" atau "Mimpi Buruk" dan hal lain yang berhubungan dengan mimpi, pokonya nanti penulis akan menceritakannya secara lebih mendalam lagi, mari kupas semuanya secara tajam setajam omongan orang yang bikin sakit hati :D.

Sebelum membaca, alangkah baiknya siapkan segala sesuatunya biar kalau nanti ada keseruan dalam konten, itu tidak nanggu. Seperti : membaca kalimat pertama seru, tapi terganggu dengan rasa haus yang mengharuslan pembaca mengambil dulu air minum. 

So, siapkan dulu semuanya, kopi, cemilan, rokok (yang suka) bahkan siapkan juga gadget yang sudah full batrai. Biar gak mati nanti pas di tengah bacaan :D

Oke, mungkin untuk pembuka segitu dulu cukup :D nanti sambung lagi di Part 2 yang mengandung Detail Prolog dan beberapa peta Konten. 

Terima Kasih :D

Selasa, 21 Mei 2019

Buka Bersama Keluarga Besar PERMATA Dan Temu Alumni - In Memory

Foto Acara Bukber
​PURWAKATA – PB PERMATA adakan buka bersama Keluarga Besar PERMATA Seluruh Indonesia dan Temu Alumni. Terlihat Puluhan kader PERMATA Se-Indonesia bersama alumni membauh menjadi satu di Buangan Cirata (9/5).

Kegiatan yang diselenggarakan sejak pukul 17:30 WIB ini merupakan ajang silaturahim antara anggota, kader dan alumni PERMATA agar tercipta sinergisitas dari lapisan bawah hingga lapisan atas atau sinergisitas vertical dalam membangun PERMATA.







Alumni PERMATA Dedi Junaedi mengatakan, seluruh kader PERMATA harus merasakan dirinya sebagai bagian dari Purwakarta, PERMATA harus dirasakan oleh Purwakarta.

“Saya yakin anak PERMATA mampu mewarnai di kampungnya sendiri dan di Purwakarta,“ ujarnya ditengah kegiatan.

Alumni PERMATA Dadang Suherlan mengatakan PERMATA harus mampu mandiri, dan harus tetap eksis dalam hal sebuah gerakan-gerakan, demi kemajuan PERMATA dan Purwakarta.

“Jangan pernah meragukan PERMATA, Kader yang loyal di organisasi akan menemukan segalanya di organisasi” ungkap Alumni PERMATA Supenda Griana.

Alumni PERMATA Tohir menyampaikan kita harus menyatukan perbedaan, jadikan perbedaan menjadi sebuah berkah, dengan adanya PB PERMATA kita harus bisa bersatu untuk kebaikan PERMATA dan Purwakarta.

Nampak beberapa Mantan Ketua Cabang dan Ketua Cabang dari Seluruh Cabang Se-indonesia.
Ketua umum PB PERMATA , Murdiono mengatakan bahwa kegiatan ini adalah usaha untuk terus merekatkan ukhuwah dengan Alumni PERMATA dan kader PERMATA Se-Indonesia.

“kita akan terus membangun sinergisitas dengan alumni, dan cabang-cabang, hal ini tentu akan berpengaruh pada gerakan PERMATA di Purwakarta ,“ ujarnya. 

Penulis : Biro Pers dan Jurnalistik PB PERMATA

Budaya Sebagai Identitas Bangsa

Purwakarta

Indonesia adalah negeri yang luar biasa, negeri yang kaya akan suku bangsa, bahasa, dan budaya.

Budaya merupakan suatu unsur penting pembentuk identitas suatu kumpulan orang banyak terlebih suatu bangsa. Kepribadian suatu bangsa akan tercermin melalui budayanya. Secara etimologi kebudayaan berasal kata “budaya” semantara dalam buku sanseskerta , kata kebudayaan berasal dari kata “Bodhya” yang berarti akal budi.

Dunia sedang masuk dalam era globalisasi dimana tujuan dari globalisasi adalah menyatukan penduduk dunia menjadi satu masyarakat dunia yang tunggal. Dengan demikian, di era globalisasi ini makin terbukanya sekat–sekat pemisah antar suatu negara terhadap negara lainnya.

Terbukanya arus komunikasi dan informasi yang didukung dengan majunya alat–alat komunikasi yang saat ini sudah mudah didapatkan oleh setiap orang membuat begitu banyak kebudayaan asing masuk ke indonesia dan semakin membuat posisi kebudayaan indonesia tergeser jauh dari idealnya.

Khususnya budaya indonesia banyak di dominasi oleh kebudayaan asing, dalam hal ini budaya barat. Contohnya cara berpakaian khususnya di kalangan anak muda indonesia bahkan makanan yang di konsumsi sehari-hari anak bangsa pun kebanyakan didominasi oleh kebudayaan barat.

Nilai-nilai nasionalpun mulai luntur dan membuat identitas dari bangsa indonesia makin sulit dibaca oleh banyak orang. Jika kita tidak mempertahankan budaya kita maka identitas bangsa kitapun lambat laun akan menjadi pudar bahkan hanya menjadi catatan sejarah saja yang akan dibaca oleh generasi mendatang.

Banyak kalangan anak muda mengikuti budaya–budaya barat dengan banyak alasan seperti ingin terlihat cantik, moderen, dll padahal budaya tersebut sangatlah menyalahi budaya indonesia yang terkenal santun dan sopan dalam berpakaian. Ada beberapa faktor penyebab yang membuat hal ini terjadi di kalangan masyarakat moderen indonesia.







a) Kurangnya kesadaran masyarakat akan nilai-nilai budaya indonesia, dan memilih untuk memilih mengikuti budaya asing yang terkesan lebih modern, up-to-date, dan praktis. Budaya asing memang sangatlah mengikuti perkembangan zaman, tetapi banyak juga budaya indonesia yang dapat dikembangkan dalam koridor norma bangsa indonesia.

b) Pembelajaran budaya di sekolah sangat minim diajarkan. Banyak institusi pendidikan dasar dan menengah yang sudah menganggap bahwa pembelajaran mengenai budaya lokal sudah tidak relevan lagi. Padahal pelajaran ini dapat membangun budaya bangsa serta cara beradaptasi dengan budaya lokal ditengah perkembangan zaman ini.

Lunturnya budaya asli bangsa Indonesia sebagai identitas negara sangat terasa ketika budaya indonesia terkontaminasi dengan budaya barat, sehingga negara ini kehilangan arah dalam mengimbangi kemajuan zaman. 

Lunturnya budaya kecil seperti berpakaian tentu saja membawa dampak yang besar terhadap budaya-budaya lainnya seperti, jika pada zaman dahulu budaya hormat-menghormati sangat terlihat antara orang tua dan anak maupun kakak dan adik, hal itu sudah jarang telihat dikalangan anak muda zaman sekarang.

Orang tua yang tadinya adalah orang yang sangat dihormati oleh anak-anak, zaman sekarang orang tua sudah menjadi sekedar “teman” bagi anak-anak. Budaya peduli terhadap lingkungan, dan budaya mematuhi aturan pemerintah pada zaman dahulu terdapat di anak-anak muda, tetapi zaman sekarang sudah sangat jarang orang-orang yang mencintai lingkungan dan menaati peraturan pemerintah. Lunturnya kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak dalam moral anak bangsa, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan kita. Begitu banyak alam yang tercemar membuat keindahan Indonesia telah berkurang.

Bukan hanya budaya berpakaian, budaya mencintai lingkungan dan menaati peraturan saja banyak yang dilanggar, nilai-nilai keagamaanpun mulai luntur. 

Sangat memprihatinkan melihat bangsa kita saat ini, moral masyarakat sudah sangat jauh dari etika ketimuran bangsa kita. Budaya asli kita yang rapuh dan luntur ini menyebabkan kemelut atau persoalan bangsa kita semakin kompleks.

Mempertahankan budaya indonesia adalah kewajiban bagi seluruh rakyat indonesia. Jangan pernah biarkan globalisasi menggeser keberadaan budaya kita sehingga melunturkan nilai-nilai dan norma-norma bangsa indonesia.

Catatan ; “Tanpa sebuah budaya, idealisme manusia akan hilang.”

Oleh : Indra Nugraha

Cerita Abu Nawas Menipu Komandan Kerajaan

Gambar Ilustrasi
Abu Nawas ini sebenarnya pernah ditangkap dengan tuduhan telah menipu komandan kerajaan.
Apakah Abunawas akan dihukum…
Simak kisahnya yuk. Mari
Kisahnya
Pada suatu pagi hari, Abu nawas muda sedang duduk-duduk bersantai di teras rumahnya.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang komandan dengan beberapa prajuritnya.
Sang Komandan bertanya,
“Wahai anak muda, dimanakah aku bisa menemukan tempat untuk bersenang-senang di daerah sekitar sini?”
“Kalau tidak salah di sebelah sana,” jawab Abu Nawas.
“Dimanakah tempat itu?” tanya salah seorang prajurit dengan sifat yang tidak menghargai.
“Pergilah ke arah sana, lurus tanpa belok-belok, maka kalian akan menjumpai tempat untuk bersenang-senang,” jawab Abu Nawas.
Rombongan tentara kerajaan itu akhirnya pergi juga menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Abu Nawas. Setelah beberapa saat, kagetlah mereka semua karena tempat yang mereka cari tidak ditemukan, kecuali hanya sebuah komplek kuburan yang sangat luas. Dan tentu saja hal ini membuat para tentara berang karena merasa telah ditipu oleh pemuda tersebut.
Mereka pun kembali lagi ke tempat Abu Nawas.
“Wahai anak muda, keluarlah engkau. Kenapa engkau berani sekali membohongi kami?” tanya Sang Komandan yang tidak tahu kalau yang diajak bicara itu sebenarnya adalah Abu Nawas, Si penasehat Kerajaan.
“Siapakah engkau ini? Berani sekali membohogi kami?” tanya salah seorang prajurit.
“Aku adalah ABDI,” jawab Abunawas.
Komandan dan para prajurit merasa geram dan marah
“Prajurit…tangkap dia!!!” seru komandan.
“Engkau akan aku bawa ke Panglima kami,” kata komandan.
Oh, rupanya Abunawas hendak dihadapkan ke panglima kerajaan mereka.
“Wahai Panglima, kami telah menangkap seorang pembohong yang berani membohongi pasukan kerajaan,” kata komandan.
“Alangkah lancangnya si pemuda ini karena sudah berani berbohong,” lanjut komandan.
Panglima bersikap biasa saja, malah dia bahkan memerintahkan kepada prajurit untuk melepaskan borgol yang ada pada tangan Abu Nawas. Komandan dan para prajurit terkejut dan merasa heran, ada apa gerangan ini.
Setelah itu, panglima pun mendekati Abu nawas berkata,
“Tuan Abu, maafkan perbuatan anak buahku di sini ya,” kata panglima itu dengan sangat sopannya.
laki-laki gagah dan tampan itu memang sudah saling mengenal satu sama lain karena mereka seringkali bertemu ketika sang khalifah mengundangnya ke istana.
Komandan Minta Maaf
Betapa terkejutnya sang komandan dan para prajuritnya.
Perasaan sombong dan congkak yang tadi menyelimuti mereka seakan berubah menjadi rasa takut.
“Wahai Tuan Abu..sebenarnya kebohongan apa yang mereka sangkakan kepadamu?” tanya panglima.
“Wahai panglima, mereka memintaku untuk menunjukkan tempat untuk bersenang-senang, tentu saja aku tunjukkan kuburan karena kuburan adalah tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Di sana pula dia akan mendapatkan hidangan yang nikmat dari Allah SWT, terbebas dari rasa fitnah dan kejahatan manusia dan makhluk lainnya,” jawab Abunawas dengan tenangnya.
Mendengar jawaban pemuda itu, segera saja komandan mendekati Abu Nawas dan berkata,
“Maafkan hamba, Tuanku Abu?”
“Andai saja aku mengetahui bahwa tuan adalah Tuan Abu, tentu kami tidak akan berani membawa Tuan ke hadapan Panglima,” kata komandan lagi.
“Wahai komandan…apakah aku telah membohongi kalian? Bukankah aku berkata benar? Aku adalah ABDI, dan setiap orang adalah Abdi Allah SWT, termasuk kalian semuanya,” kata Abu Nawas.
“Anda benar Tuanku..,” jawab komandan.
Komandan dan prajurit yang telah menangkap Abu Nawas merasa malu jadinya.

PERMATA Cabang Cirebon

Foto Buka Puasa Bersama

Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (PERMATA) Cabang Cirebon merupakan salah satu organ Primordial yang belum lama hadir di dunia mahasiswa. 

Tepat pada tanggal 28 Desember 2017 PERMATA Cabang Cirebon melaksanakan Musyawarah Cabang (MUSCAB) yang pertama kali dan dihadiri oleh jajaran Pengurus Besar Permata, hingga terpilih seorang ketua bernama Irfan Aufa.

Namun di tengah perjalanan, dalam meniti karir menjadi sebuah Organisasi yang kuat dan kokoh, memang masih belum menghasilkan sesuatu yang maksimal, akan tetapi rasa konsistensi dalam berproses dan kualitas sumberdaya manusia selalu ditekankan untuk terus aktif terutama dalam hal kaderisasi.

Dengan semangat dan konsistennya PERMATA Cabang Cirebon tetap pada satu pendirian bahwa PERMATA harus tetap jaya. Maka, kerja-kerja organisasi harus lebih produktif, terutama dalam pemupukan rasa harmonis dan pengetahuan para kader yang ada dalam organisasi. 

Hubungan antara kader satu sama lain nya harus menyatu, Walau pepatah mengatakan "rasa tak bisa di paksa". Tapi bagi kami rasa bisa di usahakan tentu nya dengan banyak nya pertemuan yang membuat kita saling berdialog, diskusi tentang apapun itu yang terpenting ada sebuah forum pertemuan. 

Tidak terkecuali di momentum Ramadhan kali ini, Alhamdulillah upaya tersebut senantiasa kami lakukan dengan di bungkus buka bersama (bukber) dan diskusi membicarakan arah gerak Permata Cabang Cirebon kedepan, di salah satu warung coffe yang ada di Cirebon (kantin Cirebon). Tentunya dengan harapan PERMATA Cabang Cirebon semakin jaya, militansi kader nya mulai tumbuh serta peran PERMATA sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan bisa muncul di permukaan dengan membawa manfaat yang baik untuk negeri ini khususnya untuk Purwakarta.

Oleh : Yasir Sutisna
Editor : Solahudin